|
Bang Maja Pergi
Oleh:
Elwin FL
Tobing
.
Bang Maja sudah pernah bertugas di Aceh
ketika wilayah itu dilanda sengketa. Satu tahun Bang Maja berhadapan dengan
rentetan peluru lawan dan bertarung melawan ganasnya alam. Bang Maja begitu
perkasa. Selama satu tahun berperang di Aceh, dia tidak pernah terkena peluru
musuh. Padahal menurut cerita Bang Maja, ada sekitar tiga puluh orang dari
peletonnya yang gugur saat mengemban tugas negara.
Pernah, kisah Bang Maja, seorang temannya
yang sedang menyeduh kopi ditembak musuh dan terkapar persis di depannya. Padahal
waktu itu Bang Maja sama terbuka posisinya dengan kawannnya yang tertembak itu.
Belum lagi anggota regunya yang terjebak saat sedang mandi di sungai. Ketika
sedang asyik berendam, sungi itu dihujani tembakan. Sekejap kemudian warna
merah mencemari air yang tadinya bening dan mengalir tenang. Beruntung Bas Maja
waktu itu merasa tidak enak badan dan menunggu temannya di balik sebuah pohon.
Keberuntungan-keberuntungan seperti itulah yang selalu menyertai perjalanan Bang
Maja selama di Aceh.
Pengalaman tempur Bang Maja sangat beragam
dan heroik. Sri sangat bangga dengan ketangguhan kekasihnya itu. Sri juga
terkesan dengan kesetiaan cinta Bang Maja. Selama di Aceh, Bang Maja tak pernah
absen berkirim kabar.. Sri tersanjung dengan perhatian prajurit yang satu itu. Dan
Sri bertekad membalas perhatian itu dengan kesetiaan dalam penantian. Walau
hatinya kerap dilanda kecemasan kalau tiba-tiba datang harinya Bang Maja gugur
di medan tugas.
Tapi Sri berusaha tabah dan memperbanyak doa untuk keselamatan kekasih
tersayang.
Banyak tetangga dan kerabat mencoba menjodohkan Sri dengan laki-laki
terbaik yang sanggup mereka dapatkan. Ada PNS, polisi juga karyawan perkebunan
yang sudah lumayan mapan. Tapi bayangan Bang Maja yang berlarian di hutan
sambil berusaha menghindari terjangan peluru senantiasa memberkaskan keharuan
di hati Sri. Sri dapat merasakan tekad Bang Maja untuk terus hidup demi
cintanya pada Sri. Ah, betapa Sri ingin ada disana. Seperti kisah-kisah di jaman
perang kemerdekaan dulu, Sri berada di garis belakang memberi Bang Maja minum
dan makan setelah lelah berkejaran dengan maut.
“Sebulan lagi mungkin Abang sudah
bisa pulang. Sabar ya, Sayang,” kabar Bang Maja dalam salah satu SMS-nya. Dan Sri
mensyukurinya. Walau mimpi buruk masih sering hadir menciutkan nyalinya, tapi
di alam nyata Bang Maja ternyata masih hidup. Terbukti dari SMS dan telepon
yang rajin dia sambungkan.
Hati Sri bersorak ketika Bang Maja
benar-benar pulang ke Siantar. Bang Maja…laki-laki itu tampak semakin gagah.
Walau kulitnya kian mengelam karena banyak berkeliaran di alam bebas, tapi
pesona kejantanannya benar-benar menghayutkan hati Sri. Bang Maja sangat kokoh
dalam balutan seragam militernya. Lama Sri lebur dalam dekapan pemuda perkasa itu.
“Abang mau berangkat lagi, Dek,”
kata Bang Maja tak lama berselang.
“Kemana lagi, Bang. Kan abang baru saja tiga
bulan pulang dari Aceh,” sorot mata Sri jelas menggambarkan ketidakrelaannya
berpisah lagi dengan kekasihnya.
“Abang harus ke Papua…” ucap Bang Maja
lemah. Tampak dia juga tidak ingin berpisah dengan Sri.
“Papua…? Jauh kali bang?” Sentak Sri
ketakutan.
“Begitulah prajurit seperti abang, Dek.
Kemana perintah komandan, Abang harus ikut. Tak perduli seandainyapun baru satu
jam pulang dari daerah komflik lain,” suara Bang Maja terdengar tabah walau kesedihan
samar membungkus getarnya.
“Sekembalinya dari sana Abang akan melamar Adek,” janji Bang Maja
sambill mencium lembut bibir Sri.
“Kalau abang masih hidup,” Sekelebat Sri terbayang
panah-panah raksasa yang dilihatnya di televisi. Panah menyeramkan yang dipakai
orang-orang Papua yang lagi bersengketa. Mengerikan sekali kalau sampai anak panah yang tajam itu
menancap di dada Bang Maja. Cepat-cepat Sri menghalau bayangan buruk itu dengan
menggelengkan kepalanya.
“Abang akan pulang. Abang akan
menjaga diri baik-baik, dan segera pulang untuk melamar Adek,” ulang Mas Maja akan
janjinya. Sedetik kegentaran merayap di wajah itu. Dia tahu pasti, sebaik-baiknya menjaga diri,
kalau hari apes itu tiba maka jemputan maut tak akan sanggup dihindarkan.
Sebagai prajurit, hidupnya benar-benar hanya sepersekian milli saja dari maut.
Jangankan dalam perang. Saat latihan pun banyak tentara seperti dirinya yang
tewas.
Sri tak punya pilihan lain. Dua hari
kemudian dia melepas Bang Maja berangkat ke Papua. Hatinya sedikit tenang
mengingat konflik di Papua tidak sebesar Aceh. Sri melihat berita tentang
kemelut di Papua jarang terlihat di televisi. Hanya pertikaian antar kampung
yang sempat memanas. Hati Sri gentar saat orang-orang Papua yang menenteng
pedang dan panah besar tak hentinya seperti menari-nari walau saat itu mereka
sedang saling serang. Orang-orang ini benar-benar tak takut bahaya, pikir Sri,
sambil berharap semoga Bang Maja berada jauh dari lokasi kerusuhan itu.
“Kami ditugaskan menangani OPM, Dek.” Sri teringat ucapan Bang Maja
sebelum berangkat ke Papua. Menueurt Mas Maja, OPM itu hampir sama dengan GAM,
hanya saja skalanya lebih kecil. Tapi bagaimanapun kecilnya, kalau sudah
mengikutsertakan senjata,, jelas mengkhawatirkan. Mudah-mudahan Papua cepat
pulih dan Bang Maja-nya pun bisa cepat pulang.
Harapan Sri terkabul. Bang Maja
hanya enam bulan di Papua. Bang Maja mengabarkan kalau minggu depan dia sudah
pulang kembali ke Siantar. Dada Sri berdebar-debar. Rindu yang menggumpal di
dada serupa air pasang yang tertiup angin kencang, bergelora dan
membuncah-buncah.
Wajah Bang Maja sedikit pucat ketika
tiba di Siantar.
“Abang memang kurang enak badan
selama tiga hari ini. Tapi tidak usah dicemaskan, paling masuk angin biasa.
Demam-demam sedikit, biasalah,” Bang Maja menenangkan Sri yang menatapnya
cemas.
“Abang sudah berobat?” Sri masih
cemas.
“Minum air hangat banyak-banyak juga
sembuh kok. Untuk apa diobati? Sudahlah, obat segala penyakit Abang adalah Adek.
Abang tidak merasa sakit apa-apa lagi sejak melihat wajah Adek yang semakin
cantik,” senyum Bang Maja berkilat nakal menggoda. Sri tersipu malu. Tak sabar
rasanya dia menunggu saat berduaan dengan Bang Maja.
Sore harinya Bang Maja menjemput Sri
ke rumahnya. Bang Maja kelihatan sudah segar kembali. Dengan akrab dan riang
dia berbincang dengan ayah Sri. Kedua orang itu memang punya satu kesamaan:
penggila bola! Kalau sudah bertemu mereka tahan membahas bola hingga ber
jam-jam. Itu sebabnya ayah Sri cepat akrab dengan Bang Maja. Ayah Sri merasa
punya kawan menonton bola. Sebab selama ini, dari dua putra dan empat putrinya
tak satupun yang menyukai bola. Kehadiran Bang Maja membuat ayah Sri menemukan
sekutu untuk menghadapi gerombolan penggemar sinetron di rumah mereka.
Setelah berpamitan pada ayah dan ibu
Sri, kedua insan yang sudah payah menahan desakan rindu itu berboncengan mengitari
kota Siantar
yang semakin meriah di waktu malam. Lampu-lampu jalan semakin banyak disebarkan.
Semarak kota
dipadati deruman sepeda motor anak-anak muda. Sri memeluk pinggang Bang Maja
sedemikian erat. Kepalanya dipasrahkannya ke punggung kokoh Bang Maja. Pemuda
itu tersenyum sambill menahan gempuran di dadanya. Lembutnya tubuh Sri yang
melekat di punggungnya membuat Bang Maja susah payah menahan napas. Hm, kenapa
tidak segera dilamarnya saja gadis jelita itu. biar dia bisa memilikinya
seutuhnya.
“Abang serius?” bola mata Sri
mengerjap indah. Bang Maja mengangguk. Dadanya semakin tak terkendali membayangkan
malam pengantinnya bersama Sri. Betapa beruntung dirinya memiliki calon istri
secantik dan selembut gadis ini.
Tapi malam pengantin yang diimpiimpikan
itu harus tertunda. Seminggu sejak pertemuan pertama mereka Bang Maja masuk
rumah sakit. Dia kena demam berdarah. Trobositnya turun hingga ke level yang
sangat mengkhawatirkan. Sri menunggui dengan cemas. Tubuh kekar Bang Maja
terlihat kehilangan daya.
“Abangmu pasti sembuh. Dia prajurit
terlatih yang memiliki ketahanan tubuh luar biasa,” ayah Sri menepuk pundak
putrinya yang mulai menangis. “Dia selamat setelah setahun berperang di Aceh.
Makan seadanya dan tidur di hutan liar. Panas kepanasan, hujan kehujanan. Dia
juga sudah lolos di papua. Bukankah hal itu sudah cukup meyakinkanmu?.
Tenanglah, dia pasti sembuh, segera1”
Sri berusaha tersenyum sambil
menghapus air mata yang sudah sempat menitik.
Tapi perhitungan manusia memang tak
bisa diandalkan. Keperkaaan Bang Maja di Aceh dan Papua menghadapi serbuan
senjata musuh berbeda dengan serangan mahluk kecil yang satu ini; nyamuk demam
berdarah. Sebuah kekuatan lain yang jauh berbeda dari kekuatan musuh berbentuk
manusia dengan senapan di tangannya. Kondisi tubuh Bang Maja semakin lemah.
“Bang Maja sudah pergi, Sri,” serak
suara ayahnya. Sri hanya bisa menangis pedih. Dia sudah tahu itu. Sri ada di
rumah sakit ketika dokter pengabarkan berita duka yang sama sekali tak ingin Sri
dengar itu. Ayah mengatakannya lagi seolah hanya untuk meluapkan kebingungan
dan gelora duka yang menggumpal di dadanya.
Rintik gerimis mengiringi pemakaman
Bang Maja. Tak sengaja Sri melihat seekor nyamuk yang hinggap di sepucuk
ilalang liar.
Tiba-tiba Sri histeris.
“Pergi kau pembunuh! Pergi..pergi…”
Sri menjerit-jerit dan memukuli nyamuk itu dengan kedua tangannya. Nyamuk itu
lincah berkelit dan terbang menjauh. Sri mengejarnya, tak peduli ranting
pepohonan dan belukar yang membuat langkahnya tersandung-sandung.
“Pergi kau pembunuh. Pergiiiii….”
Beberapa orang segera mengejar Sri
dan berusaha menenangkannya. Mereka yang melihatnya tak kuasa menahan
kepedihan. Air mata pun tumpah besama titik gerimis yang semakin rapat.
~dimuat
di harian analisa medan, 9april’2008