Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita anak. Tampilkan semua postingan

Rista Di Kebun Buah



Rista Di Kebun Buah
Oleh: Elwin FL Tobing

            Rista menyambut tibanya libur sekolah dengan hati gembira. Dengan cepat dia menyongsong ayah begitu tiba dari kantor sore harinya.
            “Kita jadi berlibur ke desa kakek kan, Yah?” sambut Rista pada ayah yang baru sampai di pintu pagar rumah. Ayah pura-pura terkejut, “Berlibur ke desa? kapan?”
            “Ih! Ayah kok lupa sih? Kan ayah sudah janji liburan ke desa. Ayah cerita di desa banyak buah-buahan. Nanti Rista bisa makan buah sepuasnya. Masa ayah lupa sih?” kata Rista berusaha mengembalikan ingatan ayah. Perasaan ayah belum tua deh! Kok sudah gampang lupa sih?
            “Gimana Yah. Jadi kan?” desak Rista mengikuti ayah ke ruang tengah. Rista sigap menaruh sepatu ayah ke rak sepatu. Tak lupa Rista menghidangkan segelas air putih dari kulkas. Mudah-mudahan setelah minum ingatan ayah pulih kembali, harap hati Rista. Rugi dong kalau sampai batal liburan ke desa kakek. Sejak lama Rista sudah membayangkan nikmatnya memakan buah-buahan dari kebun kakek. Rambutan, duku, pepaya, jambu air, terong belanda…terong belanda? Rista kan paling suka jus terong belanda. Rasanya asem-asem manis gitu. Nyam..sedapnya mereguk jus terong belanda sambil menemani nenek menjaga jemuran padi dari incaran ayam nanti.
            Setelah minum air yang dibawa Rista, ayah bersandar di sofa. Sepertinya ayah cukup lelah hari ini. Mata ayah terpejam seperti mengantuk. Rista jadi cemas. Bagaimana dong liburannya. Rista beranjak ke belakang ayah. Dia memijit-mijit pundak ayah.
            “Ayah sudah ingat kan janjinya?” Tanya Rista pelan.
            “Janji apa?” Tanya ayah sambil tersenyum.
            “Ih ayah! Udah disimpanin sepatunya, dikasih minum, dipijitin.pundaknya,.masa nggak ingat juga janji untuk liburan ke desa?” sentak Rista. Bibirnya manyun. Wajahnya menekuk.
            “Oh iya iya, ayah ingat!” seru ayah tiba-tiba. Sebenarnya ayah ingat kok sama janjinya. Ayah hanya pura-pura lupa untuk menggoda Rista. Ayah memang suka bercanda. Dan Rista seringkali jadi sasaran candaan ayah. Habis wajah Rista jadi menggemaskan kalau sedang cemberut. Pipinya yang tembem nampak lucu kalau merengut. Dan ayah sangat suka melihatnya hi hi hi..! Dasar ayah tukang bercanda.
            Keesokan harinya, ayah, ibu dan Rista berangkat ke desa Sitarealaman, tempat tinggal kakek dan nenek. Mereka naik bus Medan Raya Tour. Hawa yang segar dan dingin menyambut kedatangan Rista. Hati Rista semakin riang begitu melihat pohon buah-buahan di samping rumah kakek tengah berbuah lebat. Air liur Rista sampai menetes.
            “Kek, Rista ambil buah ya!” pinta Rista tak sabar lagi. Terong belanda yang sudah masak dan bergelantungan di ranting seolah memanggil-manggilnya.
            “Besok saja ya sayang. Sekarang kita istirahat dulu. Kan capek naik bus tujuh jam dari Medan kemari.” Kata ibu. Kakek mendukung pendapat ibu.
            “Benar cucu kakek yang cantik. Besok saja ambil buah sepuasnya. Sekarang duduk dulu melepas lelah. Kalau terlalu capek nanti malah sakit.”
            Dengan berat hati, Rista menuruti saran itu. Dia berharap hari cepat berlalu.
            Keesokan harinya, Rista mengajak sepupunya yang bernama Glori mengambil buah. Rista begitu bersemangat menjolok buah terong belanda yang sudah masak.
            “Ambil Glo..!” teriak Rista ketika terong belanda yang dijoloknya terlempar ke semak-semak. Glori malas-malasan mengambil buah itu.
            “Buah ini nggak enak, Ris. Kita beli ciki aja yuk,” kata Glori. Rista jadi heran, “Lho! Ini buah yang paling aku suka. Nanti kita jus, biar tambah sedap,” ucap Rista sambil terus menjolok buah masak yang masib banyak bergelantungan di ranting.
            “Aku nggak suka buah-buahan, Ris. Aku lebih suka ciki, coklat sama permen,” sahut Glori lagi. Glori tetap tidak bersemangat menemani Rista mengambil buah. Rista jadi sedih. Semangatnya jadi ikut-ikutan menurun. Sore harinya Rista mengadukan hal itu pada tante Kristin, adik bungsu ayah, yang tinggal sama kakek dan nenek di desa.
            “Begitulah kalau sudah dipengaruhi iklan di tipi, Ris,” kata tante Kristin, “Glori dan kawan-kawannya yang lain memang tidak suka lagi makan buah-buahan. Makanya buah-buahan di samping rumah ini banyak yang berjatuhan busuk karena tidak ada yang memakannya. Anak-anak disini lebih suka makan aneka jenis makanan ringan yang diiklankan di tipi. Padahal makan buah-buahan segar jauh lebih bermanfaat dari makanan ringan olahan pabrik.”
            Rista mengangguk-angguk mendengar penjelasan tante Kristin. Duh, sayang sekali. Padahal di kota, orang harus mengeluarkan sejumlah uang untuk membeli buah. Tapi didsa ini, Tuhan menganugrahkan buah-buahan secara gratis. Tapi karena kurang mengerti khasiatnya, buah-buahan itu jadi sia-sia.
            Rista berusaha menyadarkan Glori dan anak-anak desa yang lain akan pentingnya buah-buahan. Banyak vitamin, protein dan zat-zat yang sangat dibutuhkan tubuh terkandung di dalam buah-buahan. Rista membuat jus terong belanda dan membagikan pada Glori dan dawan-kawannya yang lain. Besoknya Rista mengajak mereka membuat rujak. Bumbu rujak yang disiapkan ibu membuat mereka lahap.
            “Enak ya,” desis Glori tak berhenti mengunyah.
            “Iya! Lebih enak dari ciki dan permen.” Sambung anak yang lain.
            Rista tersenyum senang. Teman-temannya di desa itu sudah kembali menyukai buah-buahan. Sejak itu, Rista menghabiskan sisa liburannya di desa untuk memanen buah. Glori dan kawan-kawannya ikut menemani dengan penuh semangat. Mereka mengajari Rista memanjat pohon jambu. Tapi karena sama sekali belum pernah, Rista sering tergelincir. Dan tawa mereka pecah dengan riangnya. Aduhai! Senangnya liburan di desa.


Pengibar Bendera Merah Putih



Pengibar Bendera Merah Putih
Oleh: Elwin FL Tobing

            Adis kapok jadi pengibar bendera merah putih di sekolah. Dia tidak ingin kejadian memalukan tiga bulan yang lalu terulang lagi padanya. Peristiwa itu masih saja membayangi Adis hingga hari ini.
Begini ceritanya! Waktu itu Adis bersama Daud dan Diskil jadi petugas pengibar bendera pada upacara Senin pagi. Sejak melangkah dari barisan, Adis sebenarnya sudah merasa tidak enak. Gerak kaki mereka tidak serentak. Saat berbelok hendak menghadap tiang bendera, Daud malah ketinggalan dua langkah. Murid-murid yang mengikuti upacara terdengar menahan tawa. Pak Mulia dan Bu Dina yang berdiri di barisan guru juga terlihat mengulum senyum geli.
Daud juga sih! Dia tidak pernah serius waktu latihan. Kerjanya bercanda saja. Daud juga malas berlatih. Dia menganggap remeh tugas mengibarkan bendera.
“Alah..cuma tinggal diikat, digerek ke atas, apa susahnya sih?” kata Daud enteng ketika Adis dan Diskil mengajaknya untuk serius berlatih.
Akibatnya ketika tiba hari upacara bendera, barisan dan langkah Adis, Diskil dan Daud jadi tidak kompak. Hingga mengundang tertawaan peserta upacara. Yang paling parah adalah ketika Adis meneriakkan “Bendera Siap!” eh, rupanya Daud terbalik mengikat bendera. Warna putih berada di atas sementara warna merah ada di bawah. Seluruh barisan upacara heboh oleh gelak tawa. Adis malu sekali sampai hampir menangis. Dengan cepat Diskil memperbaiki ikatan bendera itu dan menaikkannya ke ujung tiang.
Sejak itu mereka bertiga selalu diejek oleh kawan-kawan.
“Makanya kalau masih ngantuk jangan mengibarkan bendera dong,” ledek Pipit, yang disambut tawa riuh anak-anak yang lain.
Itulah sebabnya Adis bertekad dalam hati untuk tidak pernah mau lagi jadi pengibar bendera. Dan Adis membuktikan tekadnya. Dia tegas-tegas menolak ketika tadi pagi Latifah, ketua kelasnya di kelas 6 A menunjuknya untuk kembali manjadi pengibar bendera.
“Bu Dina yang menyuruh lho, Dis,” kata Latifah.
“Kan masih banyak orang lain, Fah! Kenapa sih harus aku?” jawab Adis.
“Yang lain sudah dapat giliran semua. Makanya Bu Dina menugaskan kamu sama Daud dan Diskil,”
“HaH?? Daud lagi?” sentak Adis panik. “Tidak Fah, aku tidak mau. Lebih baik aku keluar dari sekolah ini dari pada disuruh mengibarkan bendera bersama Daud,” tolak Adis tegas sambil berlalu meninggalkan Latifah di kelas.
Pulang sekolah, Diskil dan Daud sudah menanti Adis untuk latihan. Tapi Adis pura-pura tiudak melihat dan bergegas menghampiri jemputan Mang Iman sopir keluarganya.
“Cepat, Mang! Adis sudah lapar banget, nih!”
“Iya, Non,” Mang Iman segera melajukan mobil itu. Dari kaca spion Adis melihat Diskil dan Daud berusaha mengejar. Tapi mereka segera ketinggalan oleh laju mobil yang semakin cepat. Diskil lalu menghubungi HP Adis. Buru-buru Adis mematikannya..
  “Cobalah berbesar hati, Dis. Daud sudah berjaji akan serius berlatih. Dia mau menebus kesalahannya tiga bulan lalu itu,” bujuk Latifah yang datang ke rumah Adis keesokan harinya sepulang sekoiah.
“Aku tidak percaya kata-kata Daud. Cukup sekali saja aku mengalami rasa malu yang menyakitkan, Fah. Jangan paksa aku, lebih baik kamu cari orang lain saja” tolak Adis berkeras.
“Daud dan Diskil akan tetap berlatih sambil menunggu kesediaan kamu, Dis. Sore ini mereka ada di sekolah, latihan buat upaca bendera Senin depan,” kata Latifah sebelum meninggalkan rumah Adis.
Adis mencibir. Masa sih Daud mau latihan serius. Daud kan tukang bercanda. Suka menganggap remeh semua tugas yang diberikan padanya.
Tapi lama-lama Adis jadi penasaran juga. Dia ingin membuktikan apa benar Diskil dan Daud sedang latihan di sekolah sore ini. Adis lalu minta diantar  Mang Iman ke sekolah.
Ketika mendekati pintu gerbang sekolahnya, Adis menyuruh Mang Iman memelankan mobil. Rupanya Latifah tidak bohong. Di halaman sekolah, Adis melihat Diskil dan Daud berlatih dengan serius. Sesekali mereka tampak menghapus keringat yang menetes di wajah.
Ketika Diskil dan Daud melihat kedatangan Adis, keduanya tampak senang. Daud buru-buru menghampiri Adis.
“Saya minta maaf atas kesalahanku yang lalu, Dis, “ucap Daud. “Kamu tahu, ketika kakakku yang sudah SMA mengetahui keteledoranku yang sangat memalukan itu, dia marah. Kakakku bilang kalau aku rugi besar karena telah menyia-nyiakan pelajaran berharga. Dengan menjadi pengibar bendera kita belajar untuk bertanggung-jawab, disiplin, teliti dan bekerja sama. Kalau kita mengabaikan hal-hal itu kakakku bilang sama saja kita  mengabaikan modal penting untuk berhasil di masa depan. Oleh karena itu saya sangat menyesal dan berjanji akan memperbaikinya pada kesempatan kali ini,” aku Daud terus terang.
Melihat kesungguhan Daud, akhirnya Adis mau kembali bergabung dengan mereka. Ketiga anak itu berlatih dengan serius dan penuh semangat. Walaupun beberapa kawan sekolah mereka masih saja mengejek, tapi Adis, Diskil dan Daud tak mau mengambil hati.
Akhirnya tiba waktunya upacara bendera hari Senin. Ketika tiba giliran pengibar bendera, Adis, Diskil dan Daud bergerak dengan derap yang rapi dan serentak. Mereka melangkah gagah menuju tiang bendera. Daud mengikat bendera dengan teliti dan kuat.
“Bendera siap!” teriak Adis lantang sambil kaki kanannya mundur selangkah untuk membentangkan bendera merah putih yang telah terikat erat. Lalu lagu Indonesia Raya berkumandang. Diskil dan Daud menggeret bendera pelan-pelan hingga sampai di ujung tiang persis saat lagu kebanggsan itu berakhir.
Setelah mengikat talinya dengan kuat pada tiang, ketiga pengibar bendera itu kembali ke tempat semula dengan langkah gagah. Semua guru dan murid yang hadir merasa takjuk melihat kekompakan Adis, Diskil dan Daud. Murid-murid yang selama ini selalu mengejek kegagalan mereka di waktu lalu hanya bisa terdiam dalam kekaguman. Adis, Diskil dan Daud telah melaksanakan tugas dengan baik. Mereka telah berhasil bangkit dari kegagalan dan menunjukkan prestasi yang sempurna.

Kucing Hitam yang Serakah


Kucing Hitam yang Serakah
Oleh: Elwin FL Tobing

            Tiga ekor kucing sedang berbaring di atap rumah pak tani. Tiba-tiba dua ekor tikus melintas buru-buru. Pasti tikus itu ingin mencuri padi yang baru dipanen pak tani dari sawah. Melihat tikus-tikus itu, ketiga kucing yang tadi berbaring, serentak berdiri hendak mengejar.
            “Hep…kalian di sini saja,” kucing berbulu hitam menghentikan dua kucing lainnya, “Biar aku yang memburu tikus itu.” Kata si kucing hitam.
            “Kok begitu? Saya juga lapar nih!” kata kucing berbulu belang.
            “Saya juga” kucing berbulu putih menimpali.
            “Tidak bisa. Tikus itu untuk saya. Awas kalau kalian ikut-ikutan,” ancam si kucing hitam seraya memperlihatkan cakarnya yang tajam. Setelah itu dia melompat cepat memburu kedua tikus itu. Tak lama kemudian terdengar cicit si tikus yang panik melarikan diri. Tapi kucing hitam sangat gesit. Dia berhasil menangkap kedua tikus ketika hendak bersembunyi di balik lemari dapur.
               Setelah menyantap kedua tikus itu, si kucing hitam kembali ke atap rumah. Sambil bersiul-siul senang dia merebahkan badannya yang sudah kenyang di dekat kucing belang dan kucing putih. Karena kekenyangan si kucing hitam mulai mengantuk.
            Ci ci cit….seekor tikus berkelebat di sekitar kandang ayam tak jauh dari ketiga kucing itu. Kucing belang dan kucing putih melompat hendak mengejar si tikus.
            “Hei..berhenti!” kucing hitam terbangun. Kucing belang dan kucing putih menoleh pada si kucing hitam.
            “Kenapa kau suruh kami berhenti?” Tanya kucing putih.
            “Tikus itu untukku.” Jawab si kucing hitam dengan rakusnya.
            “Tapi kau kan sudah dapat tadi. Dua ekor malah.” Sela si kucing belang.
            “Masih kurang.” Si kucing hitam bangkit dari tidurnya, “Setelah aku benar-benar kenyang kalian baru boleh berburu tikus.” Katanya sambil mengendus-endus. Setelah dapat melacak bau si tikus, si kucing hitam berlari tangkas. Tak lama kemudian terdengar suara tikus yang menjerit-jerit. Kucing hitam sudah berhasil menangkapnya.
            Sementara itu si kucing belang dan si kucing putih hanya bisa terduduk lemas. Mereka terpaksa menahan lapar. Kucing belang dan kucing putih tidak berani protes. Mereka takut si kucing hitam marah. Badan si kucing hitam sangat besar dan kuat. Kucing belang dan kucing putih pasti kalah kalau berkelahi dengannya.
            “Bagaimana ini, Belang? Kalau terus begini kita bisa mati kelaparan.” kata si kucing putih.
            “Iya, padahal di sekitar kita banyak tikus.” Sahut kucing belang dengan wajah tak berdaya.
            “Apa kita lawan saja si kucing hitam itu?” si kucing putih memberanikan diri. Terus terang si kucing putih sebenarnya tidak berani. Tapi kalau terus didiamkan, si kucing hitam pasti akan semakin keterlaluan.
            Si kucing belang tidak setuju dengan usul kawannya “Tidak perlu berkelahi. Lebih baik kita pindah.” Kata si kucing belang.
            “Pindah ke mana?”
            “Kita cari tempat lain. Aku tidak mau mati kelaparan di sini.”
            “Baiklah. Aku setuju kita pindah.”
            Kedua kucing itu lalu melangkahkan kaki menuruni atap.
            “Hei, mau ke mana?” teriak si kucing hitam yang terlihat menaiki atap. Perut si kucing hitam tampak semakin penuh. Dia pasti sangat kenyang.
            “Kami mau pindah,” sahut si kucing belang.
            “Biar kamu puas menghabiskan tikus-tikus di sini sendirian.” Sambung si kucing putih. Mendengar itu, si kucing hitam tertawa keras. Dia merasa puas telah berhasil menyingkirkan si belang dan si putih. Dengan begitu tidak ada lagi saingannya dalam berburu tikus di sekitar rumah pak tani.
            “Pergi jauh ya! Kalau perlu ke luar negeri biar tidak bisa lagi pulang kemari ha ha ha..” si kucing hitam tertawa mengejek.
            Sejak kepergian si belang dan si putih, tikus-tikus semakin banyak berkeliaran di rumah pak tani. Mereka berkembang biak dengan cepat. Walau si kucing hitam terus memburu tikus-tikus itu, tapi akhirnya si kucing hitam kewalahan juga. Dia tidak sanggup lagi menghabiskan tikus yang banyak itu. Si kucing hitam sudah sangat kenyang. Dan tikus-tikus terus berdatangan tak ada habisnya.
            “Aduh, banyak sekali tikus di rumah ini. Bisa habis padi yang baru dipanen itu dimakannya.” Keluh pak tani.
            “Kemana si kucing hitam. Kok kucing itu membiarkan tikus-tikus ini merajalela?” seru bu tani sambil mencari-cari keberadaan si kucing hitam. Ketika itu si kucing hitam sedang tertidur kekenyangan di bawah meja. Si kucing hitam telah memakan tiga ekor tikus, dan perutnya sudah penuh sekali. Karena kekenyangan, kucing hitam tertidur. Dia membiarkan tikus yang lain mencuri padi pak tani.
            “Dasar kucing pemalas,” bu tani geram dan memukul si kucing hitam yang tertidur. Karena kesakitan si kucing hitam terbangun dari tidurnya. Dia ketakutan melihat bu tani yang memukulnya dengan kayu
            “Percuma dipelihara. Kerjamu hanya tidur saja.” kata bu tani kembali memukul si kucing belang berulang-ulang.
            Ngeoooongg..ngeeeooongg… jerit si kucing belang. Karena kesakitan dia berlari meninggalkan bu tani.
            “Ya, pergi saja kau dari rumah ini. Percuma kau dipelihara kalau tidak bisa membasmi tikus. Awas kalau kau kembali lagi. Aku akan memukulnya lebih kuat lagi.” Ancam bu tani. Kayu yang dipegangnya, dilemparkannya pada si kucing hitam. Kaki si kucing belang kena. Dia berlari terpincang-pincang.
            Si kucing hitam teringat pada si kucing belang dan si kucing putih. Si kucing hitam menyesal telah membiarkan kedua temannya itu pergi dulu. Andai saja si kucing hitam tidak serakah. Kalau mereka bekerja sama tentu akan bisa mengimbangi tikus-tikus yang banyak itu.
            Si kucing hitam benar-benar menyesali keserakahannya. Dia berjanji akan mencari si kucing belang dan si kucing putih. Si kucing hitam akan meminta maaf pada kedua temannya itu. Setelah itu si kucing hitam akan mengajak si kucing belang dan si kucing putih kembali ke rumah pak tani. Si kucing hitam ingin menebus kesalahannya. Dia akan mengajak kedua temannya untuk bekerja sama membasmi tikus dari rumah pak tani. Dengan begitu mudah-mudahan pak tani dan bu tani tidak marah lagi.
               

Santi Sakit Gigi

Santi Sakit Gigi
Oleh: Elwin FL Tobing

            Mama selalu mengingatkan Santi agar rajin menggosok gigi. Menurut mama, menyikat gigi itu penting untuk kesehatan gigi. Sisa makanan yang tidak dibersihkan akan mengakibatkan timbulnya plak di gigi. Kuman-kuman gigi yang tidak dibersihkan akan mengakibatkan gigi berlubang.
            Tapi Santi sering lupa peringatan mama. Apalagi kalau dia terlambat bangun pagi. Pasti Santi tak sempat lagi menggosok gigi. Kalau sudah terlambat bangun Santi tentu terburu-buru agar tidak terlambat tiba di sekolah.
Malam hari dia juga jarang menggosok gigi. Dia terlanjur malas karena sudah mengantuk. Melihat itu mama menyuruh Santi sikat gigi segera setelah makan malam, tidak usah menunggu mau tidur baru menggosok gigi.
            “Nanti kalau papa bawa cemilan  Santi tidak kebagian dong, Ma,” rengek Santi. Papa memang sering membawa kue dan makanan ringan sepulang dari kantor sore hari.
            “Nanti kan bisa mama sisakan untuk kamu.” Janji mama.
            “Tapi Santi ingin belajar sambil ngemil, Ma. Kalau mulut tidak mengunyah apa-apa, pelajaran juga tidak masuk ke otak,” alasan Santi yang sudah terbiasa belajar dan membuat PR dengan ditemani makanan ringan.
            “Ya sudah kalau begitu. Asal kamu ingat untuk menggosok gigimu sebelum tidur.” Kata mama memaklumi alasan Santi.
            Tapi Santi masih sering mengabaikan pesan mama. Karena setelah belajar sampai malam dia pun mengantuk. Kalau sudah mengantuk malas rasanya menggosok gigi. Santi pun langsung tidur.
            Hingga pada suatu hari Santi merasakan giginya ngilu. Tak lama kemudian rasa sakit terasa menghentak. Pipinya membengkak. Santi meringis kesakitan. Dia tidak sanggup pergi ke sekolah. .
            Lalu mama membawa Santi berobat ke dokter gigi. Setelah diperiksa ketahuan kalau gigi Santi ada yang berlubang.
            “Santi harus lebih rajin sikat gigi ya, agar sakit giginya tidak tambah parah,” saran bu dokter. Santi mengangguk sambil meringis menahan sakit.
            “Kalau bisa setiap habis makan apa pun, kita harus sikat gigi, agar sisa makanan tidak sempat melekat. Kalau tidak sempat setiap habis makan ya minimal dua kali sehari: pagi sesudah sarapan dan malam sebelum tidur,” lanjut bu dokter.
            Setelah diberi obat oleh bu dokter, Santi dan mama pulang ke rumah. Bu dokter berpesan agar Santi memakan obatnya dengan teratur.
Santi terpaksa harus ijin tidak sekolah. Rasanya sungguh tidak menyenangkan. Makan apa pun tidak enak. Nonton televisi atau mendengar lagu juga malah bikin kesal. Santi selalu meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang bengkak. Kadang dia sampai menangis menahan rasa sakit.
Setelah tiga hari gigi Santi mulai sembuh. Pipinya pun sudah kempes. Santi merasa lega. Dia kembali bisa menikmati makanan yang enak. Santi tak sabar ingin cepat-cepat kembali ke sekolah. Dia sudah rindu pada guru dan teman-temannya. Santi juga ingin mengejar ketertinggalannya dalam belajar.
Pagi yang ditunggu Santi akhirnya tiba. Dia sudah sehat kembali. Hari ini dia akan kembali sekolah. Setelah sarapan pagi dia siap-siap berangkat.
“Sudah gosok gigi, San?” mama mengingatkan.
Eits… Santi hampir lupa. Segera dia ke kamar mandi. Menggosok gigi untuk membersihkan sisa sarapan yang menempel di gigi. Setelah selesai mulut Santi terasa segar.
“Pa, Ma, Santi berangkat!” pamit Santi pada papa dan mama.
“Iya sayang! Hati-hati ya!” pesan papa dan mama.
Santi bergegas menuju becak Wak Iman yang sudah menunggunya di pinggir jalan.
“Wah! Sepertinya Non Santi kelihatan semangat sekali pagi ini,” sambut Wak Iman sambil mempersilahkan Santi menaiki becaknya.
“Habis sudah kangen sama sekolah, Wak. Ayo deh kita berangkat,” kata Santi.
Lalu Wak Iman mengayuh becaknya menuju sekolah Santi. Wak Iman tersenyum mendengar Santi yang bernyanyi-nyanyi sepanjang perjalanan ke sekolah. Santi merasa betapa berharganya kesehatan itu. Makanya kita harus baik-baik menjaga kesehatan tubuh kita. termasuk kesehatan gigi. Iya kan San!

dimuat di harian analisa, 31agust2008