Tampilkan postingan dengan label cerpen remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen remaja. Tampilkan semua postingan

Lembut Hati Nita



Lembut Hati Nita
Oleh: Elwin FL Tobing

            Syeeet....pret.


            “Aduh,” spontan Pak Anton meraba belakang kepalanya sambil berbalik.
            “Siapa yang kurang ajar, hah?” bentaknya marah. Bola matanya berkilat-kilat menahan geram.
        “Siapa, hayo ngaku.” Bentak Pak Anton lebih keras. Dia memungut karet gelang yang tadi menyambar belakang kepalanya, meletakkan buku soal-soal fisika di meja. Pandangannya kembali menyapu seisi kelas penuh selidik dengan wajah yang semakin memerah. Di papan tulis tampak rangkaian soal yang belum selesai.
            “Harap mengaku siapa yang melakukan, atau seisi kelas ini akan dihukum.”
        Tidak ada yang menyahut. Semua penghuni kelas menunduk. Ada yang pura-pura menulis entah menulis apa, ada yang saling tukar pandang, ada yang sok cuek, walau kegelisahan merayap jelas di wajah mereka.
            “Baik, kalau nggak ada yang mau mengaku, masalah ini akan bapak laporkan ke Kepsek.”
         “Saya tahu, Pak.” Semua mata melotot ke arah Nita. Cewek itu perlahan menurunkan tangan kanannya yang teracung. Terdengar gumanan yang tidak jelas dari beberapa tempat.
            “Ya, Nita. Siapa yang menjepret Bapak dengan karet gelang ini.” Pak Anton mengangkat karet gelang yang menggantung di jari telunjuknya.
            “Sandi, Pak.”
          “Bohong,” Sandi kontan berdiri dari bangkunya,”lo jangan nuduh sembarangan ya,” bentaknya garang.
            “Tadi saya lihat sendiri kamu melepas karet itu dari rambut dan menjepret Pak Anton,” jawab Nita tegas.
            “Diam, bukan gue, iya kan, Ko?” Sandi mengguncangkan bahu Joko teman sebangkunya. Joko salah tingkah dan jadi pucat.
            “Joko.” Pak Anton mendekat. “Benar Sandi yang melakukan?”
            “Eh oh, i..ieh ng...nggak, Pak.”
            “Jawab yang tegas.”
            “I iya, Pak.”
          “Sudah, Sandi, Joko, Nita ikut ke kantor,” perintah Pak Anton. Sandi melotot geram pada Nita. Tinjunya terkepal kuat lalu dihantamkannya ke dinding. Nita melangkah tenang. Bisik-bisik orang sekelas menghantar mereka ke kantor guru. Di sana mereka disidang langsung Pak Kepsek. Sandi ditegus keras di dikasih surat peringatan.
            “Kamu biang onar di sekolah ini,” tunjuk Pak Kepsek. “Sekali lagi kamu berani macam-macam, OUT. Ngerti?” sambungnya sambil menunjuk pintu.
            Sandi acuh tak acuh. Ekor matanya bergantian melirik orang-orang yang berada di ruangan itu, dan kegeraman membaca di wajahnya saat tatapannya membentur sorot mata Nita yang mencoba tetap tenang.
            “Kalau elo cowok, udah gue hajar,” sembur Sandi sekeluarnya dari ruang guru.
            “Anak baru nggak tau diri, sok jago. Pinter cari muka lo, ya.”
            Nita diam. Dia memang masih baru. Pindah dari Solo ke Jakarta ikut Oom-nya. Ada penyesalan di hati Nita. Kenapa secepat itu dia mendapat musuh. Kenapa tidak dibiarkan saja Sandi dengan ulahnya, walau jelas akan merugikan mereka semua, terutama merugikan Sandi sendiri yang semakin mabok dengan kelakuannya yang liar. Mengapa aku yang harus peduli, desah Nita. Seandainya Sandi mengerti bahwa itu semua demi kebaikan dia juga. Perbuatannya sudah keterlaluan. Menghina seorang guru yang telah berjerih lelah berbagi ilmu dengan mereka. Andai saja Sandi menyadari...ah, masihkah Sandi bisa sadar. Berhenti bolos, berantem, tawuran dan melecehkan guru-guru yang mengajarinya. Nita merasa aneh dengan sikapnya tadi. Seberani itu dia melaporkan perbuatan Sandi, padahal yang lain memilih dihukum sama-sama. Begitu berkuasakah seorang Sandi hingga sanggup membungkam orang sekelas?
            Sebenarnya Nita tak ingin masalah itu berbuntut panjang. Tapi Sandi ternyata semakin menunjukkan sikap kebencian. Semakin hari bara yang memisahkan mereka semakin memerah dan panas. Segala ketulusan dan keramahan yang selalu ditunjukkan Nita menguap tanpa arti..
            Nita semakin sedih, apalagi beberapa teman sekolahnya termakan hasutan Sandi. Atau mungkin Sandi mengancam mereka, Nita kurang tahu. Yang dia rasa, beberapa dari mereka jadi ikut-ikutan sinis, bila bertemu dengannya. Dituduh pintar cari muka di depan guru. Nita berusaha tabah dan tetap ramah. Dalam hati dia berharap suatu hari nanti segalanya akan beres.
***
            Gaung bel istirahat belum hilang ketika kelas II.2 dilanda kegemparan. Hampir semua anak merubung bangku Lala yang panik membongkar-bongkar isi tas.
            “Elo nggak salah naruh, La?” tanya seseorang.
            “Nggak. Gue ingat duitnya gue taruh di tas ini.”
            “Kapan?”
            “Begitu nyampe di kelas. Duit itu baru gue ambil di ATM depan.”
            “Ada yang liat nggak , lo naruh duit.”
            “Nggak tau. Biasanya juga nggak hilang kok. Aduh gimana dong.” Lala bingung dan putus asa. Duit buat merayakan ulang tahunnya amblas tidak berbekas.
            “Semua jangan ada yang keluar kelas,” seru Pak Alex wali kelas mereka yang kebetulan belum meninggalkan kelas.
            “Semua kembali duduk di bangku masing-masing.”
            Dengan perasaan was-was masing-masing kembali ke bangkunya.
            “Jay, Pipit, periksa satu persatu tas teman-temanmu,” lalu pada Lala, “Duitnya di taruh di dompet atau...”
            “Lala bungkus pakai tissu warna merah, Pak.”
            Semua tas telah tergeletak di atas meja. Di beberapa meja cowok hanya ada tumpukan buku tulis lusuh. Mereka tidak membawa tas. Pemeriksaan dimuali dari meja paling ujung. Semua tegang menahan nafas. Menanti dengan berdebar-debar seakan sumbu dinamit yang semakin pendek termakan api, dan...
            “Haaahhh?”
            Seruan tertahan serempak terdengar ketika tangan Pipit menarik sesuatu dari dalam tas di bangku baris ketiga. Lipatan duit limapuluh ribuan yang terbungkus tissu warna merah yang mulai lecek.
            “Hah! Ya Tuhan,” Nita berseru kaget. Tangannya membekap mulut, bola matanya melotot lebar.
            “Nita...?”
            “Nita...?”
            Semua menggumankan nama Nita. Tak percaya. Mereka bergantian menatap lipatan duit dan wajah Nita yang memucat seputih kertas. Tapi beberapa anak mulai memandang sinis kepadanya. Komentar-komentar perlahan bermunculan memaksa Nita menutup mata dan telinganya. Saat diinterogasi Pak Alex, Nita tidak mampu menjawab. Dia hanya mampu menggeleng-geleng dengan wajah pucat dan banjir air mata. Ada dugaan ini kerjaan Sandi. Tapi Sandi tidak masuk hari ini, bahkan sudah dua hari. Bagaimana bisa duit itu ada dalam tas Nita? Benarkan Nita pencuri?
***
            Siang kering kerontang. Asap knalpot bus-bus yang menghela sesaknya penumpang menebarkan serbuk kimia ke udara. Menyusup nakal membuat orang-orang yang berdiri di halte terbatuk-batuk sambil menutup mulut dan hidung.
            “Gimana, San. Impas kan?”
            Sandi menatap Joko yang santai mengunyah permen di pojok halte. Ya. Utang Joko telah lunas. Dia telah berhasil menyingkirkan Nita dari sekolah mereka. Anak bau kencur yang coba-coba bertingkah. Joko sukses menyelipkan duit Lala ke dalam tas Nita. Itu sebagai bayaran atas pengakuan Joko pada Pak Kepsek ketika Sandi menjepret Pak Anton tempo hari. Kenapa Joko ikut-ikutan mengiyakan tuduhan Nita. Tasi sudahlah. Joko sudah membayar utangnya.
            Sandi membuang pandang pada lalu-lintas yang berseliweran. Ruwet. Seruwet hidup yang dijalaninya. Dipandangnya seragam putih lusuh. Pelajar, batin Sandi pahit. Rasanya sebutan itu terlalu mulia untuk dirinya. Berandalan atau preman, itu mungkin lebih pas. Dia memandang gedung-gedung tinggi yang menjulang megah. Mengawasi karyawan berdasi yang menuruni tangga dengan anggun. Adakah nanti tempatku di sana? Ah. Menamatkan SMA saja rasanya mustahil.
            Kuli? Mata Sandi menatap sosok kuli-kuli jalanan yang tengah menggali saluran air dengan susah payah di dekat sebuah bangunan baru. Disanakah aku nanti? Sandi mengeluh putus asa.
            Ada sebuah perubahan dalam diri Sandi. Nita sudah enyah dari hadapannya, dan itulah yang dia harapkan. Tapi kepergian Nita ternyata menyisakan penyesalan pada dirinya. Andai Nita cewek bengal yang melawan semua perlakuan tidak adilnya, mungkin Sandi akan semakin menjadi-jadi. Seperti yang pernah dipamerkan pada Yos, cewek tomboi yang pernah memprotes kearoganannya. Di hadapan anak-anak Sandi tidak segan melabrak gadis itu hingga menangis dan menjerit-jerit seperti orang gila.
            Tapi Nita lain. Dia pasrah dan sepertinya tidak masalah baginya semua perlakuan Sandi yang merugikan. Juga lontaran kata-kata sinis dan pedas tidak pernah dia tanggapi. Besoknya dia sudah menyapa Sandi dengan ramah seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sandi semakin benci. Pikirnya, gadis itu teramat lemah. Tidak punya kekuatan sedikitpun untuk membela diri. Sandi mendengus. Dia merasa Nita sangat mengharapkan maaf darinya. Huh, jangan harap, sumpahnya dalam hati. Sampai kiamatpun tidak ada kata maaf.
            Tapi sumpah tinggal sumpah. Ketika Nita berdiri di muka kelas dengan gemetar untuk mengumumkan kepindahannya tiga hari lalu, keangkuhan Sandi agak goyah. Ketegaran yang biasanya terpancar dari wajah Nita –dan itu sangat dibenci Sandi- hilang, berganti bayangan kelelahan yang dalam.
            “Saya minta maaf sama kamu, San,” ucap Nita setelah terlebih dahulu mohon maaf pada Lala.
            “Saya banyak salah sama kamu. Sebenarnya saya ingin berteman. Tapi saya memang nggak tau diri telah berani menyinggung perasaan kamu.”
            Nita berhenti untuk menghapus air matanya. “Sebelum saya meninggalkan sekolah ini saya mohon kamu maafin saya, San.”
            Sandi pura-pura cuek. Tatapannya dialihkan ke bangku belakang.
            “Maafin saya ya, San..” Sandi terkejut melihat Nita telah berdiri di sisi bangkunya. Tangan mungil milik Nita terulur persis di depan hidungnya.
            “Tolong, San, maafin saya ya. Saya nggak akan tenang sebelum kamu maafin,” pinta Nita. Tangan kirinya sibuk menghapus air mata. Semua menahan nafas melihat adegan tersebut. Perlahan Sandi mengulurkan tangan menyambut tangan Nita yang gemetar.
            “Makasih, San. Kamu baik sekali,” Nita tersenyum diantara linangan air mata. Ketika langkah Nita hilang di balik pintu, bukan ledakan tawa puas, tapi kehampaan dan penyesalan yang merasuk ngilu di dada Sandi. Sampai hari ini penyesalan itu masih membalut.
            Angin sore bertiup. Joko makin asyik dengan permen karetnya. Sandi meringis, lalu kembali menekur, merenungi langkah-langkah hidupnya yang suram, di halte yang kumuh itu.
            Tiba-tiba Sandi dikejutkan Joko.
            “Awas, San...”
            Disusul teriakan.
            “Itu dia anaknya. Hajar!”
            Lalu pukulan, tendangan dan tinju menghajar tubuh Sandi. Tidak ada celah untuk meloloskan diri. Sandi terpojok di tiang halte. Dia menjerit-jerit dengan kedua tangan liar menangkis hantaman bertubi-tubi di sekujur tubuh. Baju putihnya mulai terasa lengket dan bernoda merah. Mulut Sandi tidak henti-hentinya mengaduh dan mengerang.
            Tiba-tiba terdengar derum mobil berhenti, kaki-kaki yang berlompatan, suara sirene, lalu benturan di aspal yang panas, selebihnya Sandi tidak ingat apa-apa lagi.
***
            Hujan telah berhenti. Titik gerimis juga sebentar lagi nampaknya akan hilang seiring bias mentari yang menyibak mendung. Daun-daun menebarkan aroma segar. Pada kelopak bunga mawar, butiran air bening bergantung bagaikan kristal. Dua ekor burung gereja mengibas-ibaskan sayap sambil berlompatan menyongsong semilir angin sore.
            Di sebuah ruangan bercat putih Sandi mencoba menggeliat. Aouw, sakit. Dia mencoba membuka mata. Berat sekali. Tapi dipaksakannya
            “Dia sudah sadar, Dok.”
            Seorang dokter dan seorang suster tersenyum ramah pada Sandi.
            “Kamu sudah sehari nggak sadar,” kata dokter sambil memeriksa perban di lengan Sandi. “Untung teman kamu itu cepat telepon polisi kemarin. Kalau nggak kamu mungkin tak tertolong lagi. Buat apa sih tawuran-tawuran begitu. Rugi sendiri kan. Apalagi kalo lagi apes begitu, dikeroyok.”
            Joko? Berani juga tuh anak. Padahal biasanya kalau sudah terdesak dia akan ngacir tanpa nengok-nengok lagi.
            “Teman saya sekarang dimana, Pak?” tanya Sandi. Dia ingin berterima kasih pada sahabatnya itu.
            “Sebentar lagi mungkin kesini..Eh, itu dia.”
            “Hah?” Sandi terhenyak melihat siapa yang dimaksud dokter itu. Seorang gadis dengan bungkusan apel di tangan muncul di pintu.
            “Nita?”
            “Kamu sudah sadar, San?” sapa Nita lembut.
            Sandi tergagap. Perasaannya campur aduk. Mengapa harus Nita yang menolongnya, bukan Joko?
         “Saya melihat kamu dikeroyok. Cepat aku telepon polisi. Saya sudah takut kamu kenapa-napa. Syukurlah masih tertolong.”
            Wajah Sandi pias. Dia berusaha melarikan wajahnya dari tatapan Nita. Jadi gadis ini yang menyelamatkan nyawanya?
            “Ini benar temannya, kan?” Pak Dokter heran dengan sikap Sandi.
            “I...iya, Pak. Teman sekolah.” Jawab Sandi tersendat.
            Sepeninggal dokter keheningan mengukung keduanya.
            “Maafin saya, San. Kamu mungkin nggak mengharapkan saya disini. Saya akan pulang. Saya juga sudah lega kamu sudah sadar...”
            “Nita....” Sandi merasa terhempas. Apalagi yang harus dia sombongkan. Nyatanya selembar nyawanya telah diselamatkan oleh orang yang selama ini dianggapnya lemah. Masih berartikah keangkuhannya. Ah, bukan keangkuhan. Tapi kebodohan yang membutakannya selama ini.
            Sandi menarik nafas menata hatinya yang berkeping. Lalu dia menceritakan semua perbuatannya pada Nita. Jebakan kotor yang diaturnya dengan Joko. Wajah Nita sempat memerah. Tapi sejurus sudah teduh kembali. Nita juga punya dugaan seperti itu. Tapi tanpa bukti siapakah yang akan percaya. Syukurlah sekarang sudah jelas semuanya.
            “Kalau masih bisa, tolong maafin gue, Nit. Tapi gue nggak maksa. Gue sadar gue salah besar sama Nita. Bahkan kalo Nita memaki-maki atau ngegampar muka gue, gue iklas. Malah gue berterima-kasih.” Ucap Sandi melihat Nita terdiam mendengar pengakuannya. Nita mendesah. Perlahan mengulaskan senyum.
            “Terus terang saya menyesal dengan semua ini. Tapi sudahlah, San. Semua udah terjadi, syukurlah saya masih kuat menghadapinya. Sudahlah, kita lupain semuanya,” jawab Nita.
            “Makasih, Nit. Makasih banget. Gue juga minta Nita balik ke sekolah kita. Gue akan jelasin semua sama Pak Alex. Gue juga akan minta maaf di depan anak-anak pada Nita dan Lala.
            “Nggak perlu, San.”
            “Gue mohon, Nit. Kalo Nita udah balik gue baru merasa lega. Semua harus tau kalau Nita itu nggak salah apa-apa. Nama baik Nita harus kita pulihkan. Gue mohon Nita balik.” Pinta Sandi seraya menggenggam jemari Nita. Wajah Nita jengah. Dia perlahan menarik tangannya. Sandi tersadar, buru-buru dia melepaskan pegangannya, lalu menggumankan permohonan maaf.
            “Katanya Cuma teman.”
          Sandi dan Nita serempak menoleh. Pak dokter nampak tersenyum disusul Pak Alex dan teman-teman lain yang muncul di pintu kamar. Entah apa yang mereka pikir telah terjadi antara Sandi dan Nita hingga mereka tersenyum-senyum terus menghampiri keduanya
Dimuat di majalah aneka yess tahun 2000

Kaca Spion


Kaca Spion
Oleh: Elwin FL Tobing

            Sepeda motor bebek itu terparkir manis di teras rumah. Rendi baru selesai mencucinya; kilap sepeda motor baru itu terpantul ke mana-mana. Rendi memandang hasil pekerjaannya dengan wajah puas. Senyum riang melengkung di bibirnya yang dibercaki busa kit shampo.
            Baru satu minggu sepeda motor itu menjadi milik Rendi. Ayahnya yang pelit, memutuskan memberi sepeda motor itu setelah kaki Rendi, entah kenapa, tiba-tiba keseleo dan membengkak sebesar kaki gajah. Menurut Oppungnya, Rendi tarhirim. Lalu Ibu menanyakan apa yang Rendi inginkan. Sambil tetap menampakkan wajah yang lara dan suara yang dilemas-lemaskan, Rendi meminta sepeda motor. Mendengar itu, Ayah langsung protes. Tarhirim kok sepeda motor? Kan mahal?
            “Ayah juga dulu pernah tarhirim. Tapi tarhirimnya cuma pistol-pistol air.” protes Ayah sangat nyata terlihat keberatan memenuhi permintaan Rendi. Mendengar alasan itu, Rendi semakin menampakkan wajah tersiksa.
            “Itu tahun berapa, Yah? Tahun ayah masih remaja kan pistol-pistol air juga sudah mahal?” bantah Ibu.
            “Tetap saja tidak semahal sepeda motor. Ayo Ren, minta yang lain saja. Ikat kepala naruto kek, atau kostum spiderman. Kan lagi tenar!”
            Busyet! Memangnya anak SD. Sudah sweet seventeen begini, buat apa ikat kepala naruto? Tak ada reaksi Rendi selain berlagak seolah telah berubah dongo. Ilernya sengaja dibiarkan menetes, matanya menatap kosong ke langit-langit rumah. Melihat itu, Ibu jadi kalang kabut.
            “Kalau Ayah tidak mau membelikan, aku juga masih sanggup.” Lalu Ibu membongkar semua perhiasan di lemarinya. Cincin, gelang, anting, dan kalung serta peniti emas. Ibu mengemasnya dalam satu bungkusan dan siap-siap pergi menjualnya.
            “Sudahlah, Bu. Tidak apa-apa Rendi tak punya sepeda motor. Mungkin Ayah lebih suka melihat Rendi sakit dari pada harus keluar uang. Salah Ibu juga, kenapa dulu milih Ayah jadi suami. Kan masih banyak laki-laki jaman ibu yang baik dan sayang sama anak,” ucap Rendi dengan suara mangambang, seolah berasal dari alam lain.
            Merasa terpojok, akhirnya Ayah menyanggupi untuk membeli sepeda motor. Jenisnya bebek 110 cc. Mereknya aneh. Maklum, bukan keluaran Jepang.
            Benar saja. Sejak dibelikan sepeda motor itu, kaki Rendi yang bengkak, cepat sekali mengempes. Apalagi setelah dia mengelus-eluskan kakinya yang sakit itu ke jari-jari sepeda motor. Kakinya merasa sejuk dan dingin. Ya iyalah! Kalau mau panas ke knalpotnyalah , coy, habis jalan jauh.
            Sore nanti Rendi berencana ‘jalan’ sama teman-teman. Rendi sudah pede, karena dia sudah punya sepeda motor sendiri. Selama ini dia sering tidak enak sama kawan yang membonceng dia.
            “Orang lain bonceng cewek, eh aku malah bonceng kau pula,” gerutu kawannya sering.
            “Aku takut dikira homo, Ren. Makanya nggak mau terlalu sering membonceng kau. Naik mopen aja ya” kata kawan yang lain. Terus terang, hari Rendi teriris mendengarnya. Pedih, seperti bumbu rujak terpercik ke mata.
            Syukurlah, lara hatinya akhirnya reda, berganti sorak-sorak bergembira karena sepeda motor sudah punya.
            Matahari masih mampir di balik gedung sekolah dekat rumah ketika Rendi melaju santai dengan sepeda motor barunya. Jalanan lumayan sepi. Beberapa cewek manis duduk-duduk di depan pagar rumahnya curi-curi pandang pada orang yang lewat. Hati Rendi bersiur syahdu. “Kalau mau pergi-pergi bilang Abang ya. Nanti Abang antar,” seru Rendi, tapi dalam hati.
            Sesampai di posko tujuan, Rendi disambut teman-temannya dengan tawa cekikikan. Mulanya Rendi tidak menyadari hawa ejekan yang membungkus tawa itu. Tapi komentar-komentar yang beredar membuat dia curiga.
            “Kau persis tenteku, Ren,” ketawa Tomas.
            “Lebih mirip oppungku mau mengambil uang pensiun,” sambar Sihar sambil geleng-geleng kepala. Lho? Apa yang salah? Rendi ikut tersenyum mendengar olok-olok temannya, sambil matanya berusaha mendeteksi kekurangan yang membuat temannya berucap demikian. Tapi sampai lama dia tidak menemukannya. Sepeda motornya baru dan bersih. Rendi juga tidak pakai rok kembang-kembang sehingga mirip tante-tante; juga tidak pakai seragam veteran yang membuatnya mirip oppung Sihar yang mantan pejuang.
            “Kenapa sih?” tanya Rendi akhirnya. Dia semakin grogi saja mendengar celaan teman-temannya yang semakin sadis dan tumpang tindih.
            “Ya ampun, nggak sadar juga! Tuh kaca spion!’ tunjuk Hardi semakin mengeraskan tawanya. Kaca spion? Kenapa? Kan sudah pas. Dua! Apa lagi?
            Rendi mengedarkan pandang dan baru menyadari sepeda motor teman-temannya tidak ada yang memakai kaca spion. Oh ada! Sepeda motor Andi. Tapi spion berbentuk segi empat itu kecil sekali, dan dipasang di bawah stang. Apa fungsinya?
            “Jadi cowok jangan lugu kali. Kaca spion tinggi-tinggi begitu kau biarkan. Gak sekalian aja cermin lemari kau pajang,” cela Tomas sambil mendorong kepala Rendi.
“Cabut aja kaca spionmu, Ren. Malu-maluin aja kau,” sembur yang lain
            “Penakut.”
            “Pengecut.”
            “Cecurut.”
            Lho!
Rendi jadi enggan gabung dengan teman-temannya. Setiap dia datang, selalu kaca spion sepeda motornya yang jadi bulan-bulanan. Mau mancabut, Rendi merasa rugi. Di tengah arus lalu lintas yang semakin serampangan dengan kecepatan kendaraan yang susah diperkirakan, kaca spion itu sungguh berguna. Dengan menatap sekilas ke sana, dia jadi tahu seperti apa bentuk dan posisi kendaraan yang ada di belakangnya. Angkot yang memburu penumpangkah, atau sepeda motor zig-zag yang dipacu kencang. Bukankah itu sangat membantu respon dirinya untuk menempatkan kendaraan agar tidak tersenggol. Jadi kenapa kaca spion yang sangat menolong itu harus dilepas.
Merek sepeda motornya pun ikut  jadi bahan olok-olok.
“Kayak merek setrikaan ya,” kata Tomas
“Bukan setrikaan. Blender.” Sihar meluruskan.
“Udahlah, kalau nggak tau merek nggak usah banyak komentar. Yang setrika-lah, blender-lah. Bodoh kalian semua,” lerai Hardi. “Kukasih tau ya. Itu merek rautan pensil. Jelas?”
Busyet dah! Tega amat.
Rendi jadi sempat malas tampil dengan sepeda motornya. Tak tahan juga kena olok-olok terus. Tapi ketika dealer menyita Jupiter MX Hardi karena 3 bulan tak bayar cicilan, Rendi sedikit berbangga hati. Tak apalah merek sepeda motornya mirip merek setrika kek, blender kek, rautan pensil kek, yang penting sudah lunas, man!
“Pinjam sepeda motormu, Ren!” pinta Sihar suatu siang.
Rendi heran. “Kau kan bawa sepeda motor?”
            “Nggak ada spionnya. Aku mau ke kota.”
            “Kenapa memangnya kalau ke kota?”
            “Banyak polisi bego.” 
            Lho! 
            Rendi hanya bisa menggeleng melihat Sihar memastikan kaca spion Rendi terpasang kokoh. Memasang helm dengan erat. Setelah itu, barulah dia berani melajukan sepeda motor itu ke arah kota. Sementara sepeda motornya yang tanpa kaca spion di titipkannya pada Rendi. Aneh ya!

Gerimis Sepanjang Sudirman


Gerimis Sepanjang Sudirman
Oleh: Elwin FL Tobing

            Yulia berusaha tetap sadar. Berjuang keras agar konsentrasinya tidak hilang. Lalu lintas di minggu sore itu lumayan ramai. Bahkan terlihat semakin ramai dengan kecepatan kendaraan yang tidak bisa diduga. Langit yang ramah mengundang banyak orang untuk keluar rumah. Melaju dengan sepeda motor dan mobil menyusuri jalanan yang semarak. Pejalan kaki yang meyusuri trotoar sambil ber haha hihi. Pedagang kaki lima yang mulai sibuk memasang tenda untuk mengundang pembeli. Senyum mengembang di wajah banyak orang. Pasangan yang bertautan hati menikmati sore dengan rupa yang lebih merona. Kumandang tawa mereka melayang renyah di antara angin petang yang bertiup ringan.
            Mungkin hanya Yulia seorang yang berwajah layu. Pipinya yang pucat terlihat gugup menahan terpaan angin. Kedua bola matanya berkedip-kedip, susah payah menahan butir panas yang mengembun di kelopak matanya. Tapi dia harus bisa menguasai diri. Harus..
            Diiinnn…
            Yulia gugup membelokkan stang sepeda motor ke kiri. Kilat sebuah Vega R melesat di sebelahnya. Pengendaranya seorang remaja tanggung berpenampilan punk. Punggungnya membungkuk rapat ke jok seakan dia sedang mengendarai Ducati di arena road race, sama sekali tidak peduli pada Yulia yang sempoyongan. Yulia menenang-nenangkan diri. Tak ingin diteror panik. Mata Yulia waspada mengawasi jalanan. Sesekali ekor matanya melirik kaca spion. Deretan kendaraan antri menyusul di belakangnya. Yulia berdebar. Melaju lebih ke pinggir, mempersilahkan siapa saja yang ingin mendahului. Kecekatan mereka bukanlah tandingan Yulia yang baru tiga minggu ini belajar mengendarai motor.
            “Heeiii…!” seorang ibu menjerit sambil merenggutkan anaknya dari terjangan sepeda motor Yulia. Rupanya Yulia sudah terlalu ke pinggir. Hampir mendaki trotoar. Nyaris menggilas kaki mungil seorang bocah kecil. Yulia berhenti. Berpaling pada ibu dan anak dalam gendongannya. Anak itu menangis karena terkejut. Si ibu membujuk agar diam. Galau hati Yulia.
            “Jalanan besar begitu, kenapa kamu mendaki sampai kemari?” bentak marah si ibu. Anaknya belum juga berhenti menangis.
            “Maaf, Bu…” mohon Yulia lirih. Dia semakin tertekan ketika si anak kian mengeraskan tangis. Mungkin suara Yulia ikut menambah ketakutan di hati polosnya.
            “Sudah. Pergi cepat. Anakku tambah takut melihatmu,” usir ibu itu. Sekali lagi Yulia memohon maaf. Si ibu melengos tidak peduli. Perlahan Yulia melajukan sepeda motornya. Tanpa dapat dicegah air matanya mengalir. Kian lama kian deras. Memburamkan pandangannya.
            “Munafik…!” terngiang cacian Susi. Sahabatnya itu menduga Yulia diam-diam telah merebut Nobon. Tuduhan yang sangat menyakitkan. Sungguh! Yulia tak pernah berniat seburuk itu. Dan Susi tentu sudah mendengar prinsip yang Yulia pegang: Yulia tidak mau pacaran. Kalau mau pacaran, nanti, sama suami.
            “Jadi ngapain kamu selalu minta tolong dia kalau perlu apa-apa? Kan banyak cowok lain. Kenapa harus Nobon?” sentak Susi ketika Yulia mengulangi prinsipnya tadi untuk menepis sangkaan Susi.
            “Kamu mau ke toko buku minta antar Nobon. Pulang dari tempat les minta jemput Nobon. Apa-apa Nobon, apa-apa Nobon. Maksudnya apa?” Susi makin cemburu.
            “Maaf, Sus…!”
            “Terlambat. Nobon sudah menjauh dari aku sekarang. Puas kamu kan?” suara Susi serak. Matanya basah. Yulia tersentak. Rasa bersalah mengepung hatinya.
            “Sudah tiga minggu Nobon tak pernah lagi datang. Sms tak dibalas, teleponku tidak diangkat. Dan kamu pasti tahu kemana saja dia tiga minggu ini.”
            Yulia makin terdiam. Dia ingat, tiga minggu belakangan ini, Nobon bolak balik mengantar dan menjemput Yulia dari rumah sakit. Nenek opname. Berhubung Papa, Mama, kakak dan adiknya sibuk semua, Yulia kebagian tugas mengurusi keperluan nenek selama di rawat. Sepeda motor juga dipakai Papa untuk kerja. Kebetulan Nobon punya motor. Dan dia bersedia mengantar jemput Yulia dengan kendaraannya. Yulia merasa tertolong. Tanpa dia sadari, sahabatnya merasa dipotong.
            Yulia memang salah. Dia alpa meminta perkenan Susi. Dia mengandalkan kedekatannya yang telah sedemikian erat. Susi pasti mengerti. Dia seratus persen akan menyetujui, begitu duga hati Yulia. Konsentrasinya yang lebih besar pada kesehatan nenek, membuat urusan yang lain mengecil; termasuk tentang minta ijin memakai tenaga Nobon. Yulia merasa yakin kalau Susi akan memaklumi. Sama sekali tidak terlintas kalau akibatnya jadi runyam begini.
            “Aku minta maaf, Sus. Aku…”
            “Nggak perlu, Yul.” Potong Susi getas, “Aku yang bodoh. Mengapa aku percaya begitu saja pada orang yang mengaku sahabat, yang kelihatan alim dan lugu seperti kamu.”
            “Susi..!”
            “Lebih baik kamu segera minggat dari sini. Aku muak melihat gaya sok sucimu. Pergi!”
            “Susi..” Yulia memburu kaki Susi. Tapi gadis itu buru-buru menghindar masuk kamar. Yulia tertahan di depan pintu yang terkunci dari dalam. Sedu sedan Susi membuat hati Yulia redam. Tak henti-hentinya Yulia menyesali diri. Rasa bersalah mencambuk-cambuk hatinya hingga lebam.
            “Susiii.. please buka pintunya Sus..” ratap Yulia sambil memutar-mutar engsel pintu. “Aku minta maaf, Susi. Tolong buka pintunya…”
            “Pergi saja. Aku nggak akan memberi maaf pada penghianat seperti kamu,” lontar Susi dari balik pintu yang terkatup. Yulia luruh ke lantai. Dia sesenggukan, menumpukan wajahnya yang berlinang air mata ke daun pintu yang angkuh tertutup. Jemarinya lemah mengetuk-ngetuk. Tapi Susi malah semakin meradang. Dia menghantam daun pintu entah dengan apa. Suaranya berdebam. Sentakan daun pintu beradu dengan pipi  Yulia. Rasanya pedas. Yulia mengusap pipinya yang bergetar.
            “Pergi kubilang! Pergiii….!” Susi melolong bagai srigala terluka. Suara benda-benda menghempas pintu kamar mengikuti jeritannya. Yulia terguncang. Gentar mendengar Susi yang histeris.
            “Maafin aku, Susi…,” lirih Yulia berbisik seraya bangkit dari lantai. Limbung langkahnya menuju sepeda motor yang terparkir di halaman rumah Susi. Jalanan serasa bergelombang. Berayun-ayun seolah roda motornya meniti gumpalan lumpur. Tapi Yulia tidak ingin celaka. Dia berusaha tetap waspada mengendarai sepeda motornya. Berusaha keras mengatasi keruwetan hati; juga ramai jalanan, agar bisa tiba dengan selamat sampai di rumah.
            Hanya saja tidak mudah mengenyahkan kenyataan rusaknya persahabatannya dengan Susi. Terlebih pemicunya itu…teman makan teman? Aduh! Tangis Susi tidak juga lepas dari ruang mata. Nobon yang selalu siaga… Apa memang Nobon mengharapkan sesuatu? Kenapa Nobon tidak membalas sms dan menjawab telepon Susi? Bagaimana kalau Nobon meminta Yulia menggantikan posisi Susi di hatinya? Yulia jelas akan menolak. Tapi bagaimana cara menolaknya? Kalau Nobon tersinggung dengan penolakan Yulia dan berbalik memusuhinya, bagaimana? Padahal Yulia sudah banyak menerima pertolongannya. Ah…..
            Ruwetnya pikiran-pikiran itu membuat stang sepeda motor Yulia terkadang mengarah ke tempat yang salah. Laju kendaraan itu pun hampir saja menggilas kaki si bocah kecil tadi. Sekuat tenaga Yulia mengkonsentrasikan pikiran, tapi selalu saja ada celah kelengahan yang mengalihkan perhatiannya.
            Sepeda motor itu kini membelok ke Jalan Sudirman. Lalu lintas kian padat. Terutama di depan Ramayana Mal. Jubelan pengunjung terlihat memadati sekitar pusat perbelanjaan itu. Terkadang arus kendaraan tertahan ketika ada mobil yang ingin masuk ke areal parkir mal.
Gerimis merintik tiba-tiba. Orang-orang tersentak. Para pejalan kaki menggegaskan langkah. Ada yang berlari. Para pengendara motor pun lantas berpacu, tak membiarkan tubuhnya lebih lama terguyur. Raungan gas yang digeber kencang memekakkan telinga. Dan Yulia, ah, gadis itu masih saja terkungkung kepedihan. Gerimis yang menderas begitu leluasa menerpa sekujur tubuhnya. Jilbabnya mulai berat menampung lembab air.
Dan semuanya berlangsung dengan cepat. Pekak klakson yang dipencet karena panik. Suara benturan yang menyentak. Yulia terlempar. Lalu rasa sakit meremas di beberapa bagian tubuhnya. Yulia mengaduh. Menggigit bibir untuk menahan serbuan perih.
“Yulia…!” terdengar seruan kaget. “Nggak apa-apa. Aku akan menolong kamu,” entah dari mana datangnya, Nobon sudah tiba di situ. Dengan sigap pemuda itu mengangkat Yulia dari aspal yang basah dan membawanya ke dalam warung pecal lele di pinggir jalan. Yulia ditelentangkan di bangku panjang. Orang-orang mengerumuninya. Sebagian lagi mengejar si penabrak yang melarikan diri.
“Di mana yang sakit. Kita ke rumah sakit ya?” tanya Nobon sambil menepis bercak lumpur dari lengan baju Yulia.  
Yulia menahan napas. Wajah Nobon begitu dekat ke wajahnya. Tangan Nobon menggenggam jemari Yulia. Mengalirkan desir hangat, berbaur dengan denyut perih di belahan kaki kiri. Dada Yulia berdebar.
Tapi Susi…. Sahabatnya itu…
Spontan Yulia meloloskan jemarinya dari genggaman Nobon. Matanya dipalingkan ke arah lain, “Aku nggak apa-apa, Bon. Aku akan telepon Papa suruh jemput,” sambil meringis Yulia meraih ponsel. Untung benda itu masih utuh.
“Biar aku aja yang ngantar kamu pulang, Yul. Motormu kita titip, nanti aku ambil kemari,” usul Nobon. Yulia berusaha keras melawan rembesan sejuk di hatinya mendengar ungkapan perhatian itu. Ratap Susi mengiang.
Tak lama Papa datang. Setelah mendengar kronogis kejadian dari orang-orang sekitar yang melihat peristiwa tabrakan itu, Papa membawa Yulia ke rumah sakit. Beberapa orang pengejar si penabrak kembali dan melaporkan telah kehilangan jejak.
***
Yulia resah menunggu. Sudah tiga hari di rumah sakit, tapi Susi tak juga  menjenguk. Padahal Yulia sudah memberi tahu lewat sms, karena ditelepon Susi tidak mau mengangkat. Mungkinkah kemarahan Susi telah menjelma benci abadi?
Terdengar ketukan di pintu. Susi menoleh. Seketika dia menghela napas panjang.
“Bon, aku hanya mau menerima kalau kamu datang bersama Susi,” tegas Yulia. Wajahnya mengeras menunjukkan penolakan.
“Kenapa aku tidak bisa menjenguk sendiri, Yul? Kamu kok jadi aneh?” Nobon tetap mendekat.
“Tahan langkah kamu, Bon! Atau aku akan menjerit,” suara Yulia meninggi. Nobon tertegun. Langkah yang hampir menjejak ditarik kembali.
“Jangan datang menjengukku kalau Susi tidak bersamamu. Pergilah. Aku mau istirahat. Tidur,” Yulia menarik selimut hingga melewati kepala.
Terdengar helaan napas Nobon. Dari balik selimut tipis, Yulia melihat pemuda itu tertegun lama, menimbang-nimbang keputusan. Sekali lagi desah napasnya luruh ke udara, sebelum akhirnya dia berbalik langkah. Ketika bayangan Nobon hilang terhalang pintu, Yulia terisak di balik selimut.  

Payakumbuh, April ‘09