Tampilkan postingan dengan label cerita bersambung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita bersambung. Tampilkan semua postingan

Pariban dari Desa (6)


 
Pariban dari Desa
Oleh: Elwin FL Tobing
Bagian 6. Hidup Di Bui
            Mata Tigor mengabur. Dengan ujung jari disekanya genangan air matanya. Setelah penglihatannya kembali terang, dia mengulang membaca sms yang mampir ke ponselnya. Sms dari ibunya dengan meminjam hp sintua Molken tetangga mereka.
            Syukur pada Tuhan anakku, doa kita semua telah didengarNya. Engkau telah berhasil lulus dengan nilai yang baik. Engkau semakin dekat dengan gelar sarjanamu. Teruslah berjuang anakku sayang. Uma dan adik-adikmu selalu berdoa dan mendukungmu yang  jauh di perantauan. Walau hati kami rindu ingin bertemu dan bersamamu, tapi demi masa depan yang lebih baik, kita semua harus bersabar dan menahan hati yang yang bersedih karena  kita berjauhan begini…
            Itulah salah satu bunyi sms yang dikirmkan ibu Tigor. Masih ada dua sms lagi yang isinya hampir sama. Saking senang dan bangganya hati ibu itu membuat dia tak puas dengan hanya mengirim satu sms saja. Entah siapa yang disuruhnya mengetikkan kalimat-kalimat panjang itu. Sebab kalau ibu Tigor pasti belum bisa mengoperasikan perangkat komunikasi canggih itu. Tigor ingat, dulu, untuk menghidupkan radio saja ibu tak pernah mau. Dia tidak tahu.
            Tigor kuliah mengambil jurusan tehnik mesin. Papa mendukung sepenuhnya.
            “Sangat menunjang hobbimu yang suka dengan perbengkelan. Lanjutkanlah Bere.” Papa menepuk-nepuk pundak Tigor. “Kalau perlu, kita buatkan bengkel untuk kau  nanti.
            Serta merta Tigor mendongak penuh harap ke arah tulangnya. “Yang benar Tulang.”
            “Tenang saja,” Papa meraih kertas ujian semester dua Tigor dari atas meja. “Tulang senang melihat nilai-nilaimu ini. Sekarang…..tunjukkan pada Tulang kalau kau bisa mempertahankan prestasimu, syukur-syukur bisa meningkat. Kalau dalam dua tahun ini kau bisa memenuhi target yang Tulang kasih, Tulang akan buka bengkel untuk kau kelola nanti. Bagaimana?”
            “Oke, Tulang. Deal!” sorak Tigor.
            Papa menyambut tangan Tigor yang bergerak mengajak bersalaman, “Ester juga akan bangga padamu,”
            Tigor melihat binar senyum di bibir tulangnya. Juga tatapan orang tua itu manghangat. Sejenak Tigor gugup. Papa rupanya masih terus menyimpan asa perjodohan putrinya dengan Tigor. Bukankah Papa tahu kalau Ester semakin lengket dengan Samuel? Sekarang ini mereka berdua malah sedang liburan ke Danau Toba. Tigor melihat betapa bahagianya Ester saat bersama Samuel. Cemburu yang mengaduk hati sekuat daya dia lerai. Wajah ibu Tigor dan adik-adiknya selalu jadi penawar panas hati. Tigor ingin secepatnya lulus dan bekerja. Dia ingin adik-adiknya menyusul untuk bersekolah di kota. Kalau waktunya tiba Tigor juga akan mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya. Melupakan segala penat yang merontokkan tulang-tulang saat mengerjakan sawah yang tidak seberapa luas.
            “Tulang ingin melihatmu suatu hari nanti bersanding dengan Ester,” Papa menatap ke luar jendela kamar Tigor. Mungkin menitipkan asanya pada penguasa takdir manusia. Atau Papa juga terganggu dengan kedekatan Ester pada Samuel. Berulang kali Tigor melihat penolakan samar Papa bila Samuel datang bertandang. Tapi untuk melarang secara terang-terangan Papa enggan. Bagaimana pun juga Samuel adalah berenya. Anak dari saudara perempuan Papa. Ditilik dari pertalian darah Ester lebih pariban dengan Samuel. Sebab walau Tigor juga pariban Ester, tapi itu sudah dari garis saudara kakek.
            Bagi Tigor, perjodohan itu tak lagi begitu penting. Sebuah bengkel adalah target utama.
            Dua tahun kemudian bengkel yang dijanjikan Papa telah terwujud nyata. Tigor mengajak tiga sepupunya dari kampung untuk membantunya menangani bengkel baru itu. Ketiganya adalah lulusan STM Negeri Pansurnapitu dari Tarutung. Telah PKL selama enam bulan di sebuah bengkel besar di Siantar. Mereka juga tipe pekerja keras dan cepat belajar. Ketrampilan dan servis yang baik dari mereka membuat bengkel itu cepat berkembang dan segera memiliki pelanggan. Tigor sudah bisa membiayai kuliahnya dari hasil bengkel. Bahkan dia sudah bisa mengirim ke kampung untuk membantu ibunya menutupi keperluan sekolah adik-adiknya.
            Tapi hidup tidak selalu mulus. Manusia adalah mahluk yang ditakdirkan untuk menangis dan tertawa di sepanjang musim kehidupannya. Dalam hati setiap manusia ada rahasia yang hanya dia dan Tuhan yang mengetahuinya. Dan apabila rahasia itu terungkap ke permukaan, ada kalanya mencipta dampak yang menyesakkan, terutama bila rahasia itu adalah sebuah kecurangan..
            Papa diciduk polisi. Ada indikasi kalau Papa terlibat korupsi di kantor tempatnya bekerja. Lalu pengadilan membuktikan bahwa tuduhan itu ternyata betul. Papa menerima hukuman lima tahun penjara. Tigor terhenyak. Sama sekali tidak menyangka tulang yang sangat dihormatinya bisa terlibat perkara memalukan seperti itu.
            Ester, Ria  dan mamanya sangat terpukul. Hampir setiap hari mereka menangis. Selain menghadiri sidang Papa sebelum vonis kemarin, mereka hanya mengurung diri di rumah. Tak lagi punya nyali untuk menghadapi orang-orang di luar rumah sekalipun itu hanya pemungut sampah. Mereka merasa diri mereka lebih hina dari siapa pun di dunia ini. Mereka manusia rendah yang selama ini mencukupi kebutuhan hidup dengan hasil curian. Ester dan Ria tidak tentu lagi sekolahnya.
            “Malu Ma..” ratap Ester tak berdaya. Padahal Ester baru semester awal di perkuliahan.
            “Ria juga nggak mau sekolah. Ria nggak sanggup Ma…”
            Harta mereka mulai terkuras. Pengacara terkenal yang mereka bayar mahal ternyata tak sanggup menghindarkan Papa dari hukuman. Mereka juga diharuskan membayar denda yang jumlahnya sangat besar. Tidak berapa lama kemudian Mama mulai mencemaskan kelanjutan hidup mereka. Jangankan untuk biaya pendidikan Ester dan Ria. Untuk makan pun Mama mulai bingung.
            “Ester akan minta bantuan Namboru Samuel.” Ester teringat famili dekat mereka yang juga calon mertuanya itu. Saat hari gelap Ester memacu kreta menuju rumah keluarga Samuel. Kereta matic second itu adalah pengganti mobilnya yang sudah terjual. Dari rumah Ester di Deli Tua ke Simalingkar tempat keluarga Samuel lumayan jauh. Di tengah perjalanan hujan mengguyur kota Medan. Ester kebasahan. Padahal dia masih di Pasar Satu Padang Bulan. Ester menangis di tengah hujan. Gentar mendapati dirinya sendirian dikeroyok malam dan terpaan tajam air hujan . Andai saja tadi dia mengijinkan Tigor mengantarnya. Tapi tidak. Ester tak akan pernah memberi celah pada pemuda kampung itu. Ada dendam yang mendidih di dada Ester terhadap Tigor. Bengkel itu! Sepertinya Papa terpaksa korupsi demi berdirinya bengkel yang sekarang dikelola Tigor. 

bersambung ke bagian 7
'
Demi Tulang Dan Pariban Tersayang'       

Pariban dari Desa (5)


 
Pariban dari Desa
Oleh: Elwin FL Tobing
Bagian 5. Kunjungan Ibu
            Terik membakar siang. Debu beterbangan terkibas roda kendaraan Penumpang dalam mopen sibuk mengipas-ngipas. Tapi lelehan keringat tetap mengalir. Udara dalam mopen kian sesak karena ada seorang penumpang yang merokok. Dari celana yang dipakainya ketahuan kalau dia masih sekolah. Sedangkan bagian atas tubuhnya berbalut kaos oblong bertuliskan SALIB KASIH. Rambutnya acak-acakan. Matanya tajam, menyimpan kemarahan. Penumpang mopen yang kebanyakan ibu-ibu dan gadis pekerja kantor memilih diam, tak cukup nyali untuk menegor si pemuda tanggung yang merokok di dalam angkot.
            Di depan sebuah bengkel yang tak terawat, si pemuda melompat turun.
            “Sudah siap, Bang?” dia mendatangi seorang pria kurus yang belepotan oli.
            “Eh, kau Gor. Ya sudahlah. Masa cuma servis dan ganti oli saja seharian haha… Itu keretamu. Ambil saja..”
            Pemuda tanggung yang ternyata Tigor tak segera mengambil keretanya yang tadi dia titipkan untuk di servis dan ganti oli. Tigor malah memperhatikan Bang Saut dan dua anggotanya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Tigor berpikir sejenak. Setelah itu dia menuju kedai di depan bengkel. Memesan tiga botol coca cola dingin. Minuman itu diserahkannya pada Bang Saut dan anggotanya.
            “Minum dulu, Bang.”
            Bang Saut tertawa tanpa suara, “Masih sekolah saja uangmu sudah banyak. Apalagi kalau kau sudah kerja nanti.”
            Tigor juga tertawa. “Panas kali, Bang. Haus.” Sahutnya sambil mengusap keringat yang mengalir di pelipisnya.
            Tak lama kemudian seorang gadis terlihat mendorong kereta matic ke arah bengkel. Roda belakangnya meleyot.
            “Tambal bang..” gadis itu mencagakkan keretanya di depan Tigor.
            “Bentar ya dek. Habis ini ya.” Bang Saut menyahut ramah.
            “Aku saja yang nempel Bang.” Tiba-tiba Tigor mengajukan diri. Bang Saut menatapnya heran.
            “Tenang, Bang. Aku sudah sering memperhatikan Abang menambal ban. Tenang saja.” Kata Tigor berusaha meyakinkan Bang Saut. Pemilik bengkel bertubuh kurus itu tak segera menyetujui. Sebentar dia melihat sekeliling. Dua anggotanya masih sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Dan dia sendiri baru saja membuka karburator kereta di depannya. Masih agak lama untuk menuntaskannya.
            “Percaya sama saya, Bang. Pasti beres, tenang saja.” Tigor bangkit menghampiri kereta matic itu.
            “Gimana, Bang. Dia bisa nggak?” gadis itu khawatir.
            “Nggak apa-apa. Abang akan awasi agar dia kerjakan dengan benar.” Kata Bang Saut pasrah. Tigor tersenyum sambil mengacungkan jempol. Si gadis yang terus mengawasinya dihadiahi sebuah kedipan. Serta-merta gadis itu mengalihkan tatap. Jengah.
            Keraguan Bang Saut sirna melihat kecekatan Tigor. Semua urutan kerja cara menambal ban yang benar ternyata telah dihapalnya luar kepala. Tigor terlihat trampil melepas ban dalam. Mencari bagian yang bocor. Lalu menambalnya dengan rapi. Setelah itu dia memasukkan kembali ban dalam kereta itu pada tempatnya semula. Mengisi angin hingga ban itu kembali mengembang keras dan siap menahan beban sambil berlari di jalanan.
            “Udah bisa nih Bang?” Si gadis masih terlihat ragu ketika Tigor menyerahkan kereta itu.
            “Udah mantap itu dek.” Bang Saut yang menyahut senang.
            “Berapa, Bang?”
            “Tanya abang itulah.” Bang Saut mengarahkan mata gadis itu kepada Tigor.
            “Ya Abanglah. Masa aku. Yang punya bengkel kan Abang.” Elak Tigor yang sedang mencuci tangan di bak berair keruh di samping bengkel.
            “Ya sudah. Seperti biasa Dek, anam ribu”
            Gadis itu menyerahkan uang sepuluh ribu yang baru. Bang Saut memberi kembalian empat ribu yang lusuh. Dengan hati terpaksa gadis itu menerimanya. Uang kembalian itu dijejalkan begitu saja ke dalam anak tas-nya. Rupanya uang lusuh itu tidak memenuhi standar menghuni dompetnya yang beraroma wangi.
            “Besok-besok kalau nggak ada kerjaan, bantu sini aja, Gor.”
            “Beres, Bang.” Senyum Tigor melebar. Itu yang diam-diam diharapkannya. Belajar bengkel. Dia tidak tertarik belajar di sekolah. Seandainya Tulang memperbolehkan, Tigor ingin menekuni bengkel saja dan keluar dari sekolah.
***
             Ibu Tigor datang. Awalnya ibu itu tersenyum cerah melihat perawakan anaknya sekarang. Lebih bersih dan sehat dibanding waktu masih di kampung. Tigor sudah seperti anak kota.
            “Tapi sekolahnya tak berkembang.” Kata Papa. “Dia lebih sibuk di bengkel orang dari pada belajar. Saya kuatir Tigor nanti tidak lulus.”
            “Kenapa bisa begitu?” senyum ibu Tigor lenyap. “Uma menitipkan kau disini kan agar bisa sekolah tinggi. Tulang sudah bersedia menyekolahkan kau sampai sarjana. Kalau hanya untuk kerja di bengkel untuk apa kau jauh-jauh ke Medan ini. Di Tarutung saja.” Ibu Tigor sangat gusar.
            “Sadarlah nak. Kita ini orang miskin. Harusnya kau bersyukur diberi kesempatan bersekolah. Lihat adik-adikmu. Suatu saat kau harus bisa membantu mereka sekolah. Kalau kau menyia-nyiakan kesempatan ini, sama saja kau membunuh mamakmu ini. Apa itu maumu hah. Mengharapkan uma cepat-cepat menyusul bapakmu ke kuburan?” Air mata ibu Tigor merebak. Wajah kusamnya yang mulai digarisi keriput begitu nelangsa. Uban yang mulai menyisipi rambutnya menyembul satu-satu. Tigor meringkuk di bangku yang didudukinya. Tak kuasa menyahut. Dalam hatinya timbul penyesalan yang dalam.
            “Tulang juga kecewa, Gor.” Papa memijit-mijit keningnya. Agak lama dia terdiam mencari kata yang pas untuk menyampaikan maksud hatinya.
            “Begitu besar harapan Tulang padamu,” desah Papa menatap lekat wajah Tigor yang menunduk. “Tulang ingin suatu hari nanti melihatmu menjadi sarjana dan bekerja di tempat yang baik. Selain itu… Tulang juga berharap kau mengambil salah satu putri Tulang untuk menjadi istrimu..”
            Ester yang menguping pembicaraan itu sambil pura-pura baca majalah, bergidik. Tubuhnya terasa dingin. Hatinya berontak. Terlihat jelas Papa mengharapkan perjodohan dirinya dengan Tigor. Walau tadi Papa bilang ‘salah satu putri tulang’ tapi siapa lagi yang lebih tepat dalam pandangan Papa untuk menjadi pendamping Tigor? Tidak mungkin Ria yang masih kelas satu SMP itu.
            “Kau bisa merubah kelakuanmu?” terdengar ibu Tigor berucap serak tapi tegas.
            Tigor mengangguk. “Iya, Uma. Saya akan lebih rajin belajar..”
            “Itu untuk kau juga nanti, Bere. Tak apa-apa kalau kau ingin belajar perbengkelan. Itu ketrampilan yang penting juga. Dari pada kau ikut kawan-kawanmu keluyuran tidak jelas, Tulang lebih suka kau di bengkel itu. Tapi yang utama adalah sekolahmu. Kau harus lebih berprestasi di sekolah dibanding di bengkel. Kau mengerti?”
            “Iya, Tulang. Saya mengerti..”
            “Uma dan adik-adikmu sangat berharap sama kau, Nak.” Suara ibu Tigor melembut. “Setiap hari adik-adikmu selalu bercerita dengan bangga pada kawan-kawannya. Kata mereka, abangnya sekolah dikota agar jadi sarjana. Mereka membangun mimpi kalau suatu hari nanti kau akan mengajak mereka satu persatu ke kota untuk sekolah dan mendapatkan pekerjaan yang layak. Jangan kecewakan adik-adikmu anakku.”
            Mata Tigor memanas. Terbayang wajah kelima adiknya. Dia merasa bersalah sekali. Dengan punggung jari telunjuk dia menghapus titik air mata di pipinya.
            “Ini titipan itomu Risma.” Ibu Tigor mengeluarkan sebuah ulos yang baru ditenun. Nama Tigor terajut di ulos itu. Risma semakin mahir saja bertenun. Padahal umurnya baru sebelas tahun.
            “Kata Risma ulos ini harus kau pake di foto wisudamu nanti.”
            Tigor tak kuasa menyahut. Dia mendekap ulos itu ke wajahnya untuk menghempang linangan air mata.  

bersambung ke bagian 6
'Hidup Di Bui"
           

Pariban dari Desa (4)


 
Pariban dari Desa
Oleh: Elwin FL Tobing
Bagian 4. Maaf, IQ-nya Sedengkul.
 Ester pulang dibonceng Tigor. Papa yang melihatnya dari beranda, menatap mereka dengan wajah sumringah. Senyum menghias wajah Papa. Ester tidak suka melihatnya. Terlihat jelas betapa Papa begitu senang kalau Ester dan Tigor berdekatan. Semakin nyata keinginan Papa yang ingin mempersatukan mereka kelak.
“Kok kalian langsung pulang? Keliling-keliling dulu sebentar, makan bakso atau ke mal jalan-jalan.” Sambut Papa.
“Ester minta langsung pulang, Tulang. Padahal tadi aku mengajaknya ke tempat kawan, tapi dia nggak mau,”
Ih, si Naga Bonar norak ini! Siapa juga yang rela jalan sama kau, Ester mendelik tajam. Dia juga mengirim tatap tak suka pada Papa. Ester ingin memperjelas penolakannya. Mencoba menjodohkannya dengan si pemuda hutan itu hanya buang-buang pikiran dan tenaga. Ester tidak akan pernah menyetujuinya. Kalau terus dipaksa, dia memilih minggat ke Magelang. Ke asrama Samuel sang pujaan.
“Boncengan yah?” Ria memainkan bola matanya, menggoda. Dia membuntuti kakaknya masuk ke kamar. “Pegangan di pinggang Bang Tigor, enak nggak?”
Mata Ester mendelik, “Jangan rese ya! Siapa yang pegangan?”
“Jaddi…?” bola mata Ria mengerling jenaka, “pelukan? Aaaaahhh….”
Ester langsung menghela Ria keluar kamar. Didorongnya tubuh mungil adiknya  yang berkicau melontarkan kalimat-kalimat centil yang menyebalkan. Setelah itu, pintu dikunci rapat. Lalu Ester meraih hp-nya yang berdering memanggil-manggil.
“HUAAHAHAHA…….”
Ester menggelinjang mendengar tawa horror itu. Serta-merta dia menjauhkan telinga. Setelah tawa itu mereda, dia balik menyalak galak.
“Heh, nenek sihir. Kenapa kau gentayangan siang-siang, hah?”
“Karena melihat pemandangan paling ganjil. Ester dan Tigor berboncengan. Mesra dan norak, hahahaha….” Ternyata Maria.
“Heh, dengar, dengar!” Ester membentak, “tadi terpaksa, tau! Mobilku di bengkel. Aku pulang numpang mobil Tabita. Tapi di tengah jalan, mamanya telepon nyuruh Bita datang ke tempat seminar mamanya. Kebetulan Tigor lewat, jadi aku numpang. Soalnya Bita buru-buru, nggak sempat ngantar aku dulu.”
“Oo..gitu…”
“Ya emang begitu!”
“Yee…kok ketus gitu jawabnya.”
“Ketawamu itu, menyebalkan. Belum tahu masalah, sudah haha-haha kayak kesurupan kuntilanak.”
“Maap deh. Tapi….”
“Tapi apa?”
“Kejadian itu…. Kayak di sinetron-sinetron ya?” Maria menganalisa.    
“Apaan sih? Sinetron kok dihubung-hubungkan sama Tigor. Nggak pantas!” tolak Ester penuh hinaan.
“Yeee…sinis amat. Pariban sendiri juga. Calon suami…”
“MAAARRIIIAAAAAAAAAA…….”
“AAPPAAAAAAAA…….”
“Kau jangan ikut-ikutan norak, ya!”
“Kau yang sensitive kali. Aku kan cuma teringat adegan sinetron. Angkutan terkendala, eh kebetulan si cowok lewat. Ceweknya numpang. Mereka makin akrab lalu jadian. Akhirnya mereka menikah dan hidup bahagia selamanya.”
“Norak. Nggak masuk akal.” Ester uring-uringan
“Kata siapa? Kita lihat aja nanti. Paling juga lulus SMA, Tigor melamar kau. Lalu kalian menikah dan hidup sederhana di desa.”
“He, gila. Norak menjijikkan. Noraaaaaaak….” Lalu Ester memutus hubungan. Masih sempat lolong tawa horror Maria lolos dari speaker hp. Menyebalkan.
Pintu diketuk dari luar.
“Siapa?”
“Disuruh Papa menemani bang Tigor mengambil Kartu Keluarga ke Kelurahan.” kata Ria dari balik pintu. Suaranya mendesah manja yang dibuat-buat.
Ester menggigit bibir menahan semburan geram.
“Suruh pergi sendiri. Manja kali harus ditemani.”
“Bang Tigor kan belum tahu jalan ke sana. Nanti dia nyasar, hayo siapa yang kehilangan. Kakak kan?” desah menjengkelkan itu semakin menjadi-jadi.
“Jangan ngaco kau ya! Kau saja yang menemani. Aku nggak mau. Capek. Mau tidur.”
“Paaaaaa….Kak Ester nggak mauuuuuu….”
“Iiih.” Ester bergegas membuka pintu. “Anak kecil tahunya ngadu.” Dia hendak  meremas hidung Ria. Tapi adik centil itu gesit berkelit.
“Kenapa nggak mau?” Papa terlanjur mendengar pengaduan Ria.
“Ka..mwap” sebelum meneruskan ucapan, tangan Ester keburu membekap mulut adiknya.
“Iya, Pa. Sebentar.” Ester menyerah. Takut kalau Papa sampai marah. Setelah menolakkan tubuh Ria disertai mimik mengancam, Ester masuk kamar untuk menukar seragam sekolah dengan kaos biasa.
“Sebentar ya, Bang Tigor. Kak Ester lagi dandan.”
Wajah Ester memerah mendengar teriakan Ria yang sengaja dikeras-keraskan.
Motor melaju ke Kelurahan. Tigor memacu dengan tubuh kaku. Ester apalagi. Dia ketat menjaga jarak. Tak ingin sedikitpun ada bagian tubuhnya yang menyentuh Tigor.
“Aku nggak akan pernah menuruti keinginan Papa. Lebih baik mati muda dari pada harus dijodohkan sama kau.” Ketus Ester sambil menahan tubuhnya agar tidak pernah terdorong ke depan.
“Kau harusnya tahu diri. Kau sudah disekolahkan keluarga kami. Itu kan sudah lebih dari cukup. Jangan lagi kau berharap yang lain. Terlebih mengharapkan aku jadi istrimu nanti. Itu tidak akan pernah terjadi.”
Helm yang dipakai Tigor berayun-ayun mengikuti anggukan kepalanya. Pertanda dia memahami perkataan gadis itu.
“Kau kan orang desa. Cocoknya sama cewek desa juga. Biar klop.” Ester kian gencar menekan. Memperlihatkan sejelas-jelasnya ketidaksudiannya dijodohkan dengan Tigor.
Sekeluarnya dari kantor kelurahan ponsel Ester bergetar. Dia melihat nomor baru tertera di layar. Agak ragu, dia menyapa si penelepon.
“Lupa ya?” suara seorang laki-laki yang masih asing di telinga Ester.
“Ini siapa?” Ester menyentak judes.
“Adduh, galaknya pariban cantikku.”
“Nggak usah gombal ya. Nggak perlu sok akrab. Nggak penting. Ini siapa?” Ester sudah berniat memutus hubungan ketika tiba-tiba si penelepon berkata, “Ini Samuel. Maaf ya udah mengganggu.”
Seketika Ester membelalakkan mata seraya mendekap mulutnya yang spontan menganga. Setelah berhasil mengembalikan hatinya yang sempat terpelanting, Ester tertawa ramah.
“Ini benar Bang Samuel? Kok suaranya beda?” renyah suara Ester. Tawanya berderai penuh penyambutan.
“Nggak berubah kok. Kau aja yang berubah. Makin galak.”
“Sorry ya, Bang. Aku pikir tadi orang iseng. Tau sendiri kan, sekarang banyak penipuan lewat hp. Aku takut kena. Makanya aku tegas kalau ada orang yang telpon pake nomor yang nggak ada ku-save. Lagian suara Abang berubah lho. Lebih berat dari yang kemarin kayaknya.”
“Udah makin tua, Es. Suara juga jadi tambah berwibawa hehe.. tinggal merrid-nya nih yang belum.” Samuel tergelak. Ester merasakan dadanya berdebar.
“Ya udah merrid! Tinggal merrid ini….”
“Makanya telepon pariban.” Samuel kian genit. Debar Ester makin menjadi.
“Tenang aja. Mau minta kado apa juga nanti aku kasih…hatsyiii, hatsyiiiii…” saking groginya, Ester sampai bersin-bersin.
“Sakit ya, Iban?”
“Iya nih. Kemarin kena gerimis..”
Tigor mendesis. Gerimis? Matanya menatap cuaca yang cerah. Akhir-akhir ini seingatnya tak ada turun hujan. Gerimis juga. Siapa gerangan lawan bicara Ester, sampai nada suara paribannya itu berubah jadi lembut mendayu. Selarik cemburu melintas di hati Tigor. Ditekannya kuat-kuat. Bukankah sudah jelas? Ester tak sudi jadi istrinya. Tigor harus membuang jauh-jauh hasrat itu. Walau sejak pertama bertemu dia sudah terpesona dengan kecantikan paribannya, tapi tak bijak rasanya kalau dia meneruskan mimpi. Restu dari tulangnya, yaitu papa Ester, memang sudah terlihat. Malah Tulang terus berusaha mendekatkan mereka. Tapi Nantulang, yaitu mama Ester, sejauh ini tak terlihat mendukung maksud suaminya. Terlebih Ester. Semakin hari penolakannya kian berkobar. Kalau bukan karena papanya, mungkin sudah sejak lama Ester mengusirnya pergi.
“…Oh, si Tigor..”  Ester memberitahukan namanya pada si penelepon.
“Nggak tau tuh! Papa yang minta dia tinggal di rumah. Padahal orangnya nggak ada apa-apanya. Udah jelek, di sekolah juga bodoh….”
Tigor sesak napas. Wajahnya merah padam. Sungguh Ester tak punya perasaan. Menghinanya terang-terangan. Menyebarkan kekurangnya pada orang yang tidak dikenal. Darah Tigor bergejolak. Dia menstarter motor dengan kasar. Menyentak-nyentakkan gas hingga mesin menderum keras memekakkan telinga.
“Hei…ribut kali kau!” seseorang membentak dari dalam kantor lurah. Sementara Ester buru-buru menjauh. Sebentar dia mendekapkan tangan pada ponselnya. Lalu menoleh pada Tigor.
“Hei orang gila. Kau pulang sendiri sana. Aku naik mopen. Sinting.”
Setelah itu dia kembali melanjutkan pembicaraan dengan Samuel.

bersambung ke bagian 5
' Kunjungan Ibu'

Pariban dari Desa (3)


 
Pariban dari Desa
Oleh: Elwin FL Tobing
Bagian 3. Bukan Dia yang Kupilih
            Kuping Ester benar-benar muak. Dia tidak tahan lagi mendengar lagu batak yang merinih-rintih dari kamar sebelah yang ditempati Tigor. Dia beranjak membuka pintu kamarnya dan bergegas mengetuk kamar Tigor. Tanpa menunggu ijin dari penghuni kamar, Ester menerobos masuk.
            “Hei! Matiin tuh lagu. Norak tau nggak. Sakit kuping dengarnya!” bentak Ester galak. Tigor yang sedang tengkurap sambil menulis sesuatu, terlonjak kaget. Di rumah hanya ada mereka berdua. Papa, Mama dan Ria sedang ke mal. Kalau tahu rumah kosong begini, mending tadi Ester ikut Maria nge-rujak ke rumah Lea.
            Tigor bangun dan berjalan ke arah compo dvd. Tapi dia tidak mematikan, hanya mengecilkan suara lagu yang mengalun.
            “Aku bilang kan matikan!”
            “Kalau aku tidak mau, kau mau apa?” tanpa diduga, Tigor bereaksi sama kerasnya dengan Ester. Gadis itu tertegun. Gentar melihat kilat tajam di mata Tigor.
            “Kau nggak tau sopan ya. Wajahmu saja yang cantik. Kelakuanmu ternyata lebih kasar dari preman,” tuduh Tigor dengan tatapan tajamnya yang semakin runcing. Sisa kekesalan Ester tertahan di tenggorokan. Kini dia ketakutan. Kalau Tigor hendak mencelakainya, dia akan jadi korban tanpa daya. Tidak mungkin dia mampu melawan kekuatan cowok kampung bertubuh kukuh itu.
Tanpa mampu berucap apapun lagi, Ester berbalik kembali ke kamar. Pintu dikuncinya dari dalam. Pendengarannya dikonsentrasikan ke arah kamar Tigor. Waspada terhadap tindakan lanjutan dari cowok itu. Tapi sampai lama kemudian tidak terdengar gerakan atau suara yang mengancam.
            Dada Ester masih saja bergetar. Dia tidak menyangka sama sekali. Tigor berani membangkang perintahnya. Tidak itu saja. Cowok kampung itu bahkan berhasil memaksa Ester tak berkutik. Siapa sih yang jadi tuan rumah?
            Ester berniat mengadukan sikap kurang ajar Tigor pada Papa, Mama dan Ria. Mereka harus cepat menyadari kalau pemuda yang mereka tampung di rumah itu; yang dikasih makan dan dibiayai sekolahnya, bukan anak baik-baik. Dia anak durhaka. Baru beberapa minggu saja dan belum jadi apa-apa, sudah berani melawan kehendak tuan rumah. Itu tidak boleh dibiarkan Keberadaan Tigor harus segera di tip-ex dari Kartu Keluarga.
            Tapi….. Papa…! Sejak Tigor menambah jumlah bilangan cowok di rumah,  Papa terlihat lebih riang. Papa sudah mulai berani berdebat untuk menonton sepak bola. Padahal sebelumnya, Papa selalu saja pasrah kalau Mama, atau Ester, atau pun juga Ria menukar chanel bola ke sinetron. Kehadiran Tigor juga membuat Papa lebih sering bercanda dan tertawa lepas. Tigor adalah sekutu Papa yang paling dekat saat ini.  
            Ester mendengus kesal. Setiap terngiang kata-kata Tigor tadi, hatinya kembali terbakar. Ingin sekali mengusir pendatang haram itu saat itu juga.
            Ketika Papa dan Mama sudah tiba kembali di rumah, Ester tidak jadi mengadu. Setelah berpikir ulang, dia merasa posisinya justru lemah. Sikapnya memang kasar saat menerobos ke kamar Tigor dan membentak-bentak paribannya itu. Bisa jadi Papa justru menyalahkannya kalau Tigor membeberkan kelakuan Ester yang kurang beradab itu.
***
            “Aku nginap di rumahmu ya, Mar.”
            Maria mendelik. “Malam ini?”
            Ester mengangguk.
            “Tapi ini kan bukan malam minggu. Juga bukan hari libur. Apa kamu diijinin mama kamu?”
            “Cari alasan apa kek ntar.” Keluh Ester dengan wajah nelangsa. Maria geleng-geleng. Kembali menyuapkan bakso ke mulutnya yang mulai kepedasan. Sementara mie  ayam di depan Ester belum terusik sama sekali. Sejak tadi Ester hanya berulang menyeruput teh botol. Sambil tak henti berkeluh kesah mirip ibu-ibu tak kebagian minyak tanah.
            “Masalah paribanmu itu ya?” tanggap Maria. Mendengar pertanyaan itu, Ester mau menangis. Lemas.
            “Sepertinya Papa mau menjodohkan aku sama dia, Mar. Gila kan.” Ratap Ester kembali menyeruput teh botol hingga tandas. Pipet yang menyedot angin berbunyi dengan berisik. Orang-orang di kantin melirik jijik.
            “Heh, norak tau. Minta lagi sana kalau masih kurang,” Maria melotot. Dengan gerakan mengambang Ester meraih fanta di depan Maria. Meneguknya langsung dari botol.
            “Biasa saja, dong! Nggak usah didramatisir kali. Cuma dijodohin ini.” Komentar Maria sebal.
            “Andai dengan Samuel, aku akan menyambutnya dengan sorak-sorak bergembira. Tapi Tigor, si orang hutan itu…”
            “Sssttttt……” Maria memberi isyarat ke arah pintu. Tigor muncul di sana bersama Anto dan Taufik.
            “Horas kawan-kawan!” sapa Tigor dengan logat batak yang masih sekental kecap Asahan.
            “Ya ya.., horas, horas…” sahut entah siapa. Wajah Ester memerah. Manusia gua ini…sudah tiga bulan di kota masih saja pakai sapaan primitif. Horas? Ih…
            “Gimana hasil ulangan kalian?” Tanya Madi dari kelas lain.
            “Matematika yang kemarin maksudmu?” Taufik memastikan. Madi mengangguk.
            “Dapat dua belas.”
            “Nilai kok dua belas. Apaan?”
            “Aku dapat empat, Anto lima, Tigor tiga. Semuanya dua belas?” jelas Taufik.
Madi tergelak. “Hancur kali kalian.”
“Soal-soalnya kurang menantang, Di. Jadinya malas ngerjainnya.” Celetuk Anto. Anak-anak yang mendengar mencibir geli.
“Lagipula matematika itu kebanyakan angka. Harusnya digabung juga sama gambar artis, biar diliatnya enak. Kalo angka saja mataku suka kabur.” Tigor berkomentar semakin ngaco. Tawa mereka meledak terbahak-bahak.
“Eh, Gor! Kalo pariban itu maksudnya gimana?” Taufik bertanya tiba-tiba seraya sudut matanya melirik Ester penuh gangguan.
“Pariban itu ya orang yang berpotensi besar jadi pasangan hidup kita. Iya kan, Gor?” Madi yang menjawab. Sementara Tigor ikut-ikutan melirik ke meja yang ditempati Ester dan Maria. Tatapannya bertemu dengan pandangan tidak suka Ester. Tigor manahan napas.
“Berarti Ester berpotensi besar jadi istrimu dong, Gor. Waow…beruntungnya dirimu, ces. Cantik juga calon istrimu!” sambut Taufik bernada iri. Tigor kembali menatap Ester. Dia jadi tidak enak hati melihat Ester meninggalkan kantin diikuti Maria. Maria kembali berbalik teringat mereka belum membayar makanan.
Saat tiba di kelas Maria mendapati Ester menangis.
“Hei! Kau kenapa?” Maria mendekat.
“Aku nggak mau jadi istri tarzan itu. Tigor sialan!” maki Ester kalap.
“Kalau nggak mau ya nggak usah. Nggak ada paksaan kok.
“Tapi dia paribanku, Mar!”
“Alah..! pariban nggak jelas juga. Bisa ditolak kok.”
“Aku takut kualat, Mar.”
“Apanya yang kualat?” Maria menatap aneh. “Sadar, bu. Ini bukan jaman Sisingamangaraja. Ini era emansipasi. Artinya, wanita berhak milih laki-laki yang dia inginkan jadi suami. Wanita juga bisa menceraikan suami yang udah nggak dia suka. Sadari itu!” tandas Maria provokatif.
Perlahan mendung menyisi dari wajah Ester. Air mata yang sempat menetes diusapnya sampai benar-benar kering. Kalimat tegas yang menghambur dari bibir mungil Maria rupanya begitu besar pengaruhnya. Gang buntu yang menjulang di hati Ester kini menjelma jalan tol bebas hambatan yang lebar dan panjang membebaskan pikirannya yang semrawut.
Dia melirik centil pada Maria. “Berarti aku bisa dong milih Samuel jadi suamiku.”
“Jelas bisa!”
“Asyiiik….. Yes!” Ester kegirangan.
“Kalau dia mau.” Cibir Maria lucu.

bersambung ke bagian 4. 
'Maaf, IQ-nya Sedengkul'

Pariban dari Desa (2)


 
Pariban dari Desa
Oleh: Elwin FL Tobing
Bagian 2. Pariban Dari Desa
            “Wah, cantik sekali anggiku ini,” ibu yang juga berpenampilan dusun itu bangkit meraih tangan Ester. Lalu meraih kepalanya dan mencium pipi Ester. Bau keringat apek merontokkan penciuman Ester, membuat dia terbangkis keras. Hatsyi.. hatsyii…
            “Itu paribanmu! Kok tidak disalam?” Papa memberi isyarat pada si pemuda untuk bangkit. Tersenyum kaku atau mungkin canggung, pemuda itu berdiri dan mendekati Ester. Mengulurkan tangannya, “Horas, Pariban!” sapanya dengan logat batak yang biasa didengar Ester di sekitar Amplas atau di seputar loket-loket bus tujuan Tarutung.
            “Ho..ho..ras…” ragu-ragu Ester menerima genggaman pariban yang belum bisa diidentifikasinya itu. Auw! Ester memekik kecil. Telapak tangan pemuda itu pasti terbuat dari parutan kelapa. Kasar kali. Ester kesakitan. Memaki dalam hati.
            “Duduk boru! Di sebelah namboru saja duduknya.” Suruh Papa. Padahal Ester sudah ingin buru-buru minggat dari lokasi yang merusak mood-nya habis-habisan itu. Menyesal telah berdandan. Kalau cuma pemuda gunung itu yang melihat, untuk apa?
            “Ester banyak PR, Pa! Ester ke kam….”
            “Sebentar lagi. Temani dulu namboru sama paribanmu ngobrol-ngobrol.”
            “Sepertinya Ester tidak jelas mengenal namborunya ini ya?” kata si ibu dusun menangkap kegelisahan Ester. Gadis itu tersenyum kikuk. Dia memang tidak mengenal. Papa kemudian mengenalkan.
            “Namboru ini putri dari abangnya kakek. Mereka tinggal di desa Ri Nabidang. Agak jauh dari kampung kakek di Sitarealaman. Makanya kita jarang ketemu kalau pulang kampung. Dari Sitarealaman kampung namboru ini masuk jauh lagi ke dalam kira-kira lima enam kilometer.
            Ester merinding. Busyet! Di hutan mana kampung namboru ini? Desa Sitarealaman, tempat tinggal kakek dan nenek dari ayah, saja sudah sunyi mencekam. Kalau masuk lagi ke dalam sejauh lima kilometer…… Di benak Ester membayang kampung primitif dengan rumah-rumah di atas pohon dan penghuninya yang hidup liar di rimba belantara. Takut-takut Ester melirik namboru dan putranya. Membayangkan pemuda itu memakai pakaian dari kulit macan, menggenggam tombak, sambil berkelebatan di hutan berburu mangsa. Manusia kannibal. Hiii…!!
            “… Pa…PR Ester…” Ester tidak tahan lagi berada di situ.
            “Iya sudah. Kerjakan PR-mu. Besok kalian masih bisa ngobrol-ngobrol.”
            Setelah mengangguk cepat pada namboru dari hutan itu, tanpa mengacuhkan pariban dari hutan, Ester cepat-cepat menghilang ke kamar. Sampai di dalam dia menghempaskan punggungnya ke kasur. Menghela napas berulang-ulang untuk meredakan debar tak beraturan di dadanya. Terbayang wajah pemuda itu. Rupa yang kasar, tatapan tajam serupa mata harimau kesurupann.
            Malamnya, Ester mimpi buruk. Dia jadi tawanan namboru dan paribannya itu di sebuah hutan penuh gua berlumut. Tubuh Ester diikat dengan belitan kuat memakai akar pohon. Manusia-manusia kannibal menari-nari sambil mencerau dengan suara ganjil  sambil mengitari api unggun yang berkobar panas. Masing-masing memegang tombak atau pedang tajam yang ditikam-tikamkan ke udara. Satu-persatu burung pemakan bangkai mendekat lalu hinggap di dahan pohon meranggas, dekat tubuh Ester yang terbelenggu kuat.
            “Bawa tawanan kemari,” perintah namboru. Rupanya dia kepala suku di situ. Dua manusia hutan bertubuh raksasa menyeret Ester. Dia dibawa ke tengah-tengah lingkaran. Diikat pada sebuah tonggak kayu dengan tangan terangkat ke atas. Melihat itu tarian para manusia kannibal semakin liar tak terkendali. Ceracauan dari mulut mereka semakin bergemuruh mengancam.
            “Kita adakan sayembara,” suara Kepala Suku menggelegar. Cukup kuat untuk mengatasi sorak-sorai di sekitarnya. “Barang siapa yang bisa melemparkan tombak persis mengenai leher tawanan dari jarak tiga puluh meter, dia boleh lebih dulu memakan bagian yang paling disukainya dari tubuh tawanan.”
            Gemuruh merobek langit dari mulut para kannibal. Mereka melompat-lompat. Mengacung-acungkan tombak ke arah Ester yang menggigil ketakutan. Mereka beranjak mengambil jarak sejauh tiga puluh meter. Kannibal pertama maju sambil menenteng tombak dengan ujung berkilat tajam. Mengambil ancang-ancang. Para kannibal lain riuh bersorak-sorak. Kannibal pertama itu mengayun tangan kanan berisi tombak jauh ke belakang. Wajahnya terlihat. Ester terkesiap. Dia anak namboru itu. Dengan disertai lolongan keras dan hentakan kuat, anak namboru kannibal itu melontarkan tombak ke arah tubuh Ester yang terikat tak berdaya. Dia hanya bisa menjerit kalap, “TIIIIDAAAAAK…..!”
            Ria terlonjak bangun sambil mengucek-ucek telinga kanannya yang jadi sasaran telak jeritan kakaknya. Dengan gemas dia memencet hidung Ester yang masih larut dalam mimpi sial. Karena sesak napas, Ester terlonjak bangun. Dadanya turun naik menahan debar. Keringat membercak di wajahnya.
            “Kira-kira dong kalau teriak. Udah malam nih,” protes Ria. Matanya melirik ke jam mungil di dinding. Pukul dua lewat empat puluh.
            “Uuuhh! Untung cuma mimpi..” Ester masih ngos-ngosan. Mengusap-usap dada, menyukuri kenyataan. Untung ayunan runcing tombak ke lehernya hanya mimpi belaka.
***
            “Benar-benar sial,” rutuk Ester sambil menghempaskan tubuh di samping Maria yang sudah datang lebih awal. Kelas mulai ramai. Di meja Riana sudah ada tiga anak yang menyalin contekan PR matematika.
            “Kenapa kau? Ribut sama adekmu?” ulik Maria menanggapi kalem.
            “Ada cowok di rumahku. Dari kampung. Kata Papa, dia mau melanjutkan sekolah di sini.” Curhat Ester dengan wajah terlihat resah.
            “Masalahnya?”
            Ester menarik napas, “Aku nggak suka sama dia,” dia melontarkan napas yang menggelembungkan dadanya.
            “Kok?”
            “Ya nggak suka aja. Sejak pertama melihatnya aku sudah takut. Saking takutnya sampai terbawa mimpi buruk. Tadinya aku pikir yang datang bertamu itu namboru Samuel sama Samuel. Aku sudah senang. Aku naksir sama paribanku yang ganteng itu. Tiba-tiba yang nampak malah ibu berpenampilan kampung dengan anaknya yang berpotongan preman. Aku nggak ngerti dengan maunya papa. Dia yang meminta putra namboru dari kampung itu untuk melanjutkan sekolah di sini. Mending kalau anaknya bagus. Minimal gantengan dikitlah. Ini, sudah seram, pas dilihat rapornya semester lalu, ai mak, hancur! Siapa yang nggak resah berdekatan dengan dia. Potongan preman terminal begitu dibawa-bawa ke rumah,” Ester berkeluh-kesah dengan suara yang menghiba-hiba persis tki yang gagal berangkat ke luar negeri. 
            “Papamu kok baik kali sama mereka?” tanya Maria ingin tahu.
            “Menurut Papa, ayah namboru itu banyak membantu biaya sekolah Papa dulu. Jadi Papa mau membalas dengan menyekolahkan salah satu keturunan donaturnya itu.” Cerita Ester.
            “Tapi kan nggak harus dibawa kemari. Biar saja paribanmu itu…”
            “Namanya Tigor,” potong Ester yang tidak suka dengan sebutan Maria.
            “Tigor? Ugh! Dari namanya saja sudah bisa ditebak bagaimana orangnya. Heran ya. Nama jaman Sisingamangaraja masih saja dipake,” Maria ikut-ikutan mencela. Lalu melanjutkan maksud omongannya tadi, “Tapi bisa saja dia tetap sekolah di kampung. Biayanya biar papamu kirim dari sini. Iya kan?”
            Ester mengeluh. “Aku juga sudah bilang begitu ke Papa waktu sarapan tadi. Tapi katanya Tigor sengaja dipanggil untuk menemani Papa. Aku jadi nggak enak mendesak Papa. Mungkin karena di antara dua anaknya tidak ada yang cowok, makanya dia rindu kehadiran anak cowok di rumah. Tau deh,” ucap Ester dengan kepasrahan yang terpaksa.
            “Jadi si Tigor itu mau sekolah di SMA mana?” tanya Maria lirih. 
            “SMA sini.”
            “Kelas berapa?”
            “Tiga.”
            “Berarti nggak ada kemungkinan satu kelas sama kita dong.”
            Ester tidak menjawab. Bel tanda masuk berbunyi nyaring. Malas-malasan Ester mempersiapkan buku. Mata pelajaran pertama adalah matematika. Otak Ester terasa kian pengap saja. Kok tidak ada ya mata pelajaran ‘curhat’. Itu kan penting.
 
bersambung ke bagian 3.
' Bukan Dia yang Kupilih'

Pariban dari Desa (1)


Pariban dari Desa
Oleh: Elwin FL Tobing
Bagian 1. Tamu Tak Terduga
            Ada tamu di ruang tengah. Ester mendengar pembicaraan yang sayup-sayup melintas pendengarannya. Menarik kesadarannya sedikit demi sedikit dari ranah mimpi yang tidak pernah jelas awal dan akhir. Ester menyibak boneka teddy bear yang menyumpal setengah bagian wajahnya. Matanya memicing ke dinding. Jam mungil di sana menunjuk angka empat lewat dua belas menit. Sudah sore.
Percakapan dari ruang tengah semakin jelas melintas. Tapi segera tersamar oleh suara yang tiba-tiba meriuh dari lapangan basket di sebelah rumah. Nyaring kokok ayam ikut menyumbang vokal; mungkin berasal dari perkampungan penduduk di belakang komplek perumahan yang dihuni keluarga Ester.
            Dengan langkah sempoyongan Ester meraih pintu kamar. Memutar pegangannya yang bulat. Pintu terkuak, gelak tawa dari ruang tengah berkumandang bebas di seluruh ruangan. Tamu dari mana ya?
            “Ester! Kemari, Boru!” panggil Papa. Tumben Papa memanggil sehangat itu. Ester menahan langkahnya yang hendak menjangkau handuk mandi di jemuran samping. Untuk apa sih Papa memanggilnya menghadap tamu dengan tubuh bau asem begini.
            “Nanti saja ya, Pa! Ester mandi dulu.”
            “Ini, ada namboru sama paribanmu datang. Salam dulu,” bujuk Papa masih sehangat martabak di kuali.
            Papa? Tega sekali memajang anak gadisnya di depan namboru. Ada paribannya pula! Ester meremas handuk mandi yang sudah berhasil diraupnya dari jemuran. Grogi. Dia merasa tidak sanggup berdiri di depan Samuel, paribannya yang sejak kecil diam-diam sudah dikaguminya. Samuel tampan. Terlebih sejak masuk akademi militer di Magelang, semakin bersinar raut gantengnya ditunjang tubuh kokoh berotot.
            “Bentar ya Pa, Ester ke kamar mandi…” langkah Ester tidak beraturan menapak lantai. Kepalanya menunduk. Rambut panjangnya sengaja digerai ke samping untuk menghalangi pandangan dari mereka yang duduk di ruang tengah.
            “Huu… Yang nggak biasa didatangi pariban. Grogi ya!”
            Ih, Papa! Apa-apaan sih? Ester bergegas menyelamatkan diri ke kamar mandi. Mengunci pintu rapat-rapat. Menghalangi tawa deras Papa menerobos ke ruang lembab yang beraroma pinus itu. Ester gemetaran. Tak juga melakukan apa pun selain hanya menyiram-nyiramkan air ke kaki jenjangnya, sampai air di bak berkurang hingga setengah. Hati dan pikirannya sibuk menerka-nerka maksud kedatangan namboru dan putranya yang gagah. Apakah…..urusan perjodohan?
            Menyembul dalam benak Ester hari dimana namboru Kak Ribka (tetangga sebelah rumah Ester) datang berkunjung. Kedatangan itu ternyata lamaran untuk Ribka. Desember di tahun yang sama Kak Ribka dan paribannya sudah melangsungkan pernikahan. Permintaan namboru konon tidak bisa ditolak. Kak Ribka yang ketika itu sudah punya pacar, tidak sanggup menghadang bujukan ayah dan namborunya. Apa kedatangan namboru Ester kali ini membawa maksud yang sama?
            Tapi Ester masih kelas satu SMA. Terlalu dini kalau namboru melamarnya saat ini. Apa mungkin Samuel yang memaksa? Siapa tahu Samuel takut terlambat, paribannya yang cantik keburu disambar orang. Ester mengulum senyum bangga.
            Sebenarnya Ester jarang bertemu dengan Samuel. Walau sama-sama tinggal di Medan, tapi pertemuan yang jelas hanya terjadi saat tahun baru tiba. Saat itu Samuel dan keluarganya mengunjungi keluarga Ester. Bersalam-salaman, meminta maaf atas semua kesalahan yang dilakukan di tahun yang lalu, baik disengaja atau tidak. Dilanjutkan dengan ungkapan doa agar apa-apa yang sedang dirancang atau sudah berjalan di tahun yang baru bisa berjalan lancar. Apalagi sejak Samuel diterima di Magelang, praktis tak ada lagi pertemuan. Mungkin Samuel ada libur, sehingga dia bisa datang berkunjung.
            “Ester….., kok lama kali di dalam. Ngapain aja sih?” teguran Mama membuyarkan lamunan Ester. Dia tersadar semenjak tadi belum juga membersihkan diri.
            “I..iya, Ma…. Bentar lagi siap…” dia tergagap-gagap sambil buru-buru melepaskan pakaiannya. Tapi dia tak bisa langsung mandi. Air di bak ternyata habis terkuras untuk membasahi sepasang kakinya tadi. Ester membuka kran lebar-lebar. Lagi terdengar derai tawa Papa dari ruang depan. Bahagia amat sih? Hati Ester semakin dibuncah tanya. Tidak biasanya Papa tertawa selepas itu.  
            “Esteerrr…. Cepat, Mama juga mau mandi. Ngapain di dalam?” omel Mama sambil menggedor pintu kamar mandi.
            “I..Iya, Ma, iya. Ini lagi nunggu bak-nya penuh..” Ester panik memutar kran, berharap kucuran air makin deras. Tapi tentu saja tidak bisa. Putaran kran sudah kandas.
            “Tadi kan sudah Mama isi penuh. Kok bisa habis? Ke mana?” Mama heran bercampur gregetan. Wajah Mama terlihat berkeriut dengan sebelah tangan diam-diam meremas perut. Ternyata dia sakit perut. Pantas!
            “I..ini juga sudah penuh lagi kok, Ma. Ester mandi sebentar ya....” lalu dari dalam kamar mandi terdengar suara air mengguyur. Mama hanya bisa mengegeleng-gelengkan kepala. Kembali berbalik ke dapur. Dia hapal acara mandi Ester. Tidak akan pernah bisa cepat. Setengah jam lagi dia baru akan keluar dari sana. Sebaiknya Mama numpang ke toilet tetangga saja deh. Dari pada meleleh di celana? Hayo…
***
            Sekali lagi Ester menatap ke kaca. Memeriksa penampilannya. Hm, cukup oke. Ester menyamping, meneliti dandanannya kalau dilihat dari sisi. Ehhem. Sip! Dia berjalan menggapai pintu kamar. Memutar  pegangannya. Aeh, tunggu! sekali lagi! Ester kembali ke depan cermin. Meneliti wajahnya, meyakinkan diri. Memutar tubuhnya sekali ke kiri sekali ke kanan. Dia tersenyum puas.
Setelah memantapkan hati, Ester menuju ruang tamu. Dari jauh matanya berusaha mendeteksi di mana gerangan Samuel duduk. Tapi ayunan grogi membuat pandangan Ester tidak bisa fokus.
            “Aduh… lamanya boru hasian Papa ini. Salam dulu namborunya, sudah menunggu dari tadi,” Papa mengarahkan tangan Ester pada namboru Sam…..lho, kok bukan? Kepala Ester mendekat. Matanya terbelalak lebih lebar. Meneliti wajah orang di hadapannya. Jelas! Itu bukan namboru Samuel. Mata Ester berpindah pada sosok pemuda di samping namboru entah siapa itu. Siapa sih? Kok kampung benar penampilannya? Itu jelas bukan Samuel.

bersambung ke bagian 2
'Pariban Dari Desa'

Angkot Tua Berwarna Cinta (7)


 
Angkot Tua Berwarna Cinta
Oleh: Elwin FL Tobing
Bagian 7. Merana Karena Cinta
             Wajah Papa mengeras. Bola matanya menyorot penuh amarah. Imah hanya bisa menunduk, takut.
            “Berani kau berbohong sekarang ya. Sama Mama kau permisi pergi sama Maya. Nyatanya kau sama pemuda sombong dan cabul itu.” Papa meradang.
            “Kau jadi mahasiswi kok bodoh sekali, tidak tahu bergaul. Kalau tidak pemuda bejat, sopir angkot yang kau kawani.”
            “Sudahlah, Pa,” Mama coba meredakan emosi suaminya, “Imah masih trauma. Tidak usah dimarahi dulu.”
            “Anak ini sudah keterlaluan. Berani membohongi orang tua. Coba kalau Rizki berhasil memperkosanya, mau jadi apa lagi kau, hah?”
            Air mata Imah kembali mengalir deras. Dia merasa rentan, tak punya tempat berlindung. Setelah Imah menceritakan kejadian yang hampir menghancurkan hidupnya, orang tuanya bukannya serta merta memeluk menawarkan perlindungan. Malah melontarkan amarah dan menyalahkan Imah habis-habisan. Terutama Papa. Dia tampak kecewa sekali. Terlihat tak bisa menerima kebohongan yang dilakukan putri tunggalnya. Papa tak putus melontarkan geram. Beruntung Bang Anto sudah pergi. Kalau tidak, dia tentu akan sakit hati karena turut jadi sasaran kejengkelan papa.
            Papa tidak hanya memaki dan mengutuki Rizki yang telah jadi tahanan polisi Parapat. Tapi Papa juga menuduh Bang Anto telah menjampi-jampi hingga Imah selalu ingat padanya. Buktinya, saat ingin dijemput, Imah menghubungi sopir itu.
            Keesokan harinya, ketika Bang Anto datang untuk menjenguk keadaan Imah, Papa dan Mama mengajaknya bicara.
            “Kami mengucapkan terima kasih atas pertolongan dan perhatianmu pada putri kami. Kami pikir sudah cukup. Biar kami saja yang mengurus mulai sekarang. Kau tidak perlu datang-datang lagi, nanti pekerjaanmu terganggu,” tegas Papa sambil menatap lurus-lurus ke mata Bang Anto. Sopir muda itu tertegun. Dia merasakan aroma penolakan yang kuat. Bahkan pengusiran secara tersirat.
            “Saya minta maaf kalau kedatangan saya mengganggu.”
“Jelas mengganggu. Kau telah membuat hati kami tidak tenang. Was-was. Entah bagaimana ceritanya Imah bisa dekat sama kau. Begitu banyak kawan mahasiswa, eh kok malah bergaul sama….” Mama tak meneruskan kalimatnya. Tapi lirikannya yang meremehkan telah cukup jelas bagi Bang Anto. Bagi orang tua Imah, dia bukan penolong. Tapi pengganggu dan ancaman yang harus disingkirkan sedini mungkin.
“Baiklah. Saya mengerti. Saya minta maaf karena telah menghadirkan kekhawatiran pada Bapak dan Ibu. Permisi, Pak, Bu, Imah,” Bang Anto beranjak dari kursi yang mendadak terasa berduri-duri. Imah memburu ketika Bang Anto hampir menjalankan angkotnya.
            “Imah, mau apa lagi kau?” larang Papa. Tapi Imah tak peduli. Terus berlari.
            “Bang, maafkan Papa ya. Maafkan Mama juga. Aku..aku…”
            Bang Anto memaksakan senyum, “Tidak apa-apa, Mah. Aku memahami sekali kenapa Papa Mamamu bersikap keras begitu. Semua itu untuk kebaikan keluargamu, terutama kebaikanmu juga. Imah kembali saja, nanti Papa Mamamu tambah marah,”
            “Bang, maaf…” Imah meraih dan mencium punggung tangan Bang Anto. Ingin sekali sopir muda itu merengkuh wajah Imah yang penuh air mata. Tapi dia menahan diri. Kalau niat itu dia wujudkan, akibatnya semakin parah bagi dirinya juga Imah. Akhirnya Bang Anto hanya mengangguk dan tersenyum setulus mungkin. Setelah itu dia memasukkan gigi satu dan menekan pedal gas perlahan. Imah mengikuti laju angkot, berlari-lari di samping angkot yang semakin cepat, hingga gelegar bentakan papanya menghentikan langkah kaki Imah.
            Imah tidak berdaya melawan aturan Papa. Setiap hari berangkat kuliah Mama disuruh mengawal. Menunggu hingga jam kuliah selesai. Setelah itu Mama segera mengajaknya pulang. Dengan membonceng Imah di belakang mio gres yang baru dibeli Papa. Sepeda motor itu langsung dijemput ke dealer pada hari Bang Anto diusir saat kedatangannya yang kedua. Betapa malunya Imah. Dia tidak kuasa menjawab pertanyaan teman-temannya yang bertanya sembari mengolok-olok. Mahasiswi semester lima diantar dan dijemput Mama kuliah? Ini jaman apa sih? Masa RA. Kartini saja sepertinya tidak sekolot ini.
Imah merasa lebih layu dari boneka. Dia sama sekali tidak selera melakukan apa pun. Tak nafsu makan. Tidur pun tidak bisa cepat. Pikirannya masih melayang kemana-mana ketika jarum waktu sudah menjelajahi subuh
            Ketahanan tubuh Imah akhirnya buyar. Pagi itu dia merasa kepalanya sangat berat. Pandangannya berkunang-kunang. Mama urung menuntun mio keluar rumah. Melihat wajah Imah yang pucat dan dahi serta lehernya yang panas. Mama menyarankan Imah libur kuliah.
            “Makanya jangan malas makan. Macam anak balita saja, makan pun harus dipaksa-paksa,” omel Mama. Imah diam. Tatapannya menembus tirai jendela. Berharap angkot Sinar Siantar tua itu lewat di sana. Lalu Bang Anto melambai padanya sambil membunyikan klakson. Hati Imah tentu akan terhibur. Sayang, angkot yang ditunggu tak melintas saat itu. Kalaupun melintas, belum tentu membunyikan klakson dan melambai. Memangnya Bang Anto tahu Imah menunggunya? Tidak ada sms apalagi telepon. Imah juga tak bisa dia mengabarkan kerinduan hatinya. Tak juga bisa menerima kabar andai Bang Anto mengiriminya pesan. Papa sudah menyita hp Imah.
Imah berpaling, tak ingin Mama melihat matanya yang berkaca.
            Imah balik ke kamar. Merebahkan tubuhnya yang semakin kurus di atas kasur. Dan penggalan kisah yang tercatat bersama Bang Anto terbuka lembar demi lembar. Tak beraturan. Sebab terkadang kisah yang sudah terbaca, kembali lagi menyapa. Pertemuan pertama saat Bang Anto mengembalikan hp-nya sering melintas. Bibir Imah cemberut mengingat dua orang ibu yang bergantian mempromosikan putrinya pada Bang Anto. Dan yang paling menggetarkan adalah ketika Bang Anto menembus kabut subuh dengan angkot tuanya untuk menjemput Imah ke Parapat. Betapa Imah merasa terlindung saat meringkuk dalam dekapan Bang Anto. Dia merasa aman dan disayang.
            Imah tak sanggup menahan air mata terkenang ucapan kasar Papa dan Mama di kali kedua Bang Anto datang menjenguk Imah. Sopir muda itu sempat terbengong cukup lama ketika mendapat serangan kata-kata keras dan menyalahkan. Saat itu, betapa Imah ingin ganti memeluk Bang Anto. Agar terlindung dari ucapan-ucapan Papa Mama yang tajam. Tapi Imah hanya bisa menatap iba tanpa sanggup berbuat apa-apa. Dia sangat takut melihat Papa yang melotot penuh ancaman pada Bang Anto. Sekarang Imah menyesali ketidak berdayaannya. Cowok ramah yang rela berangkat tengah malam dari Siantar ke Parapat untuk menjemputnya itu, diusir oleh Papa Mama seperti gelandangan. Bukannya mendapat ucapan terima kasih dan jamuan untuk menghargai; seorang penolong malah dihadiahi tuduhan keji; sama sekali tak tahu balas budi. Imah sedih sekali. Imah merasa kehilangan sekali.
            Mama cemas melihat perilaku Imah. Kadang tersenyum sendiri; mengeleng-geleng sambil berguman tak jelas. Tak lama dia tampak mengusap air matanya yang tiba-tiba menderas. Dia tidak mau makan. Dipaksa pun tetap ogah. .Papa yang awalnya mencibir, mengira Imah hanya pura-pura, kali ini mulai gagap. Hendak memaksakan kehendak Papa agak ciut. Mau membujuk, Papa tidak terbiasa berkata lembut. Jadinya, Papa sering mati langkah, tak tahu harus bagaimana menghadapi Imah.
            Imah sendiri tidak peduli. Dia seperti punya dunia sendiri. Walau Papa, Mama, Bi Darmi, Maya merubung di dekatnya, Imah berlaku seolah mereka tidak ada. Pertanyaan mereka disahuti dengan jawaban melantur. Bujukan dan nasehat ditanggapi dengan reaksi beragam. Kadang Imah mendelik, tersenyum aneh. Tapi lebih sering tidak peduli.
            “Panggil saja, Pa..! Kasihan Imah” bujuk Mama tak tahan melihat keadaan Imah yang semakin kacau.
            “Panggil siapa?” ego Papa belum habis rupanya. Dia masih pura-pura tidak mengerti arah kata istrinya.
            “Ya nama yang sering digumankan Imah. Anto, sopir angkot itu,” rintih Mama nelangsa.
            “Mama mau anakmu berjodoh dengan sopir angkot?”
            “Papa mau Imah gila?”
            “Siapa yang bilang dia gila?”
            “Papa sendiri melihat dia masih waras?”
            Papa tidak menjawab.

bersambung ke bagian 8
'Kejutan'