Bukan Salah Matahari


Bukan Salah Matahari
Oleh: Elwin FL Tobing
“Aduh, panas sekali! Aku jadi haus.” Keluh seekor rusa sambil mempercepat langkah menuju sungai. Di tengah jalan si rusa bertemu dengan kuda dan kelinci.
“Mau kemana kalian?” Tanya rusa.
“Ke sungai. Mau minum.” Sahut kuda sambil berusaha berjalan di bawah naungan pohon-pohon yang masih rindang. Dengan begitu si kuda terlindung dari pansa matahari. Kelinci di belakangnya mengikuti dengan susah payah. Lidahnya terjulur karena rasa dahaga.
            “Kuda… tolong aku,” seru kelinci. “Biarkan aku naik ke punggungmu. Aku tak sanggup lagi berjalan,” pinta kelinci. Kuda menghentikan langkah. Dia lalu menekuk kaki untuk merendahkan tubuhnya. Dengan sisa kekuatannya si kelinci melompat ke punggung kuda.
            “Sudah kelinci?” Tanya kuda bersiap untuk berdiri kembali.
            “Sudah kuda. Ayo kita lanjutkan perjalanan.”
            Lalu si kuda berdiri dan meneruskan langkah menuju sungai yang berada di sebuah lembah. Kelinci berpegangan erat di punggung kuda. Sementara si rusa mempercepat langkah agar bisa menyamai langkah kuda yang lebih panjang.
            “Semakin panas saja.” Rusa menengadah. Lalu terlihat olehnya matahari bersinar garang di langit yang terbuka.
            “Pantas saja panasnya menyengat. Ternyata matahari telah mendekati hutan ini,” rusa berucap geram.
            “Matahari yang sombong,” sambung kuda. “Dia sengaja mendekati kita untuk memamerkan panasnya. Kalau dia berani turun ke bawah sini, akan kutendang dia jauh-jauh.” Ancam kuda sambil menghentakkan kakinya yang kuat.
            Setelah berjalan jauh di bawah terik matahari, ketiga hewan itu tiba di pinggir sungai. Tapi mereka terkejut. Sungai itu hampir kering. Airnya surut hingga ke dasar sungai. Hanya tersisa genangan-genangan kecil di beberapa bagian. Tanah di sekitar sungai terlihat kering dan retak-retak.
            “Kenapa bisa begini?” rusa menjerit kesal. Padahal dia sangat berharap bisa menuntaskan rasa hausnya di sungai yang dulunya dalam dan bening itu. Kuda dan kelinci hanya bisa terdiam. Wajah mereka terlihat nelangsa. Bahkan si kelinci tak sanggup menahan tangis. Air mata menetes di pipinya yang berbulu putih.
            “Matahari keterlaluan.” Teriak kuda penuh amarah. “Pasti panasnya telah mengeringkan sungai ini.” Tuduh kuda.
            “Matahari ingin membunuh kita huuuu…” isah kelinci. Dia mendekati genangan air. Kelinci tak sanggup lagi menahan haus. Lidahnya yang kering dijulurkannya ke air. Kuda dan rusa mengikuti. Kedua hewan itu berjalan menuju genangan yang lain. Lalu mencecap air yang terlihat keruh.
            “Puaah… rasanya tidak enak!” kuda terbangkis. Dia mundur dari genangan air.
            “Airnya bercampur cacing-cacing mati. Menjijikkan.” Rusa menyemburkan air di mulutnya. Hanya si kelinci yang tetap minum. Dia teramat haus. Air yang bau itu diminumnya dengan terpaksa.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus menuntut matahari.” Kata kuda. Rusa mengangguk tegas.
“Tapi jangan sekarang. Siang hari begini matahari sangat panas. Kita bisa meleleh kalau mendekatinya. Nanti sore saat panasnya hilang, kita bicara padanya. Bagaimana?” Rusa meminta pendapat kedua kawannya. Kuda dan kelinci menyetujui usul si rusa.
Sore harinya, saat matahari hampir menghilang di balik bukit, ketiga hewan itu bergegas mendaki bukit.
“Hai matahari, tunggu!” cegah mereka bertiga. Matahari yang bersiap tenggelam, terperanjat kaget mendengar teriakan keras ketiga hewan itu.
“Ada apa?” Tanya matahari.
“Kenapa kau mendekati hutan tempat tinggal kami, hah? Mau mambakar kami ya. Apa salah kami padamu, hah?” teriak rusa.
“Kau juga telah mengeringkan sungai tempat kami minum. Kau matahri yang sombong dan jahat.” Jerit kuda penuh amarah. Matahari terpaku kebingungan mendengar tuduhan-tuduhan itu.
“Aku tidak mendekati hutan tempat tinggal kalian. Aku tetap di tempatku. Apa maksud kalian?”
“Alah, banyak alasan.” Si rusa menyela perkataan matahari. “ Kalau kau tidak mendekati hutan kami, kenapa siang hari jadi tambah panas menyengat. Itu karena kau mendekati tempat tinggal kami kan? Mau membakar kami kan?”
“Stop, stop. Aku mengerti maksud kalian.” Matahari menatap ketiga hewan itu penuh simpati. “Tapi kalian salah alamat.”
“Salah alamat bagaimana?” Kuda memotong. “Kau jangan menyangkal perbuatan burukmu itu ya. Sudah jelas kau yang menyusahkan hidup kami.”
“Bukan aku.” Sanggah matahari, “tapi itu perbuatan manusia.”
“Manusia?” ketiga hewan itu berseru serempak.
Matahari mengangguk. “Aku tetap di tempatku. Tak pernah berpindah. Tapi manusia telah menebangi pohon-pohon di hutan tempat tinggal kalian. Akibatnya hutan jadi gundul dan terbuka. Selama ini, pohon-pohon besar dan rindang itu yang menghalangi sinarku, sehingga kalian tidak kepanasan. Tapi sejak pohon-pohon itu ditebang, sinarku langsung mengenai badan kalian. Itu sebabnya kalian merasakan panas yang menyengat.
“Sungai yang kering itu akibat hutan yang gundul. Kalian tahu, pohon-pohon itu fungsinya untuk menyerap air. Kalau tak ada lagi pohon, maka tak ada lagi persediaan air dalam tanah. Mata air pun kering. Akibatnya sungai tempat kalian minum itu jadi kering.” Ujar matahari menerangkan panjang lebar. Suaranya semakin sayup, lalu hilang seiring tenggelamnya matahari. Senja telah berganti malam. Kuda, rusa dan kelinci terdiam membisu mendengar semua penjelasan matahari.
“Maafkan kami matahari. Kami telah menuduhmu yang bukan-bukan” bisik kelinci lirih. Kakinya yang kecil mulai melangkah menerobos semak yang samar-samar diterangi sinar bulan. Rusa dan kuda mengikuti dari belakang. Mereka bertiga meraba-raba dalam gelap mencari jalan pulang ke sarang.

~dimuat di harian analisa, 20feb’2011

0 Responses