|
I N
S Y A F
Oleh:
Elwin FL
Tobing
“Sudah mau mulai lho, Kak. Kok kakak
belum masuk?” tegur penjaga kedai.
“Eh..i..iya. udah mau mulai, ya,”
Risna mentergesa-gesakan diri membayar fanta yang telah diminumnya. Lalu
langkahnya diseret memasuki pelataran gereja. Semakin mendekati gedung gereja,
kepanikan Risna kian merajalela. Wajahnya menunduk dalam. Sesekali dia melirik
orang-orang yang berjalan tergesa di kiri dan kanannya. Ya, Tuhan! Jangan
sampai ada di antara mereka yang mengenalku, harap Risna.
“Syaloom, selamat datang,”
Risna kaget. Takut-takut dia melirik
asal suara. Hatinya sedikit lega mendapati wajah penuh senyum pemilik suara
itu. Dengan canggung Risna menyambut tangan terulur pria bersetelan rapi yang
barusan menyapanya.
“Saudari orang baru, ya?” pertanyaan
itu diikuti senyum hangat.
“I..iya, Pak!” gugup Risna.
“Boleh tahu namanya, Bu..eh,
cocoknya saya panggil apa, ya?”
“Panggil Risna saja, Pak.”
“Baiklah, Risna. Selamat datang.
Silakan masuk,”
Risna mengangguk, lalu melangkahkan
kakinya yang kian gemetar memasuki gereja. Hawa dingin yang agung menyambut
tubuhnya. Sejenak dia menggigil. Matanya merayap memilih bangku yang akan dia
duduki. Seandainya diperbolehkan, Risna ingin duduk di lantai saja. Siapakah
dirinya hingga begitu lancang masuk ke tempat ini. Tempatnya sesungguhnya
adalah di kawasan hitam itu. Komplek perkampungan yang sudah tenar ke seantero
penjuru sebagai daerah lokalisasi. Bertahun-tahun Risna menjalani hidupnya di sana, memantik dosa demi
dosa sampai hatinya sehitam arang. Hingga tiga bulan yang lalu ibunda yang
dicintainya meninggal karena penyakit
mematikan itu. AIDS.
Ibunya dulu juga adalah pemantik dosa di lokalisasi itu. Tapi sejak Ibu
berkenalan dengan Bu Marta, Ibu mulai berubah. Tak berniat lagi melayani para
pria pemuja sahwat yang semakin banyak hilir mudik ke lokalisasi itu. Ibu lebih
suka mempraktekkan ketrampilan menjahit yang didapatnya dari Bu Marta. Ibu juga
suka menyanyikan lagu-lagu aneh. Tak jarang air mata Ibu meleleh saat
menyanyikan lagu-lagu itu.
“Lagu apa sih, Bu. Kok sampai bikin
ibu nangis?” ledek Risna tak kuasa menahan geli melihat mimik Ibu yang mirip
artis film India
kalau sudah menangis sambil menyanyikan lagu kesukaannya.
“Kata Bu Marta, yang ibu nyanyikan
tadi itu kidung penyembahan,” Ibu menerangkan.
“Penyembahan? Nyembah siapa? Mesin
jahit,” Risna cekikikan. Ibu tidak menanggapi. Malah melanjutkan kidung
penyembahannya, juga melanjutkan cucuran air matanya yang sempat terpotong oleh
pertanyaan Risna. Risna mendecak-decak tak habis pikir. Aneh, desisnya sambil
menggeleng-gelengkan kepala.
Semakin lama Ibu semakin aneh. Tidak pernah lagi mengumbar canda-canda
cabul yang biasanya diikuti cekikikan panjang. Pakaian Ibu yang biasanya
terbuka dan semrawut, sudah rapi dan apik. Setiap hari selasa dan minggu dia
dijemput Bu Marta, katanya mengikuti pendalaman Alkitab dan kebaktian.
“Dapat berapa Bu, ikut yang
begitu-begitu?” tanya Risna penasaran melihat kegetolan Ibu mengikuti kegiatan
itu.
Ibu tersenyum, “Bukan materi yang Ibu
dapat, Ris. Tapi surga yang mulia,” sambil berbicara wajah Ibu menengadah dengan
kedua tangan mendekap dada sepenuh harapan. Risna gemas mendengar jawaban Ibu. Di
usianya yang sudah empat puluhan Ibu masih terlihat cantik. Banyak pelanggan
yang kecewa karena penolakan Ibu. Entah siapa itu Bu Marta dan bujuk rayu model
apa yang dipakainya untuk memperngaruhi pemikiran Ibu. Dapat sorga? Yakin amat!
Seperti sudah pernah ke sorga saja Bu Marta itu.
Risna semakin kesal karena Ibu juga
terus-terusan membujuk Risna ikut Bu Marta. Tak jarang Ibu menangis saat
menyampaikan harapannya.
“Ibu menyesal, Ris. Ibu yang telah
membuatmu ikut berkubang dalam lumpur dosa ini. Ibu ingin membawamu keluar, Nak.
Mari kita tinggalkan semua kenistaan ini.”
“Lalu kita mau makan apa, Bu? Apa Ibu pikir hasil menjahit ibu cukup
untuk memenuhi keperluan kita? Pakai logika, dong,” tandas Risna gemas.
“Tuhan tentu tak akan membiarkan umatnya yang mau bertobat mati kelaparan,
Nak. Jalan Tuhan banyak, tak terselami oleh pikiran kita,” Ibu masih terus
membujuk dengan kalimat aneh tidak karuan.
“Kau sudah tahu sendiri kan,
Ibu positif AIDS. Kau suruh pula Ibu menularkan penyakit terkutuk ini dengan
menerima tamu. Ibu tidak mau menambah dosa, Ris. Dan Ibu harap kau mau menuruti
nasehat Ibu sebelum semuanya terlambat.”
Risna mendengus sebal mendengar ajakan membosankan itu. Risna tidak
gentar dengan AIDS. Buat apa takut? Apa bedanya AIDS dengan store, jantung,
tipus, gagal ginjal…bukankah semua penyakit itu berpotensi menghadirkan maut.
Hanya satu hal yang tak bisa Risna mengerti, yaitu sukacita yang selalu
memulas wajah ibunya. Wajah itu begitu damai. Walau tubuh Ibu semakin kurus
digerogoti penyakit yang dideritanya, tapi semakin hari Ibu terlihat semakin tenang
dan pasrah. Matanya berpijar lembut seakan tengah menanti hadiah terindah yang
lama dia impikan. Mata itu hanya akan menangis saat membelai rambut Risna yang
tertidur kelelahan. Lamat-lamat Risna mendengar lantunan doa yang diucapkan Ibu.
Memohon Tuhan mengasihani Risna dan menariknya keluar dari lingkungan hitam
itu. Uniknya, sambil menangis mencurahkan kerinduannya, Ibu masih sanggup
bernyanyi memuji-muji kebesaran dan kebaikan Tuhan. Menangis dan bernyanyi
sekaligus? Ibu memang betul-betul aneh.
Sebelum menghembuskan napas terakhirnya
Ibu mengamanahi Risna agar pergi ke gereja. Kawan-kawan Risna terlihat
menahan cekikian ketika mendengar pesan terakhir itu. Dan ketika penguburan
sudah lewat mereka melampiaskan kegelian dalam hati.
“Jadi kapan ke gereja, Ris? Eh, tidak boleh pakai rok pendek, lho. Trus
duduknya yang rapat jangan ngangkang. Nanti pendetanya kejang-kejang pula,”
goda Tiwi.
“Doakan ya Ris, agar Bang Mandor makin sering mengajak aku. Nanti aku
kasih tip-deh, buat beli buku nyanyian. Oh iya, nanti di gereja kamu nyanyi,
ya. Ciee, jadi artis nih. Ingat ya Ris, jangan pake goyang pinggul, pantang,”
sambung Linda cekikikan.
Dan itulah yang sekarang dilakukannya. Wajah damai Ibu di awal tidur
panjangnya memaksa Risna menepikan rasa malu dan rendah dirinya untuk
mendatangi gereja itu. Dia penasaran dan ingin mengetahui rahasia ketenangan Ibu
menyongsong maut.
Diam-diam Risna merapikan pakaiannya berharap dandanannya tidak
mengundang kecurigaan jemaat yang hadir. Syukurlah, sepanjang kebaktian tidak
ada hal memalukan yang menimpanya. Hingga saat pulang hanya kedamaian dan
kehangatan yang membelai hati Risna yang lelah.
“Siapa namanya, Dek?” sapa salah seorang dari ibu-ibu yang mengerumuni
Risna seusai kebaktian. Maklum orang baru.
“Em…Ri..Risna, Kak?” Risna tergagap membalas senyum ibu itu.
“Tinggal dimana?”
Dengan wajah memucat Risna menyebutkan lokasi tempat tinggalnya. Beberapa
dari ibu-ibu itu tampak bergidik.
“Adek kerja apa disana?” para ibu itu terlihat curiga.
Risna kelimpungan. Dia tak berani berterus-terang memberitahukan
pekerjaannya. Dia belum mengenal mereka. Dari gelagatnya, beberapa diantara ibu
itu sepertinya bukanlah orang yang tahan menerima kejutan.
“Kalau tinggal disana sih, pekerjaannya paling ya…” kalimat itu tak dilanjutkan.
Lalu satu persatu mereka mulai menjauhi Risna sambil berbisik-bisik. Risna
terhempas. Dia bergegas meninggalkan gereja. Tapi seseorang menahan tangannya
lembut. Ternyata pria yang tadi menyalaminya waktu pertama kali datang.
Wajahnya yang damai dan senyumnya yang tulus menawarkan perlindungan yang Risna
dambakan.
“Saya dengar tadi percakapan Risna dengan ibu-ibu itu. Saya hanya ingin
menyampaikan satu ayat kitab suci: Akan
ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat *. Saya harap Risna tidak
mengecewakan para malaikat itu ya!” ucap Pria ramah itu. Walau Risna tidak
memahami sepenuhnya kalimat itu, tapi Risna balas tersenyum.
“Terima kasih,” lirih Risna berbisik.
*Lukas
15:10
~dimuat
di harian analisa, 14 mei 2008