I N S Y A F



I N S Y A F 
Oleh: Elwin FL Tobing

            Sudah lebih setengah jam Risna mondar-mandir di sekitar kedai yang terletak di luar pagar gereja itu. Berkali-kali Risna menatap ke arah pintu gereja yang terpentang lebar mempersilahkan siapa saja yang ingin masuk ke dalamnya. Wajah-wajah tergesa jemaat menandakan kebaktian tak lama lagi akan dimulai. Risna menggigit bibir, hatinya masih tetap segamang tadi. Langkahnya tak kuasa melewati hingga pintu pagar gereja yang megah itu. Seolah ada yang meremas keberaniannya. Mengguncang-guncang jantungnya, hingga tekad yang tersisa semakin goyah.
            “Sudah mau mulai lho, Kak. Kok kakak belum masuk?” tegur penjaga kedai.
            “Eh..i..iya. udah mau mulai, ya,” Risna mentergesa-gesakan diri membayar fanta yang telah diminumnya. Lalu langkahnya diseret memasuki pelataran gereja. Semakin mendekati gedung gereja, kepanikan Risna kian merajalela. Wajahnya menunduk dalam. Sesekali dia melirik orang-orang yang berjalan tergesa di kiri dan kanannya. Ya, Tuhan! Jangan sampai ada di antara mereka yang mengenalku, harap Risna.
            “Syaloom, selamat datang,”
            Risna kaget. Takut-takut dia melirik asal suara. Hatinya sedikit lega mendapati wajah penuh senyum pemilik suara itu. Dengan canggung Risna menyambut tangan terulur pria bersetelan rapi yang barusan menyapanya.
            “Saudari orang baru, ya?” pertanyaan itu diikuti senyum hangat.
            “I..iya, Pak!” gugup Risna.
            “Boleh tahu namanya, Bu..eh, cocoknya saya panggil apa, ya?”
            “Panggil Risna saja, Pak.”
            “Baiklah, Risna. Selamat datang. Silakan masuk,”
            Risna mengangguk, lalu melangkahkan kakinya yang kian gemetar memasuki gereja. Hawa dingin yang agung menyambut tubuhnya. Sejenak dia menggigil. Matanya merayap memilih bangku yang akan dia duduki. Seandainya diperbolehkan, Risna ingin duduk di lantai saja. Siapakah dirinya hingga begitu lancang masuk ke tempat ini. Tempatnya sesungguhnya adalah di kawasan hitam itu. Komplek perkampungan yang sudah tenar ke seantero penjuru sebagai daerah lokalisasi. Bertahun-tahun Risna menjalani hidupnya di sana, memantik dosa demi dosa sampai hatinya sehitam arang. Hingga tiga bulan yang lalu ibunda yang dicintainya meninggal karena  penyakit mematikan itu. AIDS.
Ibunya dulu juga adalah pemantik dosa di lokalisasi itu. Tapi sejak Ibu berkenalan dengan Bu Marta, Ibu mulai berubah. Tak berniat lagi melayani para pria pemuja sahwat yang semakin banyak hilir mudik ke lokalisasi itu. Ibu lebih suka mempraktekkan ketrampilan menjahit yang didapatnya dari Bu Marta. Ibu juga suka menyanyikan lagu-lagu aneh. Tak jarang air mata Ibu meleleh saat menyanyikan lagu-lagu itu.
            “Lagu apa sih, Bu. Kok sampai bikin ibu nangis?” ledek Risna tak kuasa menahan geli melihat mimik Ibu yang mirip artis film India kalau sudah menangis sambil menyanyikan lagu kesukaannya.
            “Kata Bu Marta, yang ibu nyanyikan tadi itu kidung penyembahan,” Ibu menerangkan.
            “Penyembahan? Nyembah siapa? Mesin jahit,” Risna cekikikan. Ibu tidak menanggapi. Malah melanjutkan kidung penyembahannya, juga melanjutkan cucuran air matanya yang sempat terpotong oleh pertanyaan Risna. Risna mendecak-decak tak habis pikir. Aneh, desisnya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Semakin lama Ibu semakin aneh. Tidak pernah lagi mengumbar canda-canda cabul yang biasanya diikuti cekikikan panjang. Pakaian Ibu yang biasanya terbuka dan semrawut, sudah rapi dan apik. Setiap hari selasa dan minggu dia dijemput Bu Marta, katanya mengikuti pendalaman Alkitab dan kebaktian.
            “Dapat berapa Bu, ikut yang begitu-begitu?” tanya Risna penasaran melihat kegetolan Ibu mengikuti kegiatan itu.
            Ibu tersenyum, “Bukan materi yang Ibu dapat, Ris. Tapi surga yang mulia,” sambil berbicara wajah Ibu menengadah dengan kedua tangan mendekap dada sepenuh harapan. Risna gemas mendengar jawaban Ibu. Di usianya yang sudah empat puluhan Ibu masih terlihat cantik. Banyak pelanggan yang kecewa karena penolakan Ibu. Entah siapa itu Bu Marta dan bujuk rayu model apa yang dipakainya untuk memperngaruhi pemikiran Ibu. Dapat sorga? Yakin amat! Seperti sudah pernah ke sorga saja Bu Marta itu.
            Risna semakin kesal karena Ibu juga terus-terusan membujuk Risna ikut Bu Marta. Tak jarang Ibu menangis saat menyampaikan harapannya.
            “Ibu menyesal, Ris. Ibu yang telah membuatmu ikut berkubang dalam lumpur dosa ini. Ibu ingin membawamu keluar, Nak. Mari kita tinggalkan semua kenistaan ini.”
“Lalu kita mau makan apa, Bu? Apa Ibu pikir hasil menjahit ibu cukup untuk memenuhi keperluan kita? Pakai logika, dong,” tandas Risna gemas.
“Tuhan tentu tak akan membiarkan umatnya yang mau bertobat mati kelaparan, Nak. Jalan Tuhan banyak, tak terselami oleh pikiran kita,” Ibu masih terus membujuk dengan kalimat aneh tidak karuan.
“Kau sudah tahu sendiri kan, Ibu positif AIDS. Kau suruh pula Ibu menularkan penyakit terkutuk ini dengan menerima tamu. Ibu tidak mau menambah dosa, Ris. Dan Ibu harap kau mau menuruti nasehat Ibu sebelum semuanya terlambat.”
Risna mendengus sebal mendengar ajakan membosankan itu. Risna tidak gentar dengan AIDS. Buat apa takut? Apa bedanya AIDS dengan store, jantung, tipus, gagal ginjal…bukankah semua penyakit itu berpotensi menghadirkan maut.  
Hanya satu hal yang tak bisa Risna mengerti, yaitu sukacita yang selalu memulas wajah ibunya. Wajah itu begitu damai. Walau tubuh Ibu semakin kurus digerogoti penyakit yang dideritanya, tapi semakin hari Ibu terlihat semakin tenang dan pasrah. Matanya berpijar lembut seakan tengah menanti hadiah terindah yang lama dia impikan. Mata itu hanya akan menangis saat membelai rambut Risna yang tertidur kelelahan. Lamat-lamat Risna mendengar lantunan doa yang diucapkan Ibu. Memohon Tuhan mengasihani Risna dan menariknya keluar dari lingkungan hitam itu. Uniknya, sambil menangis mencurahkan kerinduannya, Ibu masih sanggup bernyanyi memuji-muji kebesaran dan kebaikan Tuhan. Menangis dan bernyanyi sekaligus? Ibu memang betul-betul aneh.
Sebelum menghembuskan napas terakhirnya  Ibu mengamanahi Risna agar pergi ke gereja. Kawan-kawan Risna terlihat menahan cekikian ketika mendengar pesan terakhir itu. Dan ketika penguburan sudah lewat mereka melampiaskan kegelian dalam hati.
“Jadi kapan ke gereja, Ris? Eh, tidak boleh pakai rok pendek, lho. Trus duduknya yang rapat jangan ngangkang. Nanti pendetanya kejang-kejang pula,” goda Tiwi.
“Doakan ya Ris, agar Bang Mandor makin sering mengajak aku. Nanti aku kasih tip-deh, buat beli buku nyanyian. Oh iya, nanti di gereja kamu nyanyi, ya. Ciee, jadi artis nih. Ingat ya Ris, jangan pake goyang pinggul, pantang,” sambung Linda cekikikan.  
Dan itulah yang sekarang dilakukannya. Wajah damai Ibu di awal tidur panjangnya memaksa Risna menepikan rasa malu dan rendah dirinya untuk mendatangi gereja itu. Dia penasaran dan ingin mengetahui rahasia ketenangan Ibu menyongsong maut.
Diam-diam Risna merapikan pakaiannya berharap dandanannya tidak mengundang kecurigaan jemaat yang hadir. Syukurlah, sepanjang kebaktian tidak ada hal memalukan yang menimpanya. Hingga saat pulang hanya kedamaian dan kehangatan yang membelai hati Risna yang lelah.
“Siapa namanya, Dek?” sapa salah seorang dari ibu-ibu yang mengerumuni Risna seusai kebaktian. Maklum orang baru.
“Em…Ri..Risna, Kak?” Risna tergagap membalas senyum ibu itu.
“Tinggal dimana?”
Dengan wajah memucat Risna menyebutkan lokasi tempat tinggalnya. Beberapa dari ibu-ibu itu tampak bergidik.
“Adek kerja apa disana?” para ibu itu terlihat curiga.
Risna kelimpungan. Dia tak berani berterus-terang memberitahukan pekerjaannya. Dia belum mengenal mereka. Dari gelagatnya, beberapa diantara ibu itu sepertinya bukanlah orang yang tahan menerima kejutan.
“Kalau tinggal disana sih, pekerjaannya paling ya…” kalimat itu tak dilanjutkan. Lalu satu persatu mereka mulai menjauhi Risna sambil berbisik-bisik. Risna terhempas. Dia bergegas meninggalkan gereja. Tapi seseorang menahan tangannya lembut. Ternyata pria yang tadi menyalaminya waktu pertama kali datang. Wajahnya yang damai dan senyumnya yang tulus menawarkan perlindungan yang Risna dambakan.
“Saya dengar tadi percakapan Risna dengan ibu-ibu itu. Saya hanya ingin menyampaikan satu ayat kitab suci: Akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat *. Saya harap Risna tidak mengecewakan para malaikat itu ya!” ucap Pria ramah itu. Walau Risna tidak memahami sepenuhnya kalimat itu, tapi Risna balas tersenyum.   
“Terima kasih,” lirih Risna berbisik.   
*Lukas 15:10
~dimuat di harian analisa, 14 mei 2008

0 Responses