Kerlip Asa Kembali Pijar


Cerpen
                                           Kerlip Asa Kembali Pijar
Oleh: Elwin FL Tobing
“Reni, ayo!” ajak Ester dari bawah jendela rumah Reni.
“Kalian duluanlah. Nanti aku menyusul,” sahut Reni dari gorden jendela    yang dia singkapkan.
            “Memangnya kau mau ngapain lagi? Ayolah! Nggak enak nanti sama kawan-kawan, mereka kelamaan nunggu.”
            Reni hanya menghela napas, dadanya terasa pengap, “Kayaknya malam ini aku nggak bisa ikut, Es. Maaf ya! Kalian saja dulu deh latihan,” ucap Reni lesu.
            “Kau sakit?” selidik Ester.
            Reni menggeleng, “Aku tidak apa-apa. Hanya ingin sendirian sebentar. Kalian latihan yang bagus ya. Jangan kalah sama koor parari kamis gereja kita,” Reni coba mengulaskan senyum, menyuruh Ester segera berangkat ke gereja, mengikuti latihan koor remaja gereja. Ester masih berusaha membujuk. Tapi Reni tetap tak mau ikut. Dia masih diam ditempat semula. Hati dan kakinya begitu enggan melangkah. Dia ingin sendirian, merenungi nasibnya yang terlahir bukan sebagai laki-laki.
            “Ya sudah kalau begitu. Nanti kalau mau curhat, tunggu aku pulang ya,” akhirnya Ester melangkah sendirian, menuju gereja yang terletak di ujung desa.
            Reni mempunyai saudara kembar laki-laki. Namanya Reno. Di bawah mereka masih ada tiga lagi adik perempuan. Mereka lima bersaudara. Dan Reno satu-satunya laki-laki.
Reni dan Reno sudah lulus SMA dengan prestasi yang memuaskan. Nilai UAN Reni lebih bagus dari Reno. Tapi pencapaian itu tidak mempermudah Reni untuk meraih cita-cita.
            “Bagaimanalah, Boru. Tak mungkin bapa dan uma sanggup menyekolahkan kalian dua-duanya ke perguruan tinggi. Dari mana uang kita. Maka dari itu, salah satu dari kalian harus ada yang mengalah,” terngiang ucapan bapa beberapa malam yang lalu. Bapa segera mematikan rokoknya dan menatap wajah putrinya dengan wajah bersalah. Sepertinya bapa juga tidak tega untuk memutus harapan Reni. Tapi penghasilan mereka hanya dari sawah beberapa petak dan kebun kopi yang tak seberapa luas. Untuk menyekolahkan satu orang ke perguruan tinggi pun, sebenarnya bapa merasa ragu. Hanya semangat belajar yang tinggi dan prestasi mumpuni anak-anaknya membuat bapa dan uma nekat. Minimal satu orang dari dua anak kembarnya itu harus melanjut.
            Reni sadar diri. Kedua orangtuanya lebih menginginkan Reno yang kuliah, karena dia anak laki-laki. Walaupun Reni lebih pintar, tapi orangtunya berharap dia mau mengalah pada saudara kembarnya.
            “Nanti kalau kita punya uang, kita daftarkan kau kuliah, ya boru ya,” janji Uma. Reni hanya menanggapi dengan senyum patah. Dan sejak saat itu, hari-hari Reni terasa hambar. Cita-citanya untuk menjadi pengacara terkenal, pelan-pelan manjauh. Kesempatan baginya sudah tertutup. Dia harus mengubur mimpi bersekolah tinggi. Seperti orangtuanya, dia mungkin akan jadi petani kopi di desa mereka yang sunyi.
            Malam semakin dingin. Dari arah gereja, sayup-sayup terdengar suara Ester dan kawan-kawan yang latihan bernyanyi. Memuji kebaikan Tuhan pada umat manusia. Reni mendengus. Tuhan telah berlaku tidak adil karena menciptakan dia jadi perempuan. Hingga angan-angannya harus kandas di tengah jalan.
            Reno muncul dari gelap malam. Hati Reni diliputi kebencian. Reno telah merampas masa depannya. Gara-gara Reno, semua susah payahnya menjadi sia-sia. Mati-matian Reni belajar untuk meraih prestasi tertinggi. Tapi karena keberadaan Reno, prestasi itu hanya akan jadi kenangan tanpa arti.
            “Reni, sini dulu!” panggil Reno. Reni sudah beranjak ke kamar. Pura-pura tidak mendengar. Hatinya panas mendengar nada suara Reno yang seperti memerintah. Mentang-mentang mau kuliah mulai sok memerintah, maki Reni dalam hati.
            “Reni! Sini dulu sebentar.” Panggil Reno lebih keras di depan pintu kamar. Reni marah. Dia menghentakkan langkahnya ke lantai rumah yang terbuat dari papan. Dengan kasar dia membuka pintu kamar.
            “Ada apa manggil-manggil. Jangan sok berkuasa ya. Kau belum jadi apa-apa,” bentak Reni geram.
            “Lho. Kok marah-marah gitu. Aku cuma mau ngasih ini,” Reno mengulurkan sebuah buku tebal. Reni membaca judulnya: Soal-Soal UMPTN. Dengan heran, dia menatap Reno.
            “Kenapa ngasih buku itu sama aku? Kau yang butuh buku kayak gitu kan?” geram Reni makin menjadi. Dia merasa Reno ingin mengejeknya dengan memperlihatkan buku soal itu.
            “Aku nggak butuh buku begini. Aku lebih butuh kompresor,” sahut Reno seraya menjejalkan buku itu ke tangan Reni. “Kau saja yang kuliah. Aku sudah malas menghadapi buku. Aku lebih suka memperdalam ilmu perbengkelan. Kalau sudah mahir dan ada modal, aku mau buka bengkel sendiri. Biar ada yang membantu bapa dan uma menyekolahkan kalian.” Kata-kata Reno meluncur tak terduga. Reni hanya bisa ternganga heran.
            “Kau lebih pintar dari aku. Dan lebih berminat bersekolah tinggi. Kau saja yang kuliah. Aku sudah membicarakannya dengan bapa dan uma, dan mereka setuju. Ini pilihanku sendiri, kau tidak usah merasa bersalah. Aku lebih suka dibengkel. Habis kerja dapat uang, enak,” Reno mengumbar senyum. Air mata menetes di pipi Reni. Dia merasa terharu. Juga bersalah menuduh abangnya telah merampas masa depannya. Tidak disangka, ternyata Reno saudara yang baik. Rela berkorban demi keluarga mereka yang sederhana.
            “Kau tidak menyesal?” tanya Reni hati-hati..
            “Menyesal punya saudara kembar pintar? Ya nggak-lah. Aku malah bangga,” Reno berucap pasti.
            Penuh rasa haru Reni memeluk saudara kembarnya, “Terimakasih, ya, Ito-ku yang baik,” ucap Reni tulus. Dari arah pintu yang terbuka, angin membawa sayup suara remaja yang belum lelah berlatih memuji kemuliaan Tuhan di gereja ujung desa. Irama yang indah itu menelusup lembut ke dalam kalbu. Reni menengadah, “Terima kasih, Tuhan. Engkau sungguh baik. Ampuni aku yang sempat meragukan kebaikanMu” bisik Reni dengan hati melimpah ucapan syukur.    

0 Responses