|
Cerpen
Kerlip
Asa Kembali Pijar
“Reni, ayo!” ajak Ester dari bawah jendela
rumah Reni.
“Kalian duluanlah. Nanti aku
menyusul,” sahut Reni dari gorden jendela yang dia singkapkan.
“Memangnya kau mau ngapain lagi?
Ayolah! Nggak enak nanti sama kawan-kawan, mereka kelamaan nunggu.”
Reni hanya menghela napas, dadanya
terasa pengap, “Kayaknya malam ini aku nggak bisa ikut, Es. Maaf ya! Kalian saja
dulu deh latihan,” ucap Reni lesu.
“Kau sakit?” selidik Ester.
Reni menggeleng, “Aku tidak apa-apa.
Hanya ingin sendirian sebentar. Kalian latihan yang bagus ya. Jangan kalah sama
koor parari kamis gereja kita,” Reni coba mengulaskan senyum, menyuruh Ester
segera berangkat ke gereja, mengikuti latihan koor remaja gereja. Ester masih
berusaha membujuk. Tapi Reni tetap tak mau ikut. Dia masih diam ditempat
semula. Hati dan kakinya begitu enggan melangkah. Dia ingin sendirian, merenungi
nasibnya yang terlahir bukan sebagai laki-laki.
“Ya sudah kalau begitu. Nanti kalau
mau curhat, tunggu aku pulang ya,” akhirnya Ester melangkah sendirian, menuju
gereja yang terletak di ujung desa.
Reni mempunyai saudara kembar
laki-laki. Namanya Reno. Di bawah mereka masih ada tiga lagi adik perempuan.
Mereka lima
bersaudara. Dan Reno satu-satunya laki-laki.
Reni dan Reno
sudah lulus SMA dengan prestasi yang memuaskan. Nilai UAN Reni lebih bagus dari
Reno. Tapi
pencapaian itu tidak mempermudah Reni untuk meraih cita-cita.
“Bagaimanalah, Boru. Tak mungkin bapa dan uma
sanggup menyekolahkan kalian dua-duanya ke perguruan tinggi. Dari mana uang
kita. Maka dari itu, salah satu dari kalian harus ada yang mengalah,” terngiang
ucapan bapa beberapa malam yang lalu. Bapa segera mematikan rokoknya dan
menatap wajah putrinya dengan wajah bersalah. Sepertinya bapa juga tidak tega
untuk memutus harapan Reni. Tapi penghasilan mereka hanya dari sawah beberapa
petak dan kebun kopi yang tak seberapa luas. Untuk menyekolahkan satu orang ke
perguruan tinggi pun, sebenarnya bapa merasa ragu. Hanya semangat belajar yang
tinggi dan prestasi mumpuni anak-anaknya membuat bapa dan uma nekat. Minimal satu
orang dari dua anak kembarnya itu harus melanjut.
Reni sadar diri. Kedua orangtuanya lebih
menginginkan Reno
yang kuliah, karena dia anak laki-laki. Walaupun Reni lebih pintar, tapi orangtunya
berharap dia mau mengalah pada saudara kembarnya.
“Nanti kalau kita punya uang, kita
daftarkan kau kuliah, ya boru ya,” janji Uma. Reni hanya menanggapi dengan
senyum patah. Dan sejak saat itu, hari-hari Reni terasa hambar. Cita-citanya
untuk menjadi pengacara terkenal, pelan-pelan manjauh. Kesempatan baginya sudah
tertutup. Dia harus mengubur mimpi bersekolah tinggi. Seperti orangtuanya, dia
mungkin akan jadi petani kopi di desa mereka yang sunyi.
Malam semakin dingin. Dari arah
gereja, sayup-sayup terdengar suara Ester dan kawan-kawan yang latihan
bernyanyi. Memuji kebaikan Tuhan pada umat manusia. Reni mendengus. Tuhan telah
berlaku tidak adil karena menciptakan dia jadi perempuan. Hingga angan-angannya
harus kandas di tengah jalan.
“Reni, sini dulu!” panggil Reno. Reni sudah beranjak
ke kamar. Pura-pura tidak mendengar. Hatinya panas mendengar nada suara Reno yang seperti
memerintah. Mentang-mentang mau kuliah mulai sok memerintah, maki Reni dalam
hati.
“Reni! Sini dulu sebentar.” Panggil Reno
lebih keras di depan pintu kamar. Reni marah. Dia menghentakkan langkahnya ke
lantai rumah yang terbuat dari papan. Dengan kasar dia membuka pintu kamar.
“Ada apa manggil-manggil. Jangan sok berkuasa
ya. Kau belum jadi apa-apa,” bentak Reni geram.
“Lho. Kok marah-marah gitu. Aku cuma
mau ngasih ini,” Reno
mengulurkan sebuah buku tebal. Reni membaca judulnya: Soal-Soal UMPTN. Dengan
heran, dia menatap Reno.
“Kenapa ngasih buku itu sama aku?
Kau yang butuh buku kayak gitu kan?”
geram Reni makin menjadi. Dia merasa Reno
ingin mengejeknya dengan memperlihatkan buku soal itu.
“Aku nggak butuh buku begini. Aku
lebih butuh kompresor,” sahut Reno
seraya menjejalkan buku itu ke tangan Reni. “Kau saja yang kuliah. Aku sudah malas
menghadapi buku. Aku lebih suka memperdalam ilmu perbengkelan. Kalau sudah
mahir dan ada modal, aku mau buka bengkel sendiri. Biar ada yang membantu bapa
dan uma menyekolahkan kalian.” Kata-kata Reno
meluncur tak terduga. Reni hanya bisa ternganga heran.
“Kau lebih pintar dari aku. Dan
lebih berminat bersekolah tinggi. Kau saja yang kuliah. Aku sudah
membicarakannya dengan bapa dan uma, dan mereka setuju. Ini pilihanku sendiri,
kau tidak usah merasa bersalah. Aku lebih suka dibengkel. Habis kerja dapat
uang, enak,” Reno
mengumbar senyum. Air mata menetes di pipi Reni. Dia merasa terharu. Juga
bersalah menuduh abangnya telah merampas masa depannya. Tidak disangka,
ternyata Reno saudara
yang baik. Rela berkorban demi keluarga mereka yang sederhana.
“Kau tidak menyesal?” tanya Reni hati-hati..
“Menyesal punya saudara kembar
pintar? Ya nggak-lah. Aku malah bangga,” Reno
berucap pasti.
Penuh rasa haru Reni memeluk saudara
kembarnya, “Terimakasih, ya, Ito-ku yang baik,” ucap Reni tulus. Dari arah
pintu yang terbuka, angin membawa sayup suara remaja yang belum lelah berlatih
memuji kemuliaan Tuhan di gereja ujung desa. Irama yang indah itu menelusup
lembut ke dalam kalbu. Reni menengadah, “Terima kasih, Tuhan. Engkau sungguh
baik. Ampuni aku yang sempat meragukan kebaikanMu” bisik Reni dengan hati
melimpah ucapan syukur.
