|
Anak Desa yang Pintar
Oleh:
Elwin FL Tobing
Sari
seorang anak desa. Dia tinggal di sebuah desa terpencil yang jauh dari kota.
Desa tempat tinggal Sari dikelilingi oleh pesawahan. Juga hutan tempat
orang-orang desa mencari kayu bakar. Sebuah sungai berair jernih mengalir di
pinggir sawah. Sungai itu tempat Sari dan orang-orang desa mencuci piring dan
pakaian. Juga tempat mandi yang menyegarkan. Ikan-ikan kecil terlihat berenang
dengan lincah di dalam air. Sari dan teman-temannya sering berusaha menangkap
ikan-ikan itu. Tapi ikan-ikan itu sangat gesit menghindar. Sulit untuk
ditangkap.
Di
desa Sari belum ada sekolah. Oleh karena itu Sari bersekolah di desa tetangga.
Jarak tempat tinggal Sari dengan sekolahnya sejauh dua kilometer. Setiap hari
Sari dan anak-anak lain dari desanya berjalan kaki menuju sekolah. Mereka harus
melewati hutan kecil dan pematang sawah agar sampai di sekolah. Kalau sedang
musim hujan, Sari dan teman-temannya berpayung daun pisang menuju sekolah.
Sepatu dan kaus kaki harus dilepas dan dimasukkan ke dalam kantong plastik agar
tidak basah. Walau turun hujan, Sari dan kawan-kawannya tetap semangat ke
sekolah.
Setiba
di sekolah, mereka masuk ke kelas masing-masing. Sari masuk ke kelas lima.
Meletakkan tas-nya di meja baris ketiga. Gedung sekolah Sari juga sudah mulai
lapuk. Atapnya banyak yang bocor. Meja dan bangkunya reyot dan banyak
coret-coretan. Lantainya pecah-pecah. Debu mengendap di sela-sela pecahan
lantai. Saat angin bertiup, debu itu terangkat dan terbang ke udara. Kalau
masuk ke dalam hidung akan menyebabkan bersin-bersin.
Suatu
hari Pak Budi mengumumkan bahwa akan diadakan lomba Cerdas Tangkas antar SD di
kecamatan. Dan guru-guru akan memilih murid yang paling pintar dari anak kelas
lima dan kelas enam untuk mengikuti Cerdas Tangkas itu. Dan murid yang terpilih
harus mempersiapkan diri. Mereka harus lebih banyak belajar dan berlatih
mengerjakan soal. Lomba Cerdas Tangkas itu akan diadakan dua bulan lagi. Untuk
itu siswa yang terpilih nanti harus mempersiapkan diri dengan baik.
“Percuma
kita mengikuti Cerdas Tangkas itu. Kita pasti tak akan bisa menang.” Kata Jono
saat jam istirahat. Jono, Sari dan kawan-kawannya sedang mencari ubi di bekas
ladang dekat sekolah. Ubi itu akan mereka bakar. Jono dan banyak temannya
adalah anak orang miskin. Mereka tidak punya uang jajan. Makanya untuk
mengganjal perut mereka mencari ubi itu.
“Kenapa
kau bilang begitu, Jon?” tanya Arwin.
“Ya
jelas kita tidak akan sanggup mengalahkan sekolah lain. Gedung sekolah mereka
bagus, buku-bukunya lengkap. Banyak dari mereka anak orang kaya. Mereka
pintar-pintar. Melihat mereka saja kita sudah minder duluan.” Jelas Jono.
Kawan-kawannya mengangguk menyetujui pendapat Jono.
“Selama
ini kita memang tidak pernah menang. Kita selalu jadi urutan terbawah setiap
lomba Cerdas Tangkas.” Timpal Rendi.
“Makanya
kita harus belajar lebih giat agar bisa menang.” Sahut Sari.
“Tidak
mungkin kita bisa mengalahkan sekolah lain, Sar. Mereka jauh lebih dalam segala
hal. Lihat sekolah kita, sebentar lagi mungkin ambruk.” Kata Jono. Sari
terdiam. Percuma kalau membantah. Tapi dalam hati Sari bertekad, kalau dia
terpilih jadi peserta lomba Cerdas Tangkas itu, Sari akan berusaha melakukan
yang terbaik.
Keesokan
harinya Pak Budi mengumumkan bahwa yang akan mengikuti Cerdas Tangkas dari
sekolah mereka adalah Erna dan Ani dari kelas enam, serta Sari yang masih kelas
lima.
“Ayo
tepuk tangan dong. Kasih semangat buat teman kita yang mau bertanding.” Seru
Pak Budi. Murid-murid bertepuk tangan dengan enggan. Tidak ada dukungan
semangat. Mereka merasa sekolah mereka sudah kalah lebih dulu sebelum
bertanding. Melihat itu Sari, Erna dan Ani
tersenyum kecut. Walaupun begitu mereka berjanji akan berusaha
sebaik-baiknya. Ketiga murid yang terpilih itu berlatih sungguh-sungguh. Mereka
rajin mengerjakan soal-soal pelajaran. Guru-guru juga membantu dan mendukung
dengan baik. Pak Budi sering memberikan semangat membuat Sari, Erna dan Ani
semakin rajin dan bertekad melakukan yang terbaik.
Saat
pertandingan akhirnya tiba. Sari, Erna dan Ani sudah siap menjawab setiap
pertanyaan. Peserta dari sekolah lain juga tampak siap di samping mereka.
Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan. Sari, Erna dan Ani berusaha menjawab
dengan gesit dan benar. Tapi peserta dari sekolah lain juga tidak mau kalah.
Terjadi susul menyusul dalam perolehan angka. Tapi akhirnya Sari, Erna dan Ani
berhasil mengumpulkan angka terbanyak. Mereka bersorak kegirangan. Lalu
berpelukan penuh rasa syukur dan bangga. Sari, Erna dan Ani berhasil keluar
sebagai juara pertama.
Ketika
teman-teman mereka yang lain mendengar kabar kemenangan itu, banyak yang tidak
percaya. Tapi ketiga keesokan harinya Bapak Kepala Sekolah mengumumkan secara
resmi, semua murid bersorak kegirangan dan bertepuk tangan. Mereka menyalami
Sari, Erna dan Ani.
“Hebat
kalian..” puji Jono sambil menyalami ketiga temannya yang pintar itu.
“Makanya
tidak boleh menyerah sebelum melakukan usaha terbaik.” Sahut Sari.
“Benar,
Sar. Mulai sekarang aku akan belajar dengan rajin walau pun sekolah kita lebih
jelek dari sekolah lain.” Janji Jono.
Berkat
kemenangan dalam lomba Cerdas Tangkas itu, sekolah mereka jadi terkenal. Pada
suatu hari bupati datang berkunjung. Bupati memberi selamat atas kemenangan
sekolah itu dalam lomba cerdas tangkas. Bupati juga memerintahkan agar sekolah
itu diperbaiki dan jalan-jalan desa di aspal. Setelah diperbaiki, sekolah itu
jadi tampak megah dan indah. Sari dan kawan-kawannya semakin rajin datang ke
sekolah dan belajar dengan giat. Jalan-jalan desa juga sudah diaspal. Dengan
demikian, jalan itu sudah bisa dilalui kendaraan. Sari dan kawan-kawannya tidak
perlu lagi berjalan kaki ke sekolah. Sekarang mereka sudah naik angkutan desa.
Betapa senangnya hati Sari.
dimuat di harian analisa, 18des2011