Duka Hati Mei



Duka Hati Mei
Oleh: Elwin FL Tobing
            Hanya kepedihan yang membelit hati Mei. Rongga sunyi membelit di kegalauan hatinya. Ketika bus Intra AC itu semakin jauh meninggalkan pool Parluasan, semakin pekat pula gelimang perih mencabik-cabik dadanya. Tanpa terasa butir hangat menggenang di mata Mei, mengaburkan tatapnya pada gerimis yang merintik sepanjang jalan.
            Semula Mei berpikir, kepindahannya ke Medan akan membantunya meredakan gundah hati. Remuk hatinya akan susah dipulihkan kalau dia tetap di Siantar. Luka yang ditorehkan Dinand begitu tiba-tiba. Menghantam telak hingga membuatnya nyaris tidak mampu bernapas.
            Itu sebabnya, ketika seminggu lalu Regional Kasir tempat Mei bekerja meminta Mei mutasi ke Medan, Mei merasa ini adalah kesempatan bagi dia untuk menepis kabut duka yang merundung hari-harinya. Menjauh dari Dinand. Menjauh dari mess di Jalan Kartini yang banyak merekam saat-saat indah yang pernah mereka ukir bersama.
            Gerimis yang dingin kembali membawa Mei pada kejadian di malam menyesakkan itu. Malam sehabis menghadiri KKR (Kebaktian Kebangunan Rohani) di lapangan Adam Malik, Mei bersama Despin, Lia dan cowoknya Nando beranjak pulang setelah makan nasi goreng di Kafe Bule.
            Mei berjalan di depan, bercanda dengan Despin. Bagi Mei, bercanda dengan Despin adalah hal menyenangkan. Tingkah cowok jangkung yang agak kemayu itu selalu saja memancing deras derai tawa Mei. Sementara Lia dan Nando membuntuti dari belakang. Tiba-tiba dari arah depan, lampu sepeda motor menyorot silau kepada mereka. Mei yang merasa kesal berusaha meneliti si penegendara sepeda motor. Di terkejut mendapati wajah marah Dinand duduk tegang di sepeda motor yang hampir menabrak mereka itu.
            Dinand begitu terbakar. Setelah melemparkan sorot mata bergelimang api kepada Mei dan Despin (yang naasnya saat itu tengah memegang tangan Mei), Dinand melesat dengan deru sepeda motor menggeram merobek malam.
            Walau Mei tahu kalau Dinand tipe cowok pencemburu, tapi Mei tidak menduga kalau kejadian malam itu begitu fatal akibatnya. Dinand tidak menghiraukan penjelasan Mei. Berulangkali Mei menjelaskan kalau Despin hanya teman biasa, tapi Dinand tetap menggeleng, tidak bisa menerima. Cowok itu masih dipenuhi kobar api ketika meneriakkan kata putus kepada Mei.
            Mei terhempas. Keputusan Dinand yang begitu getas membuatnya seperti orang yang kehilangan akal. Dinand yang periang, Dinand yang suka bercanda, Dinand yang romantis, yang kerap duduk di sampingnya menyanyikan lagu cinta diiringi petikan gitar. Dinand yang dipujanya dengan sepenuh cinta, tega meninggalkannya?
            Bagi Mei, Dinand bukan hanya teman berbagi canda riang. Tapi cowok itu juga tempatnya berkeluh kesah. Tempat menyandarkan kepala sambil menceritakan segala persoalan yang merintangi kegembiraan Mei. Dinand tempat Mei berbagi rasa; tentang mama yang bolak balik keluar masuk rumah sakit akibat komplikasi yang dideritanya; tentang kakaknya yang habis kontrak kerja sehingga terpaksa pulang dari Batam; tentang bapak yang selalu menghabiskan waktunya di lapo tuak; tentang adiknya yang akan ikut ujian akhir SMA.
            Dinand, dengan kata-katanya yang lembut dan menghibur selalu mampu mengembalikan semangat Mei yang melemah. Canda Dinand di sela advis bijaknya selalu mampu menghadirkan senyum Mei yang sempat terkatup.
            Kini semuanya hancur. Lebur menyisakan debu. Mei tidak habis pikir, kenapa Dinand begitu membabi buta. Seminggu lalu Dinand melangkah angkuh di depannya bersama seorang cewek manis. Dinand….teganya!
            Di atas Intra yang melaju kencang menuju Medan, Mei berulangkali menghela napas. Sementara raganya semakin jauh meninggalkan Siantar, hatinya merentang menyatukan kedua jarak. Gamang menghindari sosok Dinand yang tidak mampu ditepis dari ruang matanya. Juga bayang mama yang terbaring lemah akibat deraan penyakit yang tidak berkesudahan.
            Betapa Mei ingin selalu dekat mama. Mendengar mama menyuruhnya menyediakan makan, memasak air panas untuk mandi akan menepis kepungan cemas di hai Mei. Sebaliknya Mei akan was-was kalau mama tidak bersuara dalam waktu yang lama. Dia takut kalau-kalau mama telah…ah!
            Andai saja Dinad masih miliknya, Mei tentu akan mengajukan penolakan pemindahannya ke Medan. Dia ingin tetap di Siantar. Agar sekali seminggu di saat libur kerja dia bisa pulang ke kampungnya di Panombeian menjenguk mama. Sepulang dari sana, dia bisa bersandar di bahu Dinand, bercerita tentang mama, kakak, bapak dan adiknya.
* * *
            Darah Mei berdesir keras. Entah kenapa, perasaannya mendadak sesak. Baru saja kakaknya menelepon kalau mama masuk RS lagi.
            “Nggak usah terlalu kamu pikirkan. Mama akan baik-baik saja,” kata Nora, kakaknya.
            Tapi anjuran itu tidak mampu menghilangkan keganjilan yang menghinggapi Mei. Bayangan mama yang merintih kesakitan tak bisa lepas dari benaknya. Pikiran-pikiran aneh merongrong menggelisahkan. Menakutkan hati menciutkan nyali.
            Tidak! Mei belum siap kehilangan mama. Dia masih ingin melihat mama. Memasakkan air untuk mandi dan menyuapi makan. Memijat kakinya, mendengarkan senandungnya menyanyikan lagu gereja.
            Belum lama Mei telah kehilangan Dinand, yang mengakibatkan separuh jiwanya serasa lepas. Membuat bayangan indahnya tentang keluarga mungil masa depan mendadak kandas. Di saat kakinya masih sempoyongan melangkah, akan sanggupkah dia kehilangan satu lagi orang yang dia kasihi? Mei mengeluh lirih. Di tengah kekalutan hati, dia bisikkan sebaris doa. Kiranya Tuhan jangan dulu memanggil mama…
            Tapi tiga hari kemudian gelegar itu menyambar.
            Kak Nora dengan suara tercekik menahan tangis memberitahukan lewat telepon kalau mama sudah berpulang. Rasanya kepala Mei seperti dibenamkan ke gelimang asap pekat. Dunia tiba-tiba kelam, menyesakkan, memerihkan, menguras seluruh energi di tubuh Mei. Dia lunglai. Pingsan dalam pelukan Neneng, teman sekantornya.
            Di dalam taksi carteran yang membawa Mei dari Medan ke Siantar, lalu merayapi jalan sempit bergelombang menuju desanya di Panombeian, Mei tidak hentinya mengucurkan air mata. Tubuhnya letih menahan siksaan duka.
            Sesampai di desa, histerisnya tak terbendung, saat dia melihat kerumunan warga desa di depan rumah, semakin menegaskan berita duka yang tadinya belum sepenuhnya dia percayai. Ternyata mama benar-benar meninggal. Mama sudah tiada. Wajah ayah, kak Nora dan adiknya tersaput lara mencekam. Para warga desa yang memenuhi rumah semua menunduk muram. Aroma maut menebar tajam, seolah mengancam. Mei pingsan berulang-ulang.
            Ketika besoknya mama diantar ke tempat peristirahatan terakhirnya, Mei memilih tinggal di rumah. Dia tidak tega menyaksikan tubuh mama ditimbun di bawah tanah. Membayangkannya saja telah membuat Mei merintih-rintih seolah hatinya ditelusupi ratusan duri. Saat seperti itu, Mei rasanya ingin ikut mati.
            “Mei…,” kak Nora menepuk pipi Mei yang tengah termenung di bangku tua depan rumah, tempat mama biasa duduk setiap sore. Mama telah dikebumikan kemarin. Dan pagi itu, tampak orang-orang desa bergotong royong membongkar tenda di depan rumah.
            “Mei…, itu siapa? Temanmu ya?” tunjuk kak Nora ke arah seorang pemuda yang sedang turun dari tiang tenda.
            “Sejak mama meningggal, pemuda itu rajin sekali membantu-bantu. Dia juga membelikan rokok pemuda-pemuda sini.”
            Mei berusaha mengumpulkan kesadarannya. Selama tiga hari ini, dia sama sekali tidak peduli kepada siapa pun yang lalu lalang di sekitarnya. Bahkan orang-orang yang menyalaminya untuk mengucapkan turut berduka cita tak seorangpun dia ingat. Gelombang duka yang menyapu dirinya membuatnya tidak mampu memikirkan hal lain selain: mama telah tiada.
            Pagi ini, ketika hunjaman lara mulai berkurang beratnya, pikiran Mei mulai bisa diajak menelaah. Dia menatap pemuda yang ditunjuk kak Nora. Tapi, saat itu si pemuda tengah menunduk membelakangi Mei dan kak Nora untuk merapikan tali tenda. Mei menduga-duga. Siapa gerangan pemuda itu. Sepertinya dia…
            Ketika pemuda itu berbalik, Mei pun mengenali. Bola matanya menyipit diiringi seruan tertahan.
            “Despin…?”
            Despin menoleh. Tatap mereka bertemu. Lalu Despin meletakkan tenda dan menghampiri Mei. Wajah pemuda itu tampak memendam simpati yang dalam.
            “Turut berdukacita ya, Mei.” Despin menyalami Mei dan kak Nora.
            Mei mengangguk kecil sambil matanya tak lepas memandangi Despin yang tampak kumal dengan wajah yang terlihat sangat lelah.
            “Selama tiga hari ini kamu di sini, Pin?” tanya Mei serak.
            Despin mengangguk kikuk. “Bantu bantu,” jawabnya.
            “Memangnya kamu nggak kerja?”
            Despin tersenyum ihklas. Dia mendekatkan mulutnya ke telinga Mei. “Calon mertuaku meninggal, masa aku masih mementingkan pekerjaan?” bisiknya lembut.
            Dada Mei berdesir lembut. Ditatapnya wajah Despin yang kelihatan salah tinggah setelah mengucapkan kalimat tadi. Mei melongo. Kepalanya yang masih disesaki beban duka seperti belum mampu mencerna sepenuhnya kalimat Despin.
            “Aku mencintai kamu, Mei. Bahkan ketika kamu masih milik Dinand, diam-diam aku telah memendam cinta padamu. Maafkan kalau disaat tidak tepat begini aku ungkapkan perasaanku,” bisik Despin dengan wajah takut-takut.
            Tapi reaksi Mei masih seperti tadi. Mematung dengan wajah bingung. Despin menghempas napas, menyesal telah kelepasan cakap.
            “Oh iya, Mei. Aku harus kembali kerja, tendanya belum beres tuh.” Despin berbalik canggung menuju tenda yang sebenarnya hampir selesai dikerjakan orang-orang desa.
            Mei menatap punggung orang yang selama ini hanya dia anggap teman biasa itu. Membolak-balik dalam hati kalimat yang tadi dibisikkan Despin. Menyadari perhatiannya, pengorbanannya, cintanya. Cinta? Seketika ada yang bersiur di dada Mei. Hangat.
            Kak Nora kemudian menepuk pundaknya pelan.
            “Hei, Serius amat menatapnya. Siapa sih?” senyum pertama yang terbit di wajah kakanya sejak mama meninggal itu menerbitkan sepercik riang di hati Mei. Duhai! Betapa dekapan duka itu mulai merenggang. Semoga itu pertanda mama sudah sampai di pintu sorga, harap Mei dalam doa yang lirih.
            “Ditanya kok senyum-senyum. Pacarmu ya?” ulang kak Nora.
            “Nggak kok! Biasa, fans!” jawab Mei sok cuek.
            “Hu…gayamu.”
            Lalu tawa lirih kakak beradik itu berderai di pagi yang semakin benderang.  Di sana, Despin berdiri salah tingkah. Firasatnya berkata kalau tawa itu tentang dirinya. Tapi kalau itu membuat gadis yang dicintainya bisa sejenak meretas duka, biarlah…..
           
dimuat di harian analisa, 20juli2008

0 Responses