Angkot Tua Berwarna Cinta (3)


Angkot Tua Berwarna Cinta
Oleh: Elwin FL Tobing
Bagian 3. Bang Sopir

Rizki benar-benar lenyap. Tak ada sms atau telepon, apalagi ngapel. Imah juga tak berniat untuk memberi kabar. Dia tak ada meng-sms, menelepon, apalagi ngapelin Rizki ke rumahnya. Ih, ogah! Walau hatinya rindu, tapi nasehat orang-orang disekitarnya perlu juga dipertimbangkan. Untuk apa dia mempertahankan cintanya pada Rizki. Dewasa dong, Imah! Jangan lagi mau dijajah ketampanan dan kekayaan pria. Lagi pula kan bapak Rizki yang kaya, bukan dia. Sudahlah. Lupakan saja cowok kurang ajar itu!
Pagi bertabur gerimis. Imah belari-lari kecil sambil menudungkan sebelah tangannya di atas kepala, sementara tangan yang sebelah lagi mendekap tas kuliah. Sia-sia saja dia berharap jemputan Rizki. Cowok itu pasti tak akan datang menjemputnya .Juga tak akan mengantarnya pulang nanti. Sudahlah. Biarkan saja. Imah juga tak terlalu berharap lagi pada cowok itu.
Imah berhenti di bawah pohon pinggir jalan menunggu angkot. Tidak lama kemudian sebuah angkot tua mendekat. Ima melambai. Angkot itu berhenti. Gerimis makin deras. Imah sontak melompat, menyusupkan tubuhnya ke dalam angkot.
“Mau kuliah ya?” sapa bang sopir ramah. Imah seperti mengenali suara itu. Abang sopir yang kemarin..?
“Eeh..Bang Anto..! Iya, Bang. Imah mau kuliah,” Imah membalas tak kalah ramah. Ya, Bang Anto adalah sopir yang kemarin datang mengembalikan hp Imah. Orangnya masih muda. Tebakan Imah, umurnya mungkin sekitar 24-25 tahunan. Pembawaannya tenang. Wajahnya juga lumayan. Andai saja dia bukan sopir angkot, Imah rasanya ingin menjajaki kemungkinan menjadikannya kandidat pengganti Rizki yang terancam DO dari hatinya. Angkot yang dikendarai Bang Anto meluncur perlahan. Angkot itu kerap berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang.
“Terima kasih, Bu,” ucap Bang Anto pada seorang ibu yang baru turun. Ucapan terima kasih selalu terlontar dari bibirnya setiap menerima ongkos. Banyak penumpang yang akrab dengan Bang Anto. Sepanjang perjalanan, mereka tak putus-putusnya terlibat obrolan ringan. Penumpang Bang Anto juga tak henti turun naik. Sepertinya mereka sudah langganan. Terbukti angkot yang kerap menyalip Bang Anto diabaikan saja oleh calon penumpang yang berdiri di pinggir jalan. Mereka baru melambai ketika angkot tua Bang Anto mendekat.
Imah senyum-senyum melihat Bang Anto yang dikerubuti ibu-ibu. Ah, rupanya bang sopir ini punya pribadi yang menyenangkan, terutama di kalangan ibu-ibu penumpang angkot, he he…
Imah mulai mempercayai ketulusan laki-laki itu. Kemarin, ketika Bang Anto tidak mau menerima imbalan setelah mengembalikan hp Imah, gadis itu sempat berpikiran macam-macam. Jangan-jangan itu hanya tipuan untuk menyelidiki rumah mereka. Lalu nanti malam dia akan membongkar dan menguras harta keluarga Imah. Atau, sopir itu ingin mengambil hati Imah, dangan niat ingin melamarnya jadi istri, atau bisa jadi…
Tapi semua sangkaan buruk itu mulai pudar dari hati Imah.
“Terima kasih ya, Imah,” ucap Bang Anto menerima ongkos Imah.
“Sama-sama, Bang,” gadis itu sempat grogi melihat senyum Bang Sopir. Duh Bang Anto. Kenapalah kau jadi supir angkot. Jadi eksekutif muda kenapa, Bang...
Senyum Imah berkibar-kibar saat memasuki halaman kampus. Entah kenapa, hatinya terasa ringan. Bayangan Bang Anto…..olala, Bang Anto lagi, Bang Anto lagi.
“Serangga, tunggu..!” Maya mengejar langkah Imah.
“Heh, jelek, asal saja manggil aku serangga. Perasaan kau tidak lebih gemuk dari aku.”
Maya tergelak, “Kata siapa? Dari jauh kau mirip belalang sembah yatim piatu. Kuruuussss…seperti tak ada yang ngurus”
“Ini bukan kurus, tapi singset, ngerti?” Imah tidak mau kalah, berucap seraya memutarkan badannya bak peragawati di atas catwalk. Beberapa cowok yang melihatnya kontan bersuit-suit. Imah cuek. Kembali melenggang bersama Maya menuju kelas.
“Benar tidak sih ceritamu di telepon? Kau kok tidak terlihat seperti orang yang habis dilempari di tengah jalan. Lebih mirip cewek abg dapat ciuman Pasha di konser Ungu.”  tanya Maya heran.
“Pasha sih tak ada apa-apanya dibanding Bang Anto. Ups….” Imah buru-buru menutup mulut sembari melirik Maya. Malu.
“Oohh…jadi Bang Anto namanya. Gara-gara dia, kau dan Rizki berantam, begitu? Kau dong yang salah, kenapa selingkuh?” tuduh Maya.
“Bukan begitu maksudku. Siapa yang selingkuh? Sembarangan saja nuduh!” Imah gelagapan. “Bang Anto itu....Ah, lupakan saja. Tidak penting.”
“Ya penting dong. Jelaskan, siapa itu Bang Anto,” 
“Tukang nasi gurih,” jawab Imah asal.
“Tukang nasi gurih?”
“Ia. Mungkin adik penjual nasi gurih langgananmu. Orangnya juga keren, kayak langgananmu itu he he..” Imah merasa menemukan celah untuk berkelit. Tapi Maya tak bergeming. Sambil jalan bersisian, dia tetap melirik penuh curiga pada Imah. Walau dia tak berkomentar lagi, tapi hatinya telah menyimpan tuduhan. Dia berencana mencari bukti-bukti dan saksi untuk menguatkan kecurigaannya. Setelah semua lengkap, baru dia akan menghadapkan Imah ke pengadilan, he he…
Di dekat perpustakaan, Imah memergoki Rizki sedang ber haha hihi dengan Ulfi. Begitu melihat Imah, cowok itu makin menjadi. Suara tawanya makin keras. Dibuat-buat. Maya menahan lengan Imah. Siap mencegah ledakan amarahnya. Tapi tidak jadi. Imah hanya sekejap tergagap. Setelah itu dia terlihat santai saja, melewati keduanya seolah Rizki dan Ulfi tak pernah ada di situ.
Pulang kuliah, Rizki sengaja menunggu Imah keluar dari ruangan. Begitu melihat bayangan gadis itu, Rizki lalu menghidupkan sepeda motornya dan membonceng Ulfi. Sengaja dia mengegeber-geber gas untuk menarik perhatian Imah. Imah menggigit bibir untuk meredam gemuruh hati. Melihat Ulfi menumpangkan tangannya ke paha Rizki tak urung membuat Imah cemburu. Ingin dia merenggutkan cewek itu dari boncengan. Tapi sebelum sempat mewujudkan niatnya, pasangan sengak itu telah melesat keluar areal kampus. Meninggalkan debu dan hati Imah yang menderu-deru terbakar api cemburu.
Imah melangkah lunglai ke halte di depan kampus.sendirian. Maya sudah pulang duluan dibonceng Rio. Imah malas-malasan melambaikan tangan pada angkot yang mendekat. Angkot itu berhenti. Imah melirik ke depan. Sopirnya bukan Bang Anto. Imah mendesah. Duduk di angkot dengan hati gelisah. Gerimis mulai turun siang itu.
bersambung ke Bagian 4
"Cemburu Ya..?"





0 Responses