Kereta Janri



Kereta Janri
Oleh: Elwin FL Tobing

            “Jaman sekarang, kalau nggak punya kereta susah dapat cewek,” ungkapan itu seperti denging nyamuk di telinga Janri, sangat mengganggu. Tapi pendapat yang belum jelas kebenarannya itu malah mentah ditelannya. Memaksa dia mencari akal, bagaimana dalam waktu dekat ini dia bisa memiliki kereta. Dia sudah bosan menjomblo. Lima tahun sudah hari-harinya berlalu tanpa cerita cinta mewarnai.
            Janri lalu mulai menghitung-hitung. Untuk DP dia mengharap dari pinjaman koperasi di tempat kerjanya di sebuah supermarket. Lalu bulanan kereta itu akan dia sisihkan dari gajinya. Sisanya untuk keperluan sehari-hari, seperti bayar kos, uang makan, rokok….Janri miris sendiri. Uang yang tinggal setelah dipotong cililan koperasi dan angsuran kereta hanya tersisa kurang lebih tiga ratus lima puluh ribu rupiah. Bagaimana dia harus melanjutkan hidup? Untuk bayar kos dan makan sebulan saja jumlah itu sudah tidak cukup. Gaji yang hanya sedikit di atas UMR  itu tidak berdaya menolongnya untuk mewujudkan angan.
            “Kalau pakai perhitungan begitu ya nggak jadi-jadi,” tukas Rizki, “ambil saja dulu keretanya. Urusan yang lain pikirkan belakangan.”
            “Jadi makan apa aku nanti?”
            “Alah, makan kok dipusingkan. Kayak bukan laki-laki saja kau’”
            Dicerca seperti bukan laki-laki melecut kenekatan Janri. Bayangan dirinya membonceng gadis cantik dengan kereta baru semakin menyilaukan angan-angannya. Segala keperluan lainnya seolah terpinggirkan.
            Janri gencar mencari informasi. Banyak showroom dia datangi. Setiap brosur dia teliti. Hingga perbedaan angsuran yang cuma beberapa ribu terdeteksi oleh mata tajamnya. Semua jenis kereta dia pertimbangan. Dari jenis bebek hingga RX King keluaran terbaru.
            “Memangnya kau mau beli King?” potong Donal dengan nada melecehkan. Janri terdiam, menimbang-nimbang.
            “Mantap juga kalau naik ini ya,” oceh Janri dengan mimik mabuk kepayang.
            “Kau sanggup?” nada Donal tetap merendahkan. Dia mengerling tidak sabar pada Janri yang tekun mendata angka-angka dalam brosur di tangannya. Tapi kemudian Janri tersenyum pasrah.
            “Nggak sangguplah kalau King,” dia berucap.
            Akhirnya Janri mengambil kereta jenis bebek. DP 2 juta dan angsurannya lima ratus ribu lebih sedikit sebulan selama tiga tahun. Sore sepulang kerja, dia langsung keliling kota Siantar dengan mengendarai kereta barunya yang belum memiliki nomor polisi itu. Meliuk-liuk genit, karena sore itu banyak sekali gadis-gadis belia bertebaran di sepanjang jalan. Janri juga rajin merapat kalau melihat kereta yang dikendarai cewek abg. Dengan royal dia menebar senyum, berharap si cewek juga berkenan membalas senyumnya. Tapi kebanyakan cewek-cewek itu malah mendengus sebal. Kaget karena dipepet tiba-tiba. Kalau tersenggol kan bahaya! Bisa terjatuh, lalu kemudian digilas oleh kendaraan yang menyusul di belakang. Ih, mengerikan. Pantas saja ‘jurus merapat di tengah jalan’ Janri tak mendapat sambutan.
 Sekitar pukul tujuh malam dia membelok ke arah Sutomo square. Matanya yang tajam segera mendeteksi dua orang gadis yang sedang menunggu pesanan nasi goreng. Janri mengarahkan keretanya ke sana. Mudah-mudahan gadis itu tidak malu-malu meminta tolong diantar pulang, harap hati Janri. Setelah memarkirkan kereta, Janri duduk di dekat kedua gadis itu. Otaknya sibuk mengolah kata-kata perkenalan. Ngomong apa ya? Oh, ini aja.
“Beli nasi goreng ya, Dek?” Janri menegur, tak ketinggalan senyum manisnya bertabur. Gadis yang paling dekat dengan Janri mengangguk. Sejenak dia melirik ke arah Janri, tapi sejurus kemudian gadis itu mengalihkan tatap pada penjual nasi goreng yang sedang sibuk meracik bumbu.
“Nasi goreng sini enak, ya,” lanjut Janri. Sayang, kali ini tak satu pun dari gadis itu yang menanggapi. Tapi Janri tidak patah arang. Kereta baru yang berdiri angkuh di dekatnya begitu banyak menumbuhkan semangatnya. Pesanan gadis itu selesai. Keduanya beranjak. Janri buru-buru mengikuti. Oups! Si gadis paling depan terlihat melepaskan cagak kereta ninja yang terparkir dekat warung nasi goreng itu. Nyali Janri seketika ciut. Busyet.., naik ninja coy! Dengan malu Janri meninggalkan arena perburuan yang tidak bersahabat itu.
Besoknya Janri kembali berkeliling. Kali ini dia memutari lapangan Adam Malik. Sekeliling lapangan tampak ramai, maklum malam minggu. Tukang sate padang dengan ramah melayani para pembeli yang rata-rata anak muda. Tukang teh botol juga tak kalah sigapnya mengantarkan pesanan. Janri bergerak lambat, matanya berputar mencari mangsa. Nah, itu dia! Serombongan cewek tampak mengerumuni tukang jagung bakar. Janri menepi. Sebentar dia menepis-nepiskan debu dari jok kereta barunya. Dasar debu kurang ajar, sembarangan saja nempel di Janri punya jok kereta. Nggak tau apa ini kereta baru, usir Janri memarahi debu-debu nakal itu.  Setelah meneguhkan tekad, dia merapat.
“Auuu…” jerit cewek ayu yang paling dekat dengan Janri.
“Ups..!” Janri buru-buru mengangkat kakinya dari jempol si cewek, “sorri ya, Dek, nggak sengaja,” ucapnya harap-harap cemas. Mudah-mudahan trik ini manjur, harap Janri dalam hati. Si cewek merengut. Temannya ikut-ikutan cemberut.
“Maaf ya. Aku benar-benar nggak sengaja, benar!” mohon Janri dengan takjim.
“Abang kalau jalan lihat-lihat, dong,” tukas teman si cewek yang terinjak.
“Maaf lah, Dek. Aku haus kali, buru-buru mau beli aqua,” Janri beralasan.
“Tukang aqua kan sebelah sana, Bang! Koq Abang bisa nyasar nginjak kaki orang disini?” si cewek makin sebal. Janri salah tingkah.
“Jadi nggak mau maafin aku, nih,” keluh Janri sedih.
“Lebih baik abang buru-buru cabut deh. Sebal, tahu nggak,” sentak si cewek seraya mengibaskan tangannya yang kurus.
Janri pasrah. Dia beranjak diiringi gerutuan rombongan cewek manis itu.
Sebulan sudah Janri melakukan perburuan. Perjalanan sudah panjang. Entah berapa kali keretanya masuk lobang, dua kali sudah dia diserempet becak, tapi tak satu pun gadis yang diincar ihklas dibonceng pulang. Hm, mungkin penampilan keretanya kurang garang. Janri lalu menambal body keretanya dengan sticker hitam. Lalu menindihnya lagi dengan sticker rokok. Dia mencopot kaca spion. Mengganti knalpot kalemnya dengan knalpot yang meraung-raung.

“Berisik amat sih, Bang? Norak tau nggak! Bawa sana jauh-jauh kereta rombengmu” sentak cewek manis yang sedang membeli rujak di dekat sekolah. Janri yang sengaja menggeber-geber gas di dekatnya seketika terdiam pucat. Janri tambah sengsara saat bertemu Fand, teman kerjanya, melintas di jalan Cokro berjalan kaki dengan seorang cewek cantik. Pasti si Fandi pakai pelet memikat cewek itu. Masa mau saja diantar jalan kaki di jaman serba kereta ini? gerutu hati Janri sepenuh dengki.
Senja memakin hitam. Lampu-lampu mulai berkedap-kedip mengambil alih penerangan kota dari matahari yang letih dan memilih beristirahat di balik bukit. Janri tegak mematung di depan sebuah toko kaset yang menyetel lagu rap dari grup Neo.
…jangan lihat cowok lain punya cewek cantik lo iri
Mungkin dia memang pria sejati
Yang pdkt sama cewek lewat hati….
Tiga bulan kemudian petugas showroom menarik kereta Janri. Janri pasrah. Dia kan mencoba saran penyanyi itu. pendekatan lewat hati. Siapa tahu Neo benar. Mudah-mudahan..   
  Siantar, Januari 2008 

Dimuat di Harian Analisa, 1April2012

0 Responses